Ratusan Spesies Burung di NTB, Terancam Punah

JUMAT, 14 APRIL 2017

LOMBOK — Tempo dulu, bisa menemukan dan mendengarkan kicauan burung, mungkin sesuatu hal tidak sulit dan biasa bagi sebagian masyarakat, terutama bagi yang hidup di pedesaan dan sekitar kawasan hutan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Pulau Lombok.

I Wayan Suana, menunjukkan salah satu buku hasil penelitiannya tentang burung di NTB

Beragam spesies burung bisa dengan mudah ditemukan, bermain dan saling berkejaran di atas pepohonan, berkicau dan seakan ikut bernyanyi menyambut mentari pagi. Tapi, kini kondisi tersebut sudah tidak banyak bisa ditemukan, kalaupun masih ada, populasi dan spesiesnya sudah banyak berkurang.

Maraknya aksi perburuan dan penangkapan liar oleh masyarakat dan oknum tidak bertanggungjawab, menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan populasi burung di NTB, terutama di Pulau Lombok, terus mengalami pengurangan, bahkan terancam mengalami kepunahan. “Kalau kita perhatikan sekarang ini, jumlah populasi dan spesies burung banyak mengalami pengurangan, bahkan terancam mengalami kepunahan, akibat maraknya aksi penangkapan dan perburuan liar,” kata Dosen dan Peneliti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram, Dr. I Wayan Suana, kepada Cendana News, Jum’at (14/4/2017).

Dikatakan, jangankan jenis burung bagus dan langka, bahkan burung kecial putih dan kuning sebagai jenis burung yang biasa banyak disaksikan sekarang ini juga sudah mulai banyak berkurang, baik yang hidup di pepohonan perkampungan maupun kawasan hutan.

Ia membeberkan hasil penelitian yang pernah dilakukannya bersama mahasiswanya di sejumlah pasar burung, terlihat bagaimana maraknya penjualan burung yang dilakukan masyarakat. Burung kecial, misalkan, dalam sehari jumlah yang dijual bisa mencapai 100 hingga 150 ekor. “Kalau sudah begitu, secara perlahan, tidak menutup kemungkinan, lambat laun keberadaan kecial sejumlah spesies burung lain akan mengalami kelangkaan, bahkan bisa mengalami kepunahan, apalagi kecial dan beberapa jenis burung lain termasuk spesies burung dengan kemampuan berkembang biak tidak terlalu cepat” katanya.

Selain akibat aksi penangkapan dan perburuan liar, kerusakan lingkungan termasuk kawasan hutan juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian berbagai spesies burung yang ada.

Wayan mengatakan, untuk memastikan populasi dan spesies burung yang ada di NTB, terutama di kawasan hutan konservasi, pihaknya bersama peneliti MP3EI lain di FMIPA Universitas Mataram, selain bekerjasama dengan Pemda NTB, pihaknya juga banyak menggandeng dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat secara langsung.

Pelibatan masyarakat dilakukan dengan membentuk komunitas atau semacam kelompok masyarakat adat, kemudian memberikan pemahaman melalui sosialisasi akan pentingnya kelestarian kawasan hutan, termasuk burung yang hidup di dalam dari aksi perburuan. “Kalau dikelola dengan baik bisa menjadi kawasan ekowisata dan dikunjungi banyak wisatawan, sebagai alternatif wisata berbasis alam, selain pantai dan pegunungan, secara ekonomi juga jelas menguntungkan masyarakat sekitar,” katanya.

Salah satu kawasan yang menjadi pusat penelitian dan dikembangkan sebagai kawasan ekowisata adalah taman wisata Kerandangan, Kabupaten Lombok Barat, yang di dalamnya selain sebagai kawasan hutan konservasi dan obyek wisata air terjun, juga merupakan tempat hidup dan berkembang biaknya 50 spesies burung. “Membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian burung dan Kawasan hutan memang tidak mudah, butuh proses dan waktu lama, tapi kita optimis itu akan bisa dilakukan, mewujudkan masyarakat sadar lingkungan,” tutupnya
Jurnalis: Turmuzi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Turmuzi
Source: CendanaNews

Lihat juga...