TNI Bekali Siswa Baru di Lamsel dengan Wawasan Kebangsaan
LAMPUNG — Generasi penerus bangsa yang ada di sekolah mulai SD hingga SMA, sebagai embrio penerus bangsa di masa mendatang, sudah semestinya menerima pembekalan dalam hal sikap dan penghayatan cinta tanah air, wawasan kebangsaan dan bela negara, seperti termaktub dalam UUD 1945, Pasal 30, yang berisi hak dan kewajiban warga negara.

Hal demikian diungkapkan Kapten Norizwan Tamin, Komandan Komando Rayon Militer 421-08/Palas saat memberikan materi pembekalan kepada ratusan peserta didik dari dua sekolah di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, yakni SMA Ma’arif NU Bumirestu dan SMK PGRI Bumidaya, Kecamatan Palas.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Cendana News, peserta didik yang masih mengikuti masa orientasi /pengenalan lingkungan sekolah harus mendapatkan materi cinta tanah air, wawasan kebangsaan dan belanegara di tengah menurunnya rasa nasionalisme dan bahaya paham radikalisme yang saat ini rentan memasuki generasi muda.
Pembekalan kepada siswa-siswa yang lulus dari jenjang SMP dan memasuki masa SMA menjadi hal penting untuk membentengi generasi muda dari berbagai godaan yang muncul dari kecanggihan teknologi serta kemudahan di zaman modern ini.
“Saat ini sebagai warga negara NKRI, kita menyadari banyak tantangan generasi penerus bangsa dalam berbagai hal dan dimulai dari jenjang SD hingga SMA, bahkan dalam kehidupan bermasyarakat mulai penyalahgunaan narkoba tanpa pandang bulu hingga paham anti Pancasila,” terang Kapten Norizwan, Selasa (18/7/2017).
Pada pembekalan ratusan siswa yang akan memasuki jenjang SMA/SMK, Kapten Norizwan juga menyebut bahaya narkoba di ujung Selatan Pulau Sumatera sebagai perlintasan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sangat perlu diwaspadai. Bahaya narkoba tersebut selain menjadi sarana bangsa lain menghancurkan generasi muda bisa terlihat dengan pengiriman sebanyak 1 ton shabu shabu yang digagalkan oleh aparat keamanan di Banten.
Bahaya akan narkotika dan obat-obatan berbahaya saat ini, dikatakan bahkan tidak mengenal tempat dan sasaran dan bisa merasuki anak-anak bangsa dari level anak SD hingga mahasiswa, birokrasi pemerintahan, pemuka agama, legislatif tak pandang strata. Berbagai pemberitaan terkait orang-orang penting, publik figur terjerat narkoba sekaligus menjadi daftar panjang akan bahaya penyalahgunaan narkoba tersebut.
Kapten Norizwan pun mengingatkan para siswa yang mengikuti masa pengenalan sekolah di SMA Ma’arif NU Bumirestu dan SMK PGRI Bumidaya Kecamatan Palas, agar menyadari derasnya informasi menyesatkan atau dikenal dengan hoax dari media sosial yang belum tentu kebenarannya, bahkan bisa memecah-belah keutuhan NKRI. Selain itu berbagai tindakan asusila hingga tindakan tidak terpuji menjadi dampak dari penggunaan media sosial yang tak terbendung.
Anak-anak remaja sebagai generasi penerus yang suatu saat berperan pada jajaran eksekutif, legislatif dan yudikatif juga pada perusahaan swasta atau BUMN haruslah memiliki rasa memiliki dan cinta NKRI ini. Saat ini, seperti yang terlihat dan didengar, para pemangku kewenangan sudah banyak melenceng dari tugas dan tanggung jawab dengan adanya korupsi yang merugikan bangsa dan masyarakat.
“Rasa cinta tanah air bukan hanya menjadi tugas saat kita dewasa, tetapi harus mulai ditanamkan sejak dini bahkan dimulai dari masa awal jenjang sekolah yang harus diingat sebagai warga negara”, ungkap Kapten Norizwan.
Ia juga menyebut, generasi muda harus melihat contoh buruk dari para pemangku jabatan yang terjerembab masuk penjara dikarenakan mentalitas moralnya yang bobrok, di antaranya korupsi. Selain melakukan tindakan tak terpuji dan merugikan, sekarang ini banyak orang mengaku pintar namun tidak hafal lagu Indonesia Raya yang selalu mengiringi berkibarnya Sang Merah putih akibat rasa kecintaan pada NKRI sudah menipis.
Ia berpesan kepada ratusan siswa dua sekolah SMA dan SMK di Kecamatan Palas, jika suatu saat menjadi pejabat jangan hanya memandang NKRI ini dari sudut pandang negara luar yang budaya masyarakatnya jauh berbeda dengan bangsa Indonesia.
“Mencintai NKRI bisa dilakukan dengan mencintai budaya sendiri dalam segala aspek termasuk cara berpakaian dan menggunakan produk dalam negeri jadi bukan hanya hal hal besar untuk membela negara”, tegas Kapten Norizwan.
Ratusan peserta didik dari dua sekolah di Kecamatan Palas yang memasuki masa pengenalan sekolah atau memasuki Kelas X selama sepekan tersebut juga didampingi oleh dewan guru dan dihadiri oleh pimpinan Pondok Pesantren Rhudatul Sholihin, Saleh Bajuri, dan siswa Kelas XI dan XII dalam menerima materi.
Kapten Norizwan Tamin berharap pembekalan cinta tanah air dan wawasan kebangsaan dan bela negara tersebut tidak hanya diberikan oleh Danramil, melainkan juga oleh para guru, khususnya di SMA NU Ma’arif.