SABTU, 1 APRIL 2017
MAUMERE — Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, SP., mengatakan, kegiatan gebyar malam minggu terpadu yang digelar di arena Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC), di tengah pusat Kota Maumere, harus dikemas menarik dan mampu memberi manfaat kepada masyarakat luas.
![]() |
| Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, SP. |
Lokasi Pusat Jajanan dan Cinderamata yang sebelumnya merupakan areal pasar rakyat dan disulap menjadi pusat jajanan dan cinderamata oleh Pemerintah, dan mulai 1 April 2017, panggung di lokasi ini akan diisi dengan berbagai pentas seni budaya dan kreativitas lainnya, yang harus bisa bermanfaat dan memberi keuntungan bagi masyarakat. “Untuk itu, lokasi Pusat Jajanan dan Cinderamata harus dibuat lebih hidup, sehingga perlu juga digandeng pihak sekolah agar setiap malam minggu siswa-siswi juga bisa menampilkan kerativitas mereka,” ujarnya, dalam sambutan pembukaan gebyar malam minggu terpadu, Sabtu (1/4/2017).
Selain itu, tambah Rafael, harus juga melibatkan pihak desa dan kelurahan serta paguyuban atau kelompok-kelompok yang ada di masyarakat dan yang terpenting kegiatan yang dilakukan Pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana. Untuk itu, perlu dikemas menarik, sehingga masyarakat yang ingin berkreasi mau memanfaatkan panggung yang ada untuk menampilkan kreasi seni budaya mereka. “Tempat ini harus bisa dibuat lebih bergairah dengan menambah fasilitas, baik internet, penambahan lampu dan penataan taman yang lebih bagus lagi, serta penambahan kedai kuliner,” ungkapnya.
DPRD Sikka sangat mendukung langkah yang diambil Pemerintah, agar generasi muda yang selama ini setiap malam minggu hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan yang negatif seperti mabuk-mabukan dan balap liar di jalanan, bisa memanfaatkan panggung yang disiapkan untuk berkreasi dan masyarakat juga bisa mendapatkan hiburan gratis.
Salah seorang warga, Servasius Roni, ditemui Cendana News di luar pagar arena PJC, mengatakan, kegiatan pentas seni budaya dan lainnya di panggung hiburan di lokasi tersebut harus juga memberi ruang kepada kelompok sanggar seni budaya yang berada di desa-desa terpencil, yang selama ini sangat sulit manggung, agar mereka bisa mengukur sejauh mana karya mereka bisa diterima masyarakat.
Selama ini, kata Roni, kelompok kesenian yang ada di desa-desa hanya unjuk kebolehan kalau ada kunjungan pejabat ke wilayah mereka dan setelah itu mereka tidak lagi mengembangkannya, sebab tidak tahu harus pentas ke mana. “Harus diutamakan yang dari luar Kota Maumere, agar kelompok seni budaya di desa yang masih mengusung seni budaya tradisional bisa merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkreasi,” tuturnya.
Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary