Galang Dana untuk Korban Longsor, Warga Belang Gelar Dongkrek

JUMAT, 14 APRIL 2017

PONOROGO — Guna mendapatkan sumbangan dana untuk korban bencana longsor di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, sebanyak 80 warga Desa Belang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo menggelar kesenian Dongkrek pada Jumat (14/4/2017). Kesenian dongkrek sendiri berasal dari Madiun yang digunakan sebagai pengusir balak dan juga roh jahat.

Penari dongkrek saat keliling desa.

Kepala Desa Belang, Welas, saat ditemui Cendana News mengatakan, pihaknya memilih kesenian dongkrek karena sebagai bentuk simbol pengusiran balak dari Ponorogo, supaya Ponorogo lebih aman dari bencana.

“Selain itu biasanya kan reog yang ditampilkan, kami mencari suasana baru dengan menampilkan kesenian dongkrek ini,” jelasnya.

Kesenian dongkrek berisi para penari yang memakai atribut topeng dilengkapi dengan alunan musik yang khas. Alat musik yang digunakan kendang, bedug, pos kimpul, slenthem, gong, karawitan, orek atau korek dan kentongan. Nama dongkrek sendiri berasal dari suara dung pada kendang dan krek pada korek.

Alat musik orek atau korek.

“Dongkrek hanya ada satu di wilayah Ponorogo, ya di Desa Belang ini, makanya kami memilih kesenian dongkrek untuk ditampilkan,” ujarnya.

Penggalangan dana sendiri dimaksudkan untuk mengurangi beban warga yang terkena longsor di Banaran, Pulung. Dengan adanya pementasan seni, diharapkan bisa menambah bantuan dana.

“Kalau bantuan dana langsung sebenarnya ada, cuma nominalnya sedikit, kami ingin memberikan lebih dengan cara menarik sumbangan warga melalui pertunjukan dongkrek,” tandasnya.

Salah satu warga, Gayuh Satria, menambahkan, dirinya baru pertama kali melihat kesenian dongkrek ini ditampilkan. Ia mengaku kagum dengan kesenian yang satu ini. “Unik dan menarik, karena para penarinya memakai topeng dengan bentuk macam-macam,” tuturnya.

Welas

Selain itu, baginya dongkrek termasuk ke dalam salah satu kesenian yang harus dijaga kelestariannya. “Ini kan simbol pengusiran balak yang dikemas dalam bentuk kesenian, sangat inspiratif,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Source: CendanaNews

Lihat juga...