LAMPUNG — Siapa yang menanam pohon dengan tekun dan kesungguhan hati akan memetik buahnya. Ungkapan ini pas benar buat warga Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan bernama Sarifah, 47 tahun.
![]() |
| Sarifah sedang melayani pelanggannya. |
Berbekal modal sisa peninggalan orangtua Sarifah mengaku sempat mencoba peluang usaha budidaya udang windu dengan modal sekitar Rp10 juta pada 2010. Uang itu digunakan terutama untuk menyewa 4 petak tempat budidaya udang windu dengan biaya sewa satu tahun Rp5 juta.
Usaha yang sempat memberinya keuntungan tersebut selanjutnya digunakan untuk membangun sebuah warung yang dipergunakan sebagai lokasi berjualan makanan tradisional berupa pecel, karedok, soto, gorengan serta warung makanan kecil. Sarifah belajar memasak secara otodidak.
Keputusan untuk berjualan makanan tersebut diambilnya saat ia telah memiliki modal dari budidaya udang windu dengan sistem sewa dan telah memberinya cukup keuntungan. Saat akhir masa sewa diakuinya saat itu dia mengaku memiliki uang sekitar Rp12 juta namun diurungkannya niat untuk meneruskan usaha tambak dan dimantapkannya untuk memulai usaha berjualan makanan tradisional.
“Selain karena memikirkan tiga orang anak yang masih sekolah saya memutuskan untuk usaha berjualan pecel serta makanan tradisional lain sebagai penyambung hidup dan juga untuk membiayai anak sekolah yang saat ini si bungsu duduk di bangku sekolah menengah atas,” ungkap Sarifah saat ditemui Cendana News yang berada di warung penjualan makanan tradisional miliknya di Jalan Lintas Timur Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang,Selasa (14/3/2017)
Warung yang dikelolanya dikenal pelanggannya sebagai warung bawah pohon mangga Pematang Pasir. Mereka adalah para pekerja swasta,pegawai bank swasta serta para pedagang keliling sejak pagi hingga sore hari. Meski demikian dia mengaku untuk berjualan makanan tradisional tersebut pada hari biasa membutuhkan modal sekitar Rp 400 ribu dan saat hari Minggu bisa mencapai Rp500 ribu.
Biasanya Sarifah membeli bahan untuk usaha kulinernya dari Pasar Tradisional Sidoasih yang berada di dekat rumahnya. Omzet dari usaha kulinernya hanya ratusan ribu rupiah per hari. Dari keuntungan itu ia dan keluarganya bertahan hidup. Sarifah hingga kini tetap berjualan makanan tradisional mengaku telah memiliki satu orang cucu dan tetap akan berjualan makanan tradisional
Ditinggal oleh sang suami dan hampir sembilan tahun menjadi seorang janda sekaligus orangtua tunggal bagi ketiga anaknya yang sebagian sudah menikah dan bekerja sementara kini dia tetap berjuang berjualan untuk menyelesaikan sekolah anaknya yang bungsu. Sementara untuk hasil dari berjualan soto ayam,gado gado,karedok serta pecel diakuinya sudah bisa memberi nafkah untuk anak anaknya sekolah.
“Selama ini memang setelah suami saya meninggal usaha yang menjadi tempat untuk menggantungkan hidup saya hanya membuka warung dan berjualan makanan tradisional ini,” terang Sarifah.
Salah satu pelanggan soto ayam dan pecel di warung yang dikelola Sarifah, di antaranya Masnawati (23). Karyawati sebuah bank perkreditan rakyat mengungkapkan menyukai pecel dan soto ayam yang dijual di warung tersebut karena komposisi rasa bumbu yang cukup pas di lidahnya. Ia selalu memesan soto ayam saat jam makan siang bersama rekan rekannya sembari menikmati makan di bawah pohon mangga.
“Tempatnya sejuk dan kebetulan saya salah satu kawan anaknya bu Sarifah jadi dengan ikut membeli saya bisa membantu keluarganya yang sudah tidak memiliki kepala keluarga,” terang Masnawati.
Memiliki banyak konsumen sebagian dari karyawan dari bank perkreditan membuatnya dipercaya untuk meminjam dan menabung di Bank Perkreditan Rakyat. Sarifah diberi kemudahan peminjaman dan menabung setiap hari dan setiap minggu.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi