Warung Rukun, Mempersatukan Wanita Lintas Etnis dan Agama

JUMAT, 24 MARET 2017

BANJARMASIN — Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) punya cara menarik untuk mempersatukan perbedaan etnis dan agama di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lembaga ini merespons merebaknya isu sentimen agama dan kesukuan lewat pemberdayaan ibu-ibu lintas agama.    

Warung Rukun di arena bazar UMKM.

Direktur LK3, Rafiqah, mengatakan, lembaganya menginisiasi pembentukan warung rukun demi mencegah perpecahan akibat perbedaan etnis di tengah masyarakat. Menurut Rafiqah, warung rukun memiliki slogan ‘Mengolah Wadai, Mengolah Damai’. LK3 mengedukasi konsep kerukunan beragama melalui penciptaan kuliner tradisional yang diolah kaum perempuan dari berbagai etnis seperti Banjar, Dayak, Flores, Jawa, dan Tionghoa.

Rafiqah menyebut, mereka sebagai perempuan potensial yang berstatus ibu tunggal asal rumah tangga berpenghasilan rendah. “Istri atau suami korban PHK, atau bersuami berkebutuhan khusus,” ujar Rafiqah di sela pameran bazar UMKM Bank Kalsel di Taman 0 Kilometer, Jumat (23/3/2017). Bank Kalsel menggelar bazar UMKM pada 23-26 Maret 2017 dalam rangkaian memperingati HUT ke-53.

Walaupun pegiat warung rukun dalam kondisi terpuruk, menurut Rafiqah, para wanita potensial lintas etnis dan agama itu tetap punya semangat untuk bangkit, belajar, dan mandiri. Melalui program Income Generating (IG), LK3 menemukan konsep bahwa dasar keimanan dan kearifan lokal setiap individu menjadi modal efektif untuk saling mendukung.

“Mengayomi sesama, bukan saling memusuhi,” demikian ia menambahkan. Menurut Rafiqah, program IG telah diinisiasi sejak 2015. Pihaknya mengklaim sedikitnya ada 100 perempuan potensial yang mampu meramu lebih dari 40 macam kue khas Banjar. Sebagian dari mereka justru telah memiliki industri rumahan yang cukup sukses di Kota Banjarmasin.

Koordinator program IG, Rakhmalina Bakhriati, mengatakan, program semacam ini memberikan pelatihan dan pendampingan perizinan, promosi, dan mencari akses pemasaran. Ia mengaku senang melihat sebagian wanita bisa bangkit dari keterpurukan. “Mengingat awalnya mereka belum punya keahlian di bidang pengolahan kuliner,” kata Rakhmalina.

Pantauan Cendana News, konsep warung rukun menawarkan aneka menu olahan dari berbagai suku bangsa. Ada makanan kue khas China, kerupuk, kerajinan anyaman, dan kue-kue khas Banjar. Pegiat juga memajang hasil olahan di dalam lemari kaca agar rapi.

Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, mengapresiasi atas inisiatif Bank Kalsel membuat arena bazar UMKM. Ia mendorong pelaku usaha UMKM lebih meningkatkan mutu produk di tengah era globalisasi dan persaingan antar daerah.

“Saya minta Bank Kalsel memprioritaskan bantuan kredit ke sektor UMKM. Pelaku UMKM di Kalimantan Selatan harus bisa bersaing,” ujar Sahbirin Noor.  

Jurnalis: Diananta P. Sumedi / Editor: Satmoko / Foto: Diananta P. Sumedi

Lihat juga...