SABTU, 15 APRIL 2017
LARANTUKA — Ribuan umat Katolik yang berada di Kota Larantuka bersama para peziarah dari luar daerah menghadiri misa malam Paskah di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka.
![]() |
| Umat yang menyalahkan lin Paskah dalam misa di Gereja Katedral Larantuka. |
Romo Hendrik Leni,Pr dalam khotbahnya saat misa yang dimulai pukul 18.30 WITA mengatakan bahwa makna Paskah hendaknya memotivasi umat Katolik untuk bangkit dan memulai hidup baru.
Allah selama 5 hari sebutnya, menciptakan langit dan bumi beserta isinya lalu semuanya diserahkan kepada manusia sebab manusia merupakan gambar dan citra Allah yang sedang mengembara di dunia.
“Umat hendaknya berperilaku baik dengan bangkit melaksanakan hidup yang lebih baik,” pintanya.
Dikatakan Hendrik,batu besar yang yang dipakai sebagai penutup makam Yesus yang dibongkar melambangkan Yesus bisa menyingkirkan segala penghalang dan rintangan dalam hidup umat manusia asal kita mau mengikutinya dan berjalan di jalannya.
Sementara itu, kubur kosong lanjutnya,memberikan pemahaman kepada kita mengenai sebuah situasi baru, sebuah kepastian dimana kita diharapkan menggulingkan batu-batu yang menutup hati kita agar iman kita kepada Allah menjadi kuat sehingga bisa mewartakan Kristus dimanapun.
“Makna Paskah memberi peaan agar kita merelakan bahkan memastikan batu besar penurup hati kita disingkirkanoleh diri kita ataupun oleb orang lain,” tegasnya.
Selain itu kata Hendrik, kita harus mau membuka diri kita untuk berubah melalui teguran sesama dan kita tidak boleh bermental instan dimana iman yang instan yang ada saat hari-hari tertentu baru ke gereja, mengaku beragama Katolik tapi tindakan tidak sesuai ajaran Katolik.
Manusia sambungnya diciptakan Allah untuk menjaga bumi ini sebab bumi ini merupakan ciptaan Allah dan merusak bumi disadari sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab sehingga kita harus bangkit melawan kebiasaan dan kelakuan merusak bumi.
“Kita harus menjaga bumi sebagai ciptaan Allah dan warisan dari nenek moyang kita agar bisa diwariskan kepada anak cucu kita,” terangnya.
Umat Katolik juga diminta Hendrik menyingkirkan budaya iri dan saling mencurigai satu sama lain sehingga tidak menciptakan persaingan tidak sehat antar sesama, menyebarkan fitnah sehingga sesama, sehingga mengakibatkan nama tercemar.
“Hendaknya cahaya lilin tetap dijaga agar bukan saja menerangi kita tetapi sesama kita sehingga terang itu bisa menerangi semua dan bermanfaat bagi banyak orang ” tegasnya.
Paskah harusnya ungkap Hendrik membuat diri kita bangkit dan meninggalkan kebiasaan lama yang jelek menjadi sebuah kebiasaan baru. Bagi mereka yang suka mabuk-mabukan dan judi tidak akan melakukan hal ini lagi.
“Mari kita menyingkirkan segala penghalang yang selama ini menguasai hidup kita dan membuat hidup kita yang dipenuhi dengan segala hal negatif diubah menjadi hal positif “pungkasnya.
Siska salah seorang peziarah,mahasiswa Politani Kupang yang ditemui Cendana News usai misa mengaku senang bisa mengikuti misa malam Paskah di Gereja Katedral Larantuka meski misanya berlangsung 4,5 jam.
“Umatnya banyak sekali yang hadir mengikuti misa dan meski lama mereka tetap bertahan,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary
Source: CendanaNews
