Petani Terpukul, Harga Karet di Barito Utara, Turun

MUARA TEWEH – Pasca lebaran 2017, harga karet di pedalaman Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah, turun menjadi Rp5.000 dari sebelumnya Rp5.500 per kilogram.

Irwansyah, seorang petani karet di Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh, mengatakan, turunnya harga karet ini membuat petani di daerah ini kembali terpukul, apalagi setelah hari raya Idul Fitri 1438 hijriah.

Menurut Irwansyah, posisi harga karet yang kembali turun ini cukup membuat petani terpukul, karena memasuki awal bulan puasa lalu sempat naik Rp1.000.

Kabupaten pedalaman Sungai Barito satu sentra kebun karet di Provinsi Kalimantan Tengah. Dominan petani bergerak di sektor perkebunan karet.

Turunnya karet ini merata terjadi pada sentra kebun karet di kabupaten ini. Produksi kebun karet rakyat dominan ditampung kalangan pedagang yang mendatangi kebun petani, atau lebih dikenal sebutan tengkulak.

“Ini juga bisa karena ulah tengkulak yang memang menguasai petani,” katanya, dan menambahkan para tengkulak mengaku patokan harga beli disesuaikan dengan posisi harga jualnya di kalangan pedagang atau pabrik di Banjarmasin, pusat pemerintahan Kalimantan Selatan.

“Masalahnya para petani daerah ini masih tergantung pada para tengkulak, karena sampai sekarang belum ada pabrik karet, padahal hasil produksi karet petani cukup banyak,” katanya, Kamis (29/6/2017).

Luas kebun karet rakyat di kabupaten juga dikenal kaya potensi sumber daya alam batu bara itu, tercatat 35.646 hektare dengan produksi karet kering mencapai 18.696 ton per tahun. Kebun karet rakyat itu tersebar di sembilan kecamatan di kabupaten tersebut. (Ant)

Lihat juga...