Masuk Peta Wisata Dunia, NTT Gencar Promosi

MAUMERE – Masuknya Provinsi NTT dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Kelimut, Komodo, wisata religi Semana Santa, Ikan Paus, alam bawah laut Alor, Kampung Adat Bena dan lainnya, membuat Pemerintah Provinsi NTT gencar menggalakan even pariwisata.

Marius Adu Jelamu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (kiri) bersama Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar. -Foto : Ebed de Rosary

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Marius Adu Jelamu, saat konferensi pers di media center Tour de Flores di Kantor Bupati Sikka, Jumat (14/7/2017) sore, mengatakan, Provinsi NTT saat ini masuk dalam peta perjalanan dunia, sehingga membuat pemerintah provinsi dan kabupaten termotivasi untuk mempromosikan semua destinasi wisata dan ekonomi kreatif di tiga pulau besar, yakni Flores, Sumba dan Timor.

“Kita semua sudah tahu, Komodo dipilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia, top ten destination in the world. Maka, sebagai Kadis Pariwisata NTT, saya berusaha dengan para bupati dan walikota se-NTT, menjual berbagai potensi yang ada di mana salah satunya dengan sport tourism”, kata Marius.

Untuk even balap sepeda, terang Marius, di Indonesia timur hanya ada di Flores, sehingga ini salah satu cara pemerintah dibantu rekan-rekan swasta menjual destinasi wisata, di mana beberapa hari lalu diciptakan branding baru di Sumba, Parade 1001 Ekor Kuda, yang dihadiri Bapak Presiden Joko Widodo.

“Ribuan orang berkumpul di Kota Larantuka, tidak hanya  datang dari dalam kota, tapi juga dari desa, yang mana orang desa akan ke kota menjual hasilnya  dengan cepat, karena informasi dan transportasi bagus. Dengan adanya TdF, bisa membantu membangun infrastruktur jalan dan jembatan,” tegasnya.

Menurut Marius, perhelatan TdF memiliki nilai yang perlu digali, dan merupakan bagian dari upaya diplomasi budaya internasional, di mana dengan pertemuan atlet antar etnik dan budaya, ikut serta menciptakan perdamaian dunia.

Dengan berkumpulnya pembalap-pembalap dunia, lanjut Marius, kita sedang melakukan proses akselerasi budaya, yang efek politiknya sangat besar, dan ini mempertaruhkan martabat bangsa, karena  perwakilan dari negara di dunia yang ada di dalam para pembalap ada di Flores.

“Nilai lainnya, bagaimana kita ciptakan persaudaraan di antara kita, baik sesama anak bangsa maupun warga negara lain, dan menjual pariwista tidak hanya jual desitinasi, tapi juga keramahan orang Flores dan NTT,” tegasnya.

Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, menjelaskan, pada 2015, sekitar 39.000 lebih kunjungan ke Sikka, tetapi tahun ini telah ada 3 even besar, yaitu TdF, foto bawah laut, Teluk Mamuere, menyebakan jumlah kunjungan wisatawan meningkat.

Pemerintah Daerah Sikka mengeluarkan dana 1 miliar rupiah, tapi dana tersebut dibelanjakan kembali ke masyarakat Sikka, seperti sewa hotel, beli sovenir, makanan dan minuman dan lainnya.

Nong Susar mengatakan, sudah saatnya semua daerah di Flores bersatu, agar bisa secara bersama mempromosikan Flores dengan sebuah branding yang kuat, yang bisa mengangkat nama Flores semakin berkibar dan menjadikan wisatawan datang menyaksikan keindahan alam serta adat, budaya dan ritualnya.

“Semua kita harus bersatu dalam mempromosikan Flores, sebab sudah tidak saatnya kita melakukannya secara parsial, tetapi harus membawa nama Flores,” pungkasnya.

Lihat juga...