Ritual Adat Awali Produksi Tambang Rakyat di Nabire

NABIRE – Tambang rakyat yang didukung perusahaan PT Kristalin Eka Lestari (PT KEL) mengawali membuka lahan produksi tambang emas melewati ritual adat. Tiga ekor babi, dua ekor ayam jantan warna putih, seperangkat pinang, sirih, kapur di atas piring adat dilakukan dalam prosesi ini, Rabu (12/7/2017).

Ritual adat yang dihadiri sekitar 150-an masyarakat ini dilakukan dalam dua ritual adat yang berbeda. Masing-masing dari Suku Dani melakukan ritual adat dengan cara bakar batu yang diawali dengan memanah seekor babi, menguliti dan membakarnya di dalam sebuah lubang dicampur dengan sayur dan umbi-umbian yang nantinya disantap bersama-sama.

Sementara sekitar 100 meter jauhnya, ritual adat juga dilakukan oleh Suku Wate yang mendiami Kampung Nifasi dengan cara menyembelih seekor babi, melepaskan dua ayam jantan warna putih ke lokasi yang akan dilakukan tambang emas, serta menguburkan kepala babi yang telah disembelih bersama sebuah mangkuk adat warna putih, pinang, siri dan kapur.

Kepala Suku Nifasi, Aser Monei. -Foto: Indrayadi T Hatta

“Sebelum PT KEL masuk tahun 2007, saya sudah tinggal di pinggir Kali Mosairo, dan saat itu saya dipekerjakan perusahaan ini. Saat ini lokasi baru yang mau digarap lagi, jadi saya minta selamatan melalui proses adat,” kata Yudis Rengga, salah satu Suku Dani yang menetap di sepanjang Kali Mosairo.

Ia juga mengatakan, perusahaan memberikan seekor babi untuk untuk dilakukan selamatan bakar batu di Kali Mosairo. Menurutnya, ritual adat ini selalu dilakukan Suku Dani, di kala ada suatu pesta rakyat maupun acara syukuran dan selamatan. “Ritual ini kami bakar batu dulu, lalu babi dipanah, pembersihan, dimasak dalam lubang dan terakhir kami makan bersama,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Suku Nifasi, Aser Monei, mewakili suku besar Wate yang mendiami Kampung Nifasi, Makimi dan kampung Samabusa, mengatakan ritual adat yang mereka lakukan melepaskan ayam jantan warna putih di hutan juga sembelih kepala babi yang akan di buka lokasi baru produksi tambang bagi perusahaan PT KEL.

“Ini upacara adat untuk keselamatan para pekerja tambang maupun masyarakat yang nantinya bekerja bersama-sama dengan PT KEL. Dengan melakukan kegiatan ini, tandanya perusahaan ini dapat beraktivitas,” kata Aser.

Komisaris Utama PT KEL Arief Setiawan. -Foto: Indrayadi T Hatta

Sementara, Komisaris Utama PT KEL, Arief Setiawan mengatakan prosesi ini untuk menghormati adat istiadat masyarakat setempat dan pihaknya tak ingin membeda-bedakan suku yang ada di lokasi tambang tempat ia berinvestasi. “Saya mau merangkul semua masyarakat yang ada di sini tanpa membedakan suku,” kata Arief.

Ia juga menuturkan, ada satu tempat kerja miliknya yang merupakan milik dari Suku Wate dan ada satu areal lagi di mana Suku Dani sudah lama berada di situ sebelum pihaknya masuk ke lokasi ini dan setelah prosesi adat ini, maka pihaknya besok sudah dapat bekerja untuk memproduksi emas.

Arief mengaku, pihaknya telah ada sejak tahun 2007 lalu, dan baru beroperasi sejak enam bulan terakhir. Diharapkan, tidak ada lagi perpecahan di tengah masyarakat. “Selama ini kami mengurus perizinan, tes kecepatan dan mengurus izin-izin produksi. Harapannya masyarakat dapat bersatu, hidup normal dan bahu-membahu membangun kampung, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat,” tuturnya.

Ritual adat ini berlangsung sejak siang hingga petang hari, yang terlihat rasa persatuan dan kesatuan mereka walaupun beda ras dan suku. Mereka duduk bersama menikmati hidangan bakar batu serta makan papeda bersama.

Lihat juga...