JUMAT, 14 APRIL 2017
LARANTUKA — Ratusan perahu motor ikut dalam prosesi laut mengantar patung Tuan Meninu dari kapela Tuan Meninu di Sarotari menuju pantai Pohon Sirih dan selanjutnya diarak dengan berjalan kaki menuju Armida Tuan Meninu yang merupakan armida atau perhentian kedua saat prosesi Jumat Agung nanti malam.
| Sampan yang mengawal berok Patung Yesus wafat disalib selama prosesi laut berlangsung. |
Sementara itu, selain ribuan umat yang ikut dalam prosesi dengan menaiki kapal motor yang disiapkan panitia dan disewa peziarah, ratusan ribu umat juga menyaksikan ritual prosesi melalui darat dengan berdiri di sepanjang jalan di pinggir pantai serta di pelabuhan TPI Amagarapati, pelabuhan Larantuka serta di pantai Pohon Sirih.
Anton Thomas Fernandez, Ketua Lembaga Pemangku Adat Suku Kinta Besa saat ditemui Cendana News Jumat (14/4/2017) mengatakan, banyak orang yang menyebut patung yang diarak saat prosesi laut adalah patung Tuan Meninu atau kanak-kanak Yesus padahal ini sebuah kesalahan.
“Yang diantar dan diarak dalam prosesi laut merupakan patung Yesus wafat disalib, sementara patung Tuan Meninu atau kanak-kanak Yesus tetap tersimpan di kapela Tuan Meninu,” tegasnya.
Karena dibawa keluar dari kapela sehingga, kata Anton, umat mengira itu merupakan patung Tuan Meninu. Padahal patung Tuan Meninu hanya dikeluarkan sehari sebelum Natal untuk dimandikan atau dibersihkan.
Ini perlu diluruskan, sebab yang diarak saat prosesi laut bukan patung Tuan Meninu sehingga umat juga tidak salah mengartikannya. Patung Yesus wafat disalib tersebut langsung dibawa untuk ditaktahkan di Armida Tuan Meninu.
| Peti berisi patung Yesus wafat disalib yang dijunjung dari kapela untuk diletakkan di dalam Berok. |
Bartolomeus Heri, salah seorang peziarah asal Timor yang ditemui Cendana News di sekitar kapela Tuan Meninu mengakui, prosesi laut merupakan salah satu keunikan dari ritual Semana Santa di Larantuka.
Heri merasa terkesan dengan prosesi ini sebab patung tersebut dibawa menggunakan sampan tradisional berbentuk khusus atau berok dengan dikayuh bukan menggunakan perahu motor.
“Ritual ini sebuah daya tarik tersendiri. Umat yang hadir juga merasa penasaran dan sangat kagum dengan ribuan umat yang mengikuti prosesi ini dengan terus melantunkan lagu dan doa,” tuturnya.
Disaksikan Cendana News, sejak pukul 10.30 WITA, ribuan umat mulai memadati lokasi kapela Tuan Meninu untuk melihat dari dekat perahu yang dipakai mengantar patung Yesus wafat disalib serta mengikutinya lewat darat dengan menggunakan mobil maupun sepeda motor.
Arus laut yang kencang menyebabkan banyak sampan kecil sebagai pengawal dan turut dalam prosesi sering terbalik dihantam arus yang sangat kencang di selat antara pulau Adonara dan Flores. Patung yang berada di dalam peti yang tertutup dengan kain hitam dijunjung di kepala oleh petugas dari Suku Kinta Besa dan dibawa dari kapela Tuan Meninu menuju Berok di pinggir pantai yang berjarak sekitar 50 meter.
| Kapal yang mengikuti prosesi laut dengan menampung para peziarah. |
Setiba di pantai Pohon Sirih, peti tersebut kembali dijunjung. Dari pantai menuju ke Armida Tuan Meninu sejauh sekitar 300 meter untuk diletakkan di dalam armida yang telah disediakan. Sampan-sampan yang turut mengarak patung Tuhan Yesus wafat disalib dalam prosesi laut, dicat seragam dengan warna hitam di bagian luarnya. Sementara di bagian dalam dicat dengan warna biru muda.
Selama dibawa menuju berok dan selama prosesi serta dibawa menuju Armida Tuan Meninu, umat selalu melantunkan doa dan bernyanyi. Konferia berjalan d idepan dan tak henti menyanyikan lagu-lagu khusus berbahasa Latin.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
Source: CendanaNews