Kopdit Pintu Air di Sikka Berjuang Raih Peringkat Dua Nasional
MAUMERE – Koperasi Kredit Pintu Air yang didirikan oleh 50 orang pada 1 April 1995, di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, kini menempati peringkat tiga nasional untuk jumlah anggota.
Posisi akhir Juni 2017, jumlah anggota riil di Kopdit Pintu Air sebanyak 158.776 orang, dan posisi pinjaman 586 miliar rupiah. Sementara simpanan 356 miliar rupiah serta koperasi ini sudah hadir di 22 kabupaten dan kota di Provinsi NTT, serta beberapa provinsi lain seperti NTB, Papua dan lainnya. Demikian disampaikan Yakobus Jano, Ketua Kopdit Pintu Air, Rabu (12/7/2017).
Di katakan Yakobus, kredit union tumbuh karena ada kesadaran anggota, di mana anggota sekaligus menjadi pemilik lembaga koperasi kredit dan yang utamanya di koperasi kredit ada 4 pilar penting, yakni pendidikan, solidaritas, swadaya dan inovasi. sehinga koperasi benar-benar bertumbuh.
“Sehingga bila dikatakan NTT sebagai provinsi koperasi, maka itu benar adanya. Sebab, banyak koperasi kredit di NTT yang semakin berkibar dan berani berjuang mencapai level nasional,” ungkapnya.
Menurut Yakobus, kesadaran masyarakat di Sikka dan NTT saat ini untuk menjadi anggota koperasi juga semakin baik, dan ini berkat adanya beberapa koperasi kredit besar yang melakukan ekpansi usaha di seluruh wilayah NTT. Masyarakat juga sudah mulai merasakan manfaatnya bergabung dengan koperas,i bila dibandingkan dengan bank. Sebab, di bank bila meminjam uang maka jaminan atau agunan adalah barang, sedangkan di koperasi jaminannya adalah anggota itu sendiri.
“Kalau di bank bila meminjam uang jaminannya berupa barang dan membayar pokok dan bunga merupakan kewajiban, sementara di koperasi jaminannya adalah manusianya, sehingga dia harus bertanggung jawab mengembalikan pinjamannya,” ungkapnya.
Mantan pegawai BRI Maumere ini, juga mengatakan, mimpi besar Kopdit Pintu Air di mana yang bergabung menjadi anggota harus sejahtera jasmani dan rohani dan harus dimulai dengan mengalihkan budaya pesta pora menjadi budaya menabung.
Saat ini, sebut Yakobus, masyarakat kalau membutuhkan uang baru mencari pinjaman sana sini, padahal bila membutuhkan uang, maka harus ada kesadaran untuk menabung, sehingga akan tumbuh kemerdekaan dalam dunia keuangan.
“Selama ini kita sepertinya dibelenggu dan dijajah oleh pengusaha. Sebab kita selalu merasa kekurangan uang, karena budaya menabung itu belum tertanam dengan baik di benak masyarakat,” sebutnya.
Untuk ukuran asset, lanjut Yakobus, Kopdit Pintu Air berada di peringkat enam nasional, sementara untuk jumlah anggota menempati peringkat ketiga nasional dan memang targetnya menempati peringkat dua nasional menggeser koperasi Lantang Tipo Kalimantan Barat.
Kopdit Pintu Air juga sudah merambah ke sektor bisnis lain seperti swalayan, media, sewa kendaraan dan lainnya, sebab anggota koperasi meminjam dana untuk membeli kebutuhan hidupnya, sehingga pihaknya berpikir kenapa mereka tidak membeli di usaha milik Kopdit Pintu Air saja, bukan di tempat lain.
“Anggota harus merasa memiliki, bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya koperasi ini serta menjaga martabar dari lembaga ini, sehingga koperasi ini bisa menjadi kebanggaan bagi anggota dan pihak lain,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang anggota koperasi Pintu Air Wall Abulat yang ditanyai Cendana News mengakui, setelah bergabung menjadi anggota Kopdit Pintu Air dirinya merasakan manfaat yang sangat besar. Dengan jumlah simpanan yang ada, dirinya bisa meminjam untuk membangun rumah tinggal dan setiap bulannya dirinya harus mencicil dengan jumlah ccicilan yang terjangaku dan bunganya pun rendah.
“Menjadi anggota koperasi manfaatnya besar sekali. Kita diajarkan untuk menabung dahulu baru setelah itu kita meminjam dan anggota juga sekaligus menajdi pemilik lembaga ini. Keuntungan lainnya, sebagai anggota akan mendapatkan pembagian Sisa Hasil Usaha, meski dirinya memiliki pinjaman namun dari modal yang ada uang tersebut pun masih bisa menghasilkan pendapatan. Ini yang harus diberikan pemahaman kepada masyarakat, agar budaya menabung ini bisa terus digalakan, agar masyarakat bisa merasa mandiri dalam keuangan,” pungkasnya.