DENPASAR – Bentara Budaya Bali (BBB) di Kabupaten Gianyar akan menggelar pementasan teater dan dialog sastra menampilkan pembicara dramawan Abu Bakar. Seniman Abu Bakar sendiri lahir di Denpasar, 1 Januari 1944 atau 73 tahun yang silam. Ia merupakan penyair, cerpenis, dramawan serta sutradara teater kawakan di Bali.
Karya-karyanya antara lain Wanita Batu (Monolog, 2006), Bali Menangis (sinetron, 2004) dan Komedi Hitam.
“Dialog sastra yang melibatkan seniman, budayawan, mahasiswa dan masyarakat umum itu akan dilaksanakan Jumat (30/6),” kata Penata Acara Juwitta K. Lasut di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, dramawan Abu Bakar akan berbagi pengalaman perihal proses adaptasi naskah teater menjadi bentuk pertunjukan yang memikat.
Ia akan membahas naskah-naskah drama asing yang kerap dimainkan publik teater di Indonesia, seperti karya-karya Anton Chekov, William Shakespeare, Samuel Beckett, Eugene Eunesco, Kenneth Sawyer.
Dramawan Abu Bakar membincangkan proses kreatif penyutradaraan terhadap naskah-naskah pilihan tersebut. Ia merupakan pendiri Teater Poliklinik dan sudah puluhan tahun mendedikasikan hidup untuk seni pertunjukan, sastra dan film.
Maka, ia juga akan berbagi pandang mengenai apa sebenarnya yang disebut sebagai adaptasi bebas atau adaptasi yang bersetia pada sumber naskah aslinya. Termasuk batasan antara keduanya, serta upaya strategi kreatif yang harus dipilih guna mewujudkan naskah adaptasi sebagai lakon panggung yang kontekstual serta akrab dengan publik setempat.
Tidak sedikit sutradara di Indonesia yang memainkan dan mengadaptasi lakon-lakon sohor dari luar, seperti Kereta Kencana karya Eugene Eunesco yang diterjemahkan dan dimainkan oleh WS Rendra dan teater lainnya.
“Tak kurang populernya juga naskah Anton Chekov seperti Pinangan, Orang Kasar, Kebun Ceri, dan Bahaya Racun Tembakau diadaptasi jadi tontonan panggung yang menarik dengan mengusung warna lokal atau teater tradisi setempat,” ujar Juwitta K. Lasut.
Beberapa grup teater yang sering memainkan naskah adaptasi di Indonesia, antara lain Bengkel Teater Rendra, Studiklub Teater Bandung, Teater Populer, Teater Koma, Teater Payung Hitam, Teater Gandrik Yogyakarta, hingga yang muncul belakangan Teater Garasi, Teater Satu Lampung dan Main Teater Bandung.
Sedangkan di Bali, Teater Polikinik, Teater Bumi, Teater Nyuh Gading, Sanggar Putih, Kebun Bayam Bebunga, Teater Agustus, Tulus Ngayah, tak ketinggalan Teater Kampung Seni Banyuning, Teater Seribu Jendela, Komunitas Mahima dan Teater Orok. (Ant)