SABTU, 25 MARET 2017
PONOROGO — Tiwul termasuk ke dalam salah satu kuliner tradisional asli Ponorogo, Jawa Timur. Terbuat dari bahan dasar ketela yang dikeringkan. Bentuk tiwul berupa butiran-butiran berwarna kecoklatan. Namun, makanan khas ‘ndeso’ ini sejak lama mulai jarang yang membuatnya.
![]() |
| Fera Nuraini menunjukkan tiwul instan buatannya. |
Untuk mengobati kerinduan akan makanan ‘ndeso’ ini, warga Desa Kunti, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Fera Nuraini (32), membuat tiwul instan siap saji dan menjualnya secara online. Jika biasanya tiwul langsung cepat basi dalam sehari, tiwul instan buatan Fera ini mampu bertahan hingga enam bulan.
Fera mengatakan, ide awal pembuatan tiwul instan ini berawal dari dari pengalamannya sendiri ketika merantau jauh dari kampung selama 10 tahun, dan merasakan rindu akan makanan kampung, salah satunya tiwul. “Jadilah saya menggeluti tiwul instan ini, sejak delapan bulan lalu,” jelasnya kepada Cendana News, Sabtu (25/3/2017).
Fera menjual tiwul instan melalui online dan menyasar orang-orang yang jauh dari kampung halaman, seperti para buruh migran yang di luar negeri. Ia menjual tiwul instan buatannya seharga Rp8.000 per bungkus. Dalam sehari, ia mampu memproduksi 40-50 kilogram tiwul kering setiap bulan.
Sementara itu dalam membuat tiwul, Fera mengandalkan sinar matahari untuk pengeringan. Hal ini menjadi kendala tersendiri di saat musim hujan. Sedangkan untuk mengeringkan menggunakan oven, hasilnya tidak maksimal. Selain cuaca, Fera juga terkendala stok ketela yang di musim hujan cukup terbatas. Akibat musim hujan itu, Fera pernah tidak bisa berproduksi selama sebulan.
Adapun cara membuat tiwul, pertama-tama ketela yang sudah dikeringkan atau gaplek, dikukus kurang lebih selama satu jam, lalu dikeringkan kembali hingga benar-benar kering. Setelah itu, dikemas. “Selain tiwul instan, saya juga membuat gatot instan dan nasi jagung instan,” tuturnya.
Meski hanya dibantu ibunya, Fera bersyukur, karena dari menjual tiwul itu ia mampu menghidupi keluarganya. “Per bulan tidak tentu omzetnya, soalnya saya masih mengandalkan sinar matahari untuk pengeringan ketela, rasanya lebih terjaga dibandingkan dengan oven,” katanya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Charolin Pebrianti