SELASA, 28 MARET 2017
LAMPUNG — Beberapa petak kolam tanah, kolam permanen terbuat dari semen, kolam dari terpal dengan pembatas terbuat dari bambu menghiasi sebagian rumah dan pekarangan milik Ubad Badruzaman (50) warga Dusun Rajawali Desa Mekar Mulya Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.
![]() |
| Ubad dan benih ikan yang telah disiapkan untuk dijual. |
Ubad demikian ia dipanggil merupakan salah satu pembudidaya ikan air tawar yang mulai mengembangkan budidaya ikan air tawar berbagai jenis sejak 1997 hingga kini. Budidaya ikan air tawar itu merupakan usaha sampingan yang ditekuninya selain sebagai seorang guru di Peseantren Miftahul Huda 537. Jenis ikan air tawar yang dibudidayakan, mulai dari ikan nila, gurame dan bawal dengan secara khusus dijual dalam bentuk benih.
Ubad mengungkapkan jenis ikan air tawar tersebut dikirimkan ke sejumlah wilayah di berbagai kabupaten di Provinsi Lampung sesuai permintaan. Khusus untuk benih ikan Gurame, ia mengaku mendatangkan telur ikan Gurame dari wilayah Bojonegoro Jawa Tengah.
Selanjutnya telur tersebut ditetaskan di lokasi khusus untuk perkembangan hingga ukuran tertentu dan siap dipasarkan dalam bentuk benih. Sementara untuk ikan bawal, nila dan ikan tawar lainnya diperoleh indukan dari kolam yang sudah dimilikinya tanpa mendatangkan telur dari wilayah lain.
“Ikan air tawar sangat cocok dikembangkan di wilayah Palas karena memiliki banyak aliran air sungai dan saya sudah belasan tahun menekuni usaha ini selain memberi ilmu bagi murid pesantren saya, ikan yang sudah siap menjadi benih dikirim menggunakan kantong plastik beroksigen sesuai pesanan,” terang Ubad Badruzaman saat ditemui di kolam miliknya oleh Cendana News, Selasa (28/3/2017).
Ubad menegaskan, selain dirinya beberapa pembenihan ikan air tawar ditekuni oleh beberapa orang lain d iantaranya Aan, Toni yang mulai menekuni usaha sejenis di bawah bimbingannya. Ia menyebut sulitnya menetaskan ikan gurame dengan penangangan khusus membuat dirinya dikenal sebagai penetas telur ikan gurame di wilayah tersebut, sementara pembudidaya lain cukup membesarkan telur yang telah menetas dan menjualnya dengan beragam ukuran.
Telur ikan Gurame yang didatangkan dari Bojonegoro dibeli dengan jumlah rata rata per bulan mencapai 100.000 telur dengan harga Rp8 juta atau Rp80 per telur. Meski dalam jumlah banyak saat proses penetasan ia mengaku hanya sekitar 75.000 telur yang menetas atau sekitar 75 persen yang berhasil.
Kalau saja akibat proses penetasan lebih sempurna, maka akan menetas sebanyak 90.000 telur ikan Gurame. Proses penetasan diakuinya dilakukan di kolam khusus yang hanya diperbolehkan orang tertentu yang masuk di ruangan agar tidak terkontaminasi. Selanjutnya telur yang sudah menetas dipisahkan dalam bak baka khusus menunggu proses pembesaran dengan pakan cacing darah.
Saat ini bekerjasama dengan seorang rekannya bernama Toni. Mereka telah membuat 13 kolam dengan ukuran 3 meter x 14 meter, serta sejumlah kolam plastik berukuran 3 meter x 5 meter untuk pembesaran.
Saat pemesan di antaranya para pemilik kolam akan membeli biasanya berupa benih ikan dengan ukuran sekitar 35 centimeter dengan harga Rp300, ukuran 55 sentimeter dengan harga Rp500 dan ukuran 57 sentimeter dihargai Rp1000.
Dalam sebulan ia juga mengaku berhasil menjual rata rata 100.000 benih ikan berbagai jenis dominan ikan gurame, ikan bawal, ikan nila dengan omzet mencapai puluhan juta sesuai dengan ukuran ikan yang dibeli.
“Sebagian pembeli merupakan petani petambak skala besar, sementara sebagian lain pemilik kolam skala kecil dan para pengecer atau penjual benih ikan yang akan dipasarkan lagi kepada pemilik kolam,”terang Ubad Badruzaman sambil menyaring ikan yang akan dijualnya.
Dalam setahun sekitar 1,2 juta benih ikan bahkan lebih diakuinya khusus untuk ikan gurame belum termasuk ikan bawal, nila berhasil dipasarkannya. Ubad dibantu para santri yang belajar proses pembenihan serta menetaskan telur ikan gurame.
Dia menularkan ilmu budidaya ikan air tawar kepada sejumlah santrinya dan kepada orang yang hendak belajar budidaya ikan air tawar. Selain menjadi penghasilan bagi keluarganya, ia mengaku sebagian uang hasil penjualan benih ikan tersebut dipergunakan untuk pengembangan pesantren tempatnya mengabdikan diri.
Menurut Ubad beberapa warga lain telah mengikuti jejaknya melakukan budidaya ikan air tawar karena hasilnya cukup menjanjikan. Selain bisa menambah penghasilan, potensi lahan yang berada di dekat areal persawahan membuat sebagian petani mengembangkan pola mina padi atau pengembangan budidaya ikan air tawar dengan padi. Bagi pemilik lahan pekarangan minim ia pun memberi pelatihan tata cara membudidayakan ikan dengan kolam terpal.
Proses pembuatan kolam terpal diakuinya membutuhkan biaya sekitar Rp700 ribu terutama untuk bahan pembuatan dari bambu, paku serta terpal yang kuat serta untuk upah tenaga kerja. Kolam terpal tersebut selain menghemat penggunaan lahan sekaligus bisa dipergunakan untuk efesiensi biaya karena pembuatan kolam dengan semen membutuhkan biaya cukup mahal sementara penggunaan kolam terpal lebih murah.
“Saya memberikan pelatihan secara gratis bagi siapapun yang ingin belajar karena semakin banyak orang yang bisa membudidayakan ikan sebetulnya bisa meningkatkan perekonomian keluarga dan ini saya tanamkan ke para santri,”ungkap Ubad.
Ke depannya, Ubad masih akan membeli lahan karena keterbatasan lokasi untuk membuat kolam. Penambahan lahan tersebut diakuinya terutama di wilayah yang dekat dengan air selain dipergunakan untuk pengembangan budidaya ikan air tawar jenis nila, gurame dan bawal ia akan membuat kolam pemancingan yang bisa disewakan sekaligus untuk lokasi rekreasi memancing.
Selama ini ia mengaku benih ikan air tawar yang dimilikinya cukup berlimpah namun ia masih memiliki keterbatasan dalam lahan untuk budidaya.
![]() |
| Ubad di lahan kolam semen dan terpal miliknya di Desa Mekar Mulya Palas. |
Jurnalis: Henk Widi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
