Gagas Wisata Edukasi, Pemuda Palas Pasemah Bangun Kampung Pelangi
LAMPUNG – Payung-payung tergantung di beberapa pohon, beberapa ban disulap menjadi warna-warna menarik, kursi warna-warni dan beberapa spot untuk berfoto menjadi ciri khas sebuah kebun yang masih terlihat hijau dan rindang.
Tak jauh dari jalan raya lintas Palas dan hanya berjarak sekitar 500 meter dari jalan utama. Ratusan anak beragam usia bahkan terlihat ramai memenuhi setiap area di lokasi wisata yang terlihat begitu meriah dan teduh dengan rindangnya pepohonan yang masih dipertahankan di lokasi tersebut.
Lokasi wisata yang banyak menjadi rujukan pecinta jalan-jalan di Lampung Selatan tersebut semula bukan merupakan tempat wisata melainkan hanya sebuah kebun tanaman kayu yang jarang dikunjungi orang. Namun bermula dari keprihatinan pemuda Desa Palas Pasemah Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan akan keberadaan tempat wisata yang minim di wilayah Kecamatan Palas, membuat beberapa pemuda diantaranya M. Aldyas Pratama, Gunawan Wirdana, Elis Soleha dan beberapa pemuda lain sepakat menyulap sebuah kebun menjadi lokasi wisata.
Menurut Tama demikian Aldyas Pratama dipanggil, kebun milik sang ayah seluas satu hektar tersebut selanjutnya mulai dibersihkan dengan beberapa pohon tetap berdiri kokoh sebagai ciri khas kebun tersebut. Di antaranya pohon jati ambon dan albasia yang ada di areal kebun tersebut. Setelah bersih penambahan berbagai fasilitas dan sarana di kebun tersebut mulai dikonsep dan dikenal dengan sebutan “Kampung Pelangi” yang digagas sejak pertengahan bulan Juni tahun ini.
“Kalau konsep awalnya sederhana. Dari keprihatinan kami pemuda Palas yang saat akan berwisata harus pergi ke tempat yang jauh sementara potensi Palas juga tidak kalah untuk dikembangkan. Khususnya dalam bidang wisata dan gagasan tersebut kami wujudkan dalam Kampung Pelangi,” terang M. Aldyas Pratama saat ditemui Cendana News di Kampung Pelangi Desa Palas Pasemah Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (23/7/2017).
Sebagai sebuah lokasi wisata buatan yang masih baru, Tama mengaku, beberapa wahana yang disediakan untuk menarik wisatawan dengan sasaran anak-anak dan keluarga tersebut dikonsep sedemikian menarik untuk memikat anak-anak usia SD hingga SMA. Wahana permainan anak-anak berupa ayunan, halang rintang dari ban bekas, area berkemah, jalur trek sepeda dan motor mini, hamock gantung warna warni, lokasi berfoto dan tempat kuliner pun disediakan di kampung pelangi.
Sejak dibuka pada 18 Juni lalu, Tama menyebut wisatawan yang berkunjung ke kampung pelangi dalam sehari dirata-rata berkisar sebanyak 100 wisatawan didominasi oleh anak-anak dengan mengajak serta orang tua. Bentuk wisata edukasi tersebut diakuinya dengan penyediaan ratusan buku di beberapa titik yang disediakan dalam rak khusus sehingga menurut Tama Kampung Pelangi menjadi sebuah taman bermain sekaligus membaca sekaligus perpustakaan di area terbuka yang memberi kenyamanan bagi wisatawan usia sekolah.
“Ratusan buku yang disediakan di Kampung Pelangi merupakan bantuan dan kerjasama kami dengan Pustaka Bergerak yang menyediakan beragam buku bacaan sehingga sembari wisata wisatawan bisa membaca buku,” terang Tama.
Sebagian pengunjung yang didominasi anak sekolah, ungkap Tama, terutama pada akhir pekan dan hari libur bahkan memanfaatkan kampung pelangi untuk berkumpul dan bersosialisasi. Sebagian penghobi dan komunitas fotografi pun menjadikan lokasi kampung pelangi dengan spot-spot menarik untuk berfoto dan mengunggahnya ke media sosial. Kuliner-kuliner tradisional dengan memberdayakan masyarakat lokal juga menjadi misi Tama untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di desanya yang mengambil sisi positif dari keberadaan tempat wisata Kampung Pelangi tersebut.
Hardiyanto, salah satu orang tua yang mengajak serta dua anaknya ke Kampung Pelangi menyebut sengaja memanfaatkan liburan untuk berwisata sembari mengenalkan anaknya untuk bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Ia menyambut positif keberadaan destinasi wisata baru tersebut karena selama ini warga Palas kesulitan dan memilih tempat yang jauh untuk berwisata.
“Lokasinya nyaman dan setelah lelah berkeliling anak saya bisa membaca buku di tempat yang disediakan sembari menikmati suasana sejuk perkebunan,” terang Hardiyanto.
Lokasi wisata alam dan edukasi tersebut diakui Hardiyanto menjadi rujukan bagi orangtua yang memiliki anak-anaknya terutama udara yang masih bersih dan lokasi yang jauh dari kebisingan dan lalu lalang kendaraan. Meski demikian ia menyebut beberapa fasilitas saung atau gubuk-gubuk untuk istirahat perlu ditambah agar bisa memberi kenyamanan terutama saat hujan.
