Ikut Bangun Karakter, Pegiat Literasi Gelar Pesantren Kilat di ‘Lamban Balak’

LAMPUNG — Ikut membangun karakter anak negeri, Rumah Baca Akar lampung Selatan menggelar kegiatan pesantren kilat di ‘lamban balak’ atau rumah adat Keratuan Darah Putih yang dikenal sebagai rumah peninggalan pahlawan nasional Raden Intan II.

Nury Sybli, pendiri Rumah Baca Akar mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada anak anak di wilayah pedesaan. Dalam pelaksanaan, pelajar yang lagi liburan tersebut disuguhi koleksi ratusan buku dari berbagai relawan pustaka dan literasi di Lampung, belajar bahasa arab sederhana, mengaji AlQur’an, bersedekah pada Yatim dan Dhuafa, dan dilanjutkan dengan kegiatan buka puasa bersama dan sholat berjam’aah.

“Pesantren kilat kali ini, benar-benar kilat, padat, namun berisi. Anak-anak bukan saja belajar tentang arti tetapi juga memahami makna dan bagaimana seharusnya menjaga prilaku. Selain pelajaran agama dan mengaji, anak-anak juga kami kenalkan tentang sejarah Indonesia,” ungkap Nury Sybli, founder Rumah Baca Akar dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Rabu (21/3/2017).

Ia menerangkan, dengan kegiatan tersebut anak-anak diberi kesempatan untuk mengenalkan ke-Indonesiaan serta tentang kebhinekaan dan nilai nilai menghargai sesama manusia.

Di tempat yang sama Khaja Muda, salah satu pegiat literasi dan relawan pustaka yang mengelola Rumah Akar Raja Baca menuturkan, dalam pesantren kilat ini anak-anak diajarkan mengenal sejarah masuknya Islam di wilayah Lampung Selatan yang pada kesempatan pesantren kilat tersebut disampaikan langsung oleh tokoh adat keratuan darah putih Bapak Budiman Yakub.

“Saya berharap anak-anak kedepan tidak hanya pandai membaca al-Qur’an saja, tetapi juga memahami isinya. Setidaknya pada bacaan Sholat lima waktu dan bisa menjadi generasi penerus bangsa,” terang Khaja Muda.

Pesantren kilat ini digelar berangkat dari kerisauan yang terjadi pada lingkugan sekitar Lamban Balak. Menurut Khaja Muda, banyak diantara kita hanya pandai mengucakan lafal saja tetapi tidak mengerti isi yang terkandung. Ia bahkan menyebut tidak saja anak-anak, banyak orang dewasa juga asal baca selesai tapi isinya belum tentu mengerti. Dengan kegiatan kecil ia berharap bisa memberi semangat untuk lebih belajar tentang nilai nilai keagamaan.

Seperti juga pada buku, kata Sugeng Hariyono, pendiri motor pustaka Lampung di tempat yang sama menyebut selama ini berdasarkan pantauannya minat baca anak-anak di kawasan Lampung Selatan cukup meningkat setelah terus menerus didesak dan didatangi. Tetapi apakah bacaan tersebut melekat pada perilaku tentu harus diuji.

“Literasi saat ini sudah menjadi istilah yang tidak asing lagi, tapi tentu harus terus digelorakan karena tugas kita sebagai pegiat literasi masih banyak bukan sekedar memperkenalkan buku tapi menggerakkan budaya membaca,” katanya.

Melalui kegiatan Safari Literasi, ungkap Sugeng, selain ingin meningkatkan minat baca pada anak-anak, juga menjadi ajang silaturrahmi bagi para pegiat, baik yang di Lampung maupun yang di Indonesia.

Safari Literasi yang bertajuk “Lampung Mengaji” pada gelaran Pesantren Kilat ini melibatkan banyak pegiat dari berbagai rumah dan relawan armada pustaka serta berbagai pihak yang aktif mendukung pendidikan anak-anak Indonesia diantaranya yaitu Motor Pustaka Lampung, Perahu Pustaka, Rumah Baca Akar, Rumah Akar Raja Baca, Rumah Baca Akar Pelangi, Blackhouse Library, Ontel Pustaka, IJTI Lampung, Ikam Jabung Sai ( IJS), Cetul Pustaka Nusantara dan Ransel Pustaka.

Kegiatan pesantren kilat dipadukan dengan literasi di lamban balak Lampung Selatan

Safari Literasi ‘Pesantren Kilat’ ini menjadi acara pamungkas setelah pecan sebelumnya digelar di Rumah Baca Akar Pelangi Lampung Timur dan Menara Siger Lampung Selatan. Pada kesempatan safari literasi di Lampung Timur, para pegiat literasi membagikan mushaf al-Qur’an dan Juzzamma dan diisi dengan khataman Qur’an. Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Lampung Timur.

Lihat juga...