RABU, 14 JUNI 2017
LAMPUNG — Kesibukan terlihat di anjungan KMP Dharma Rucitra I milik perusahaan pelayaran KMP Dharma Lautan Utama, yang melayani pelayaran di lintasan Selat Sunda penghubung Pelabuhan Bakauheni Lampung dan Pelabuhan Merak Banten.
![]() |
| Mualim I Lalu Mulia Dinata (kanan) mengarahkan Lanang Wicaksono (kiri) sebagai Juru Mudi |
Beberapa tugas seperti nahkoda, mualim 1, juru mudi serta semua anak buah kapal yang bertugas di kapal Dharma Rucitra I juga dibantu oleh beberapa kadet atau siswa magang dari sekolah pelayaran, yang dipastikan akan berada di atas kapal selama satu tahun.
Tugas yang berat dengan membawa ratusan penumpang pejalan kaki termasuk kendaraan di atas kapal roll on roll off (Roro) tersebut, salah satunya dialami oleh Lalu Mulia Dinata (50), selaku Mualim I atau Kepala Dinas Deck (geladak) dan membantu nahkoda dalam mengatur pelayanan di kapal.
Laki-laki asal Lombok Nusa Tenggara Barat, tersebut, mengaku sebelum menjadi Mualim I di kapal lintasan Selat Sunda, dirinya sempat bekerja di beberapa kapal angkutan barang antar negara. Ratusan negara diakuinya pernah dikunjungi di beberapa benua, di antaranya Somalia di Afrika, Panama di Amerika, Sidney di Australia, Hongkong, China serta beberapa negara Eropa dalam sebuah pelayaran.
Setelah hampir selama dua puluh tahun semenjak dirinya lulus sekolah pelayaran, ia memutuskan menjadi mualim pada kapal penyeberangan antar pulau dan dipercaya sebagai mualim di KMP Dharma Rucitra I. Bersama kru kapal lain, ia menyebut momen paling penting selama pelayaran, di antaranya saat arus liburan mudik lebaran serta sepanjang bulan Ramadan.
![]() |
| Jaka Ridwan bertugas sebagai divisi pelayanan dan jasa dengan mengajak anak anak memakai alat keselamatan |
“Kami kru kapal memiliki tugas untuk membawa seluruh penumpang, termasuk anak buah kapal dengan kenyamanan dan memperhatikan keselamatan selama berlayar. Bahkan harus rela tidak libur berbulan-bulan baru bisa bertemu dengan keluarga,” terang Lalu Mulia Dinata, saat ditemui Cendana News belum lama ini di anjungan KMP Dharma Rucitra I milik perusahaan pelayaran Dharma Lautan Utama.
Lalu menjelaskan, tugas sebagai Mualim I adalah membantu nahkoda, termasuk pemeliharaan seluruh kapal, kecuali kamar mesin, bongkar muat, pekerjaan administrasi, serta tugas-tugas lain selama pelayaran termasuk berkomunikasi dengan pihak stasiun traffic control (STC) di Pelabuhan Merak Banten, maupun Pelabuhan Bakauheni Lampung.
Selama bertugas dengan nahkoda, juru mudi, kadet serta anak buah kapal lainnya, ia menyebut pekerjaan tersebut ditekuninya sebagai sebuah pengabdian. Pada hari biasa, dengan jumlah muatan yang cukup sedikit, hanya puluhan kendaraan campuran mulai dari kendaraan roda dua hingga kendaraan roda empat serta puluhan penumpang, ia tetap menjalankan tugas dengan penuh pengabdian.
Hal yang sama juga dilakukan saat angkutan liburan sejak Ramadan hingga mudik lebaran seperti tahun 2016, lalu, dengan jumlah penumpang mencapai ratusan, baik kendaraan maupun pejalan kaki. Faktor keselamatan diakuinya menjadi tanggungjawab yang sangat berat, terutama selalu mengingatkan para anak buah kapal untuk mengawasi penumpang, agar tidak bermain di pagar-pagar kapal, menghindari terjatuh dari kapal, menjaga keamanan di dalam kapal dari tindak kriminalitas, pencopet bekerjasama dengan petugas keamanan hingga berkomunikasi dengan kapal kapal tanker,cargo yang melintas di Selat Sunda.
“Selat Sunda ini menjadi jalur pelayaran internasional dari Samudera Hindia ke laut Jawa serta kapal-kapal yang akan menuju ke laut Cina Selatan dan Singapura, sehingga perlu kewaspadaan tinggi saat memasuki alur pelayaran internasional,” ungkapnya.
Lalu mengaku kerap tidak berlibur selama hampir tiga empat bulan saat trip kapal meningkat. Ia mengaku menjalankan tugas tersebut sebagai sebuah pelayanan terutama rasa bahagia bisa ikut mengantarkan keluarga-keluarga yang berlibur atau hendak merayakan hari raya bersama keluarga.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan kesempatan yang tak diperolehnya sebagai Mualim I dan seluruh kru kapal yang dipastikan harus menunggu waktu tiga bulan untuk bisa berlibur. Itupun hanya memiliki jatah cuti selama satu bulan. Siang dan malam waktu pelayaran yang dilalui selama beberapa trip di sela dengan waktu istirahat kapal (anchor) hingga docking (perbaikan kapal), kerap membuatnya bosan meski kebosanan tersebut tetap bisa ditepis selama pelayaran.
Hal yang sama dialami oleh Lanang Wicaksono (32), sebagai juru mudik di KMP Dharma Ricitra I, laki laki yang sudah ikut melayani arus mudik lebaran selama beberapa kali, tersebut mengaku tugas saat arus mudik merupakan tugas yang cukup berat.
Ia mengungkapkan, selain harus memperhatikan faktor keselamatan kapal dan penumpang, ia juga harus menahan rindu untuk bisa berkumpul bersama keluarga pada saat merayakan hari Raya Idul Fitri. Bekerja di perusahaan pelayaran diakuinya sudah menjadi resiko tidak bisa berjumpa dengan keluarga selama berbulan-bulan dan komunikasi tetap bisa dilakukan dengan berbagai aplikasi telepon pintar yang saat ini tersedia.
“Kalau komunikasi dengan keluarga saya bisa menelpon anak dan isteri menggunakan aplikasi lain, sehingga meski tidak pulang kami masih tetap terhubung dan ada ikatan emosional,” terang Lanang Wicaksono.
Melakukan pelayaran selama hampir dua hingga tiga trip per hari, diselingi dengan masa untuk anchor di sekitar perairan Merak atau Lampung, diakuinya menjadi rutinitas mingguan, bulanan bahkan tahunan.
Momen yang cukup menegangkan bagi kru kapal di ruang kemudi atau anjungan diakuinya dialami saat berada di alur lintasan kapal-kapal antar negara, alur masuk dan keluar serta olah gerak kapal menjelang sandar dan bongkar muat.
Ia menyebut, laut tak selamanya tenang sehingga dalam kondisi cuaca buruk baik gelombang tinggi, cuaca angin kencang serta hal-hal tak terduga di perairan Selat Sunda menjadi sebuah tantangan. Ia berharap dalam angkutan mudik hari raya lebaran 1438 Hijriyah/2017 yang sudah terasa sejak bulan Ramadan ini, kondisi cuaca tetap dalam kondisi baik.
Selain berdoa bersama petugas lain, pemanfaatan teknologi navigasi di dalam kapal mulai dari radar, binokular, serta alat-alat lain cukup membantunya dalam proses pelayaran di Selat Sunda berjalan dengan aman dan lancar.
Petugas lain yang ikut memiliki peran dalam perjalanan para penumpang kapal, di antaranya divisi pelayanan dan jasa. Jaka Ridwan, selaku petugas yang siap memberi kenyamanan kepada pelanggan atau penumpang kapal menyebut harus berpikir keras agar para penumpangnya tanpa memandang usia dari anak-anak hingga orang dewasa mendapatkan rasa aman dan nyaman selama di kapal. Khusus selama Ramadan dan menjelang lebaran, dengan banyak penumpang yang sudah melakukan perjalanan berbagai pelayanan diberikan di atas KMP Dharma Rucitra I.
“Kami menyediakan semua fasilitas gratis, ruang restorasi untuk makan, ruang ibadah solat, ruang bermain anak-anak serta menyuguhkan permainan anak-anak dengan mewarnai, sulap, badut selama liburan,” terangnya.
Ia menyebut, pelanggan adalah raja dan bahkan dengan pelayanan yang maksimal, maka sebagian penumpang akan tetap menggunakan jasa pelayanan kapal tempatnya bekerja. Mengabdi selama beberapa tahun pun diakuinya membuatnya tidak bisa merasakan berlama-lama di darat.
Jaka Ridwan menyebut baru bisa turun ke darat untuk berlibur setelah selama tiga bulan ikut berlayar. Pada musim angkutan mudik lebaran 2017 ini, ia memastikan tidak bisa berkumpul bersama keluarga, persis seperti kru kapal yang lain. Baginya dan kru lain, pelayanan terhadap pengguna jasa pelayaran menjadi prioritas, meski ia dan kawan-kawannya mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga dan dipastikan tidak berlebaran bersama keluarga tahun ini, karena mengemban tugas mulai melayani penumpang yang akan menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya untuk berlebaran. (Henk Widi/ Koko Triarko/ Foto: Henk Widi)
Source: CendanaNews

