Tak Mau Kecolongan Penumpang, KSOP Bakauheni Siagakan Checker
LAMPUNG – Antisipasi membludak dan berlebihnya kapasitas penumpang di dalam kapal roll on roll off (roro) selama arus balik lebaran Idul Fitri 2017 (1438 Hijriyah), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni Lampung mengerahkan dan menyiagakan sejumlah petugas di Pelabuhan Bakauheni.
Menurut Fery Hendry Yamin, selaku petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V Bakauheni Lampung, beberapa petugas yang dikerahkan di antaranya petugas penghitung (checker) penumpang pejalan kaki di lobi tiket setelah alat pendeteksi tiket (taping barrier ticket) dengan alat khusus penghitung mengantisipasi berlebihnya penumpang pejalan kaki.
Fery Hendry Yamin menyebut, langkah tersebut dilakukan pihaknya sebagai otoritas pelabuhan yang ikut memperhatikan faktor keselamatan penumpang, khususnya pejalan kaki yang akan naik ke kapal di lintasan Selat Sunda selama arus balik pada hari ketiga lebaran (H+1). Fungsi petugas checker di antaranya menghitung penumpang dewasa dan anak-anak serta berkoordinasi dengan awak darat kapal yang akan menaikkan penumpang pejalan kaki dan berkoordinasi dengan petugas di depan pintu masuk kapal untuk tempat masuk kendaraan.
“Fungsi petugas kita siagakan untuk menghitung manifest penumpang kapal pejalan kaki, jangan sampai kapasitasnya berlebih karena jumlah penumpang pejalan kaki akan ditambah dengan penumpang di dalam kendaraan. Kita tidak mau kecolongan ada beda manifest penumpang kapal selama arus balik,” terang Fery Hendry Yamin selaku petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V, Bakauheni Lampung saat dikonfirmasi Cendana News di depan loket pembelian tiket penumpang, Selasa (27/6/2017).

Koordinasi checker KSOP dengan pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dan awak darat kapal sekaligus perusahaan pelayaran dalam gabungan pengusaha angkutan sungai danau dan penyeberangan (Gapasdap) dilakukan menyesuaikan dengan waktu pelayanan dan sandar kapal sehingga tidak akan terjadi jumlah penumpang pejalan kaki melebihi kapasitas. Selain dibatasi oleh waktu pelayanan jumlah penumpang pejalan kaki yang dicatat oleh petugas checker KSOP juga menyesuaikan kapasitas setiap kapal yang jumlahnya berbeda-beda di antaranya 200 hingga 300 penumpang pejalan kaki.
Fery bahkan menyebut, dalam situasi arus balik ia menegaskan tidak akan ada toleransi muatan kapal khususnya penumpang pejalan kaki sehingga ditegaskan saat waktu pelayanan habis berapapun jumlah penumpang pejalan kaki yang dimuat maka tidak diperbolehkan menambah muatan. Apalagi lanjutnya jumlah dermaga reguler yang melayani penumpang pejalan kaki dengan dilengkapi gangway penumpang ada tiga dermaga di antaranya dermaga I, II dan dermaga III sehingga menyesuaikan waktu pelayanan setiap kapal.
“Kalau keinginan setiap kapal mengangkut penumpang semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas yang ada tetapi faktor keselamatan jadi perhatian kita dan waktu pelayanan singkat selama dua belas menit untuk penumpang pejalan kaki dikhawatirkan bisa mengganggu jadwal kapal,” ungkapnya.
Selain petugas checker, puluhan personil dari KSOP dibantu oleh petugas kapal juga disiagakan di depan tangga kapal dan gangway yang bertugas mengarahkan penumpang ke kapal. Fery menyebut, arus balik pada lebaran hari ketiga sudah mulai terlihat mengalir. Meski untuk pejalan kaki belum diberlakukan sistem buka tutup di gangway akibat penumpukan penumpang pejalan kaki. Dari penumpang pejalan kaki naik kapal dan turun kapal.
Salah satu petugas kapal KMP Batu Mandi, Agus, yang bertugas mengarahkan penumpang pejalan kaki menyebut menyesuaikan jumlah kapasitas dan waktu pelayanan. KMP Batu Mandi bahkan mampu menampung sebanyak 800 penumpang lebih meliputi penumpang di dek terbuka, penumpang kelas VIP, dek kursi sofa dan dek kafetaria.
“Sudah ditetapkan oleh KSOP agar muatan penumpang kapal saat arus balik sesuai dengan waktu pelayanan sehingga tadi baru ada sebanyak 200 penumpang sudah dihentikan dan digantikan pelayanan kapal lain di dermaga tiga,” terang Agus yang mengarahkan penumpang ke KMP Batu Mandi di dermaga II.
Selain pembatasan penumpang pejalan kaki, ia juga menyebut, setiap kapal yang bersandar di Pelabuhan Bakauheni saat arus mudik dan balik mengikuti pola operasi percepatan kapal dimana kapal saat arus mudik dan arus balik pada hari normal diberi batas waktu lama berlayar (sailing time) selama 120 menit. Dipercepat menjadi sekitar 90 menit dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak dan sebaliknya. Sementara, waktu bongkar muat (port time) dari semula 60 menit dipercepat menjadi sekitar 45 menit.
Pantauan Cendana News, selain petugas checker, sebanyak tiga unit loket portable disiapkan khusus untuk menghitung penumpang pejalan kaki yang terhubung dengan loket penjualan tiket pejalan kaki. Loket portable yang dioperasikan tersebut langsung oleh petugas PT Mata Pencil Globalindo.