Ribuan Pelajar di Limapuluh Kota Membutuhkan Pakaian Sekolah

SELASA 7 MARET 2017

PADANG—Banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), tidak hanya merusaki infrastruktur jalan tetapi juga berdampak terhadap pendidikan. Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit yang datang langsung ke lokasi pasca bencana banjir dan longsor di Kecamatan Pangkalan kemarin. 

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit saat meninjau lokasi pascabanjir di Pangkalan.
 
Wagub mengungkapkan berdasarkan laporan dari Dinas Pendidikan Limapuluh Kota, ada sekira ribuan pelajara yang saat ini benar-benar membutuhkan pakaian sekolah, mulai dari siswa/siswi SD hingga SLTA sederajat.

“Ketika saya datang ke lokasi banjir kemarin itu, sungguh membuat saya sedih apalagi melihat warga yang bergelumuran lumpur saat membersihkan rumah mereka. Barang-barang isi rumah dikeluarkan, seperti kasur, lemari, pakaian, dokumen dan yang lainnya,” ujar Nasrul, yang ditemui sore ini di Padang, Selasa (7/3/2017).

Menurutnya, dari sejumlah warga yang ditemuinya saat membersihkan rumah dari material banjir mengakui, banyak barang-barang rumah yang tidak bisa digunakan lagi, terutama pakaian, kasur dan dokumen yang sudah dikotori oleh lumpur. Tak terkecuali pakaian para pelajar, baju yang berwarna putih itu berubah menjadi coklat, dan sepatu sekolah pun entah hanyut ke mana.

Namun, khusus untuk pakaian sekolah, Narsul menyampaikan telah meminta kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar berkoordinasi dengan BPBD di kabupaten/kota supaya mengumpulkan pakaian sekolah yang layak untuk dipakai, terutama untuk pakaian sekolah SD hingga SLTA sederajat.

Nasrul menilai, jika 18 kabupaten/kota bersedia membantu memberikan pakaian sekolah yang layak dipakai, maka akan sangat membantu para pelajar di Limapuluh Kota yang saat ini sangat berharap ada bantuan pakaian sekolah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Limapuluh Kota, Radimas mengatakan, hingga data kemarin ada sebanyak 25 sekolah dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pangkalan, Harau, Lareh Sago Halaban, dan Mungka yang terdampak bencana.

Kerusakan dan kerugian yang diakibatkan bencana banjir dan longsor itu  yakni buku, meja belajar, media pelajaran, komputer dan meubeler. “Sekolah-sekolah yang terkena banjir itu telah dibersihkan dari sisi material nya, yang dibantu oleh dinas pemadam kebakaran melalui semprotan air, dan juga turut dibantu oleh sejumlah mahasiswa yang merupakan relawan yang turun ke lokasi bencana,” jelasnya.

Dikatakannya, dari 25 sekolah itu ada sebanyak 2.109 siswa yang mulai dari TK hingga SLTP sederajat. Selain itu, mengingat akan memasuki Ujian Nasional (UN) pada April 2017 mendatang, Radimas menegaskan, tidak akan menggangu pelaksanaan UN nanti. Sementara terkait komputer yang rusak akibat direndam banjir, bukan merupakan sekolah yang akan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...