MINGGU, 5 MARET 2017
YOGYAKARTA — Dalam rangka ‘Pengetan Hadeging Kadipaten Pakualaman’ atau Peringatan Ke-211 Berdirinya Kadipaten Pakualaman menurut hitungan kalender Jawa, atau ke-205 tahun dalam hitungan Masehi, Kadipaten Pakua Alaman Yogyakarta, menggelar acara mujahadah bersama sejumlah tokoh agama di Lapangan Sewondanan, Paku Alaman.
![]() |
| Suasana mujahadah di Puro Paku Alaman |
Mujahadah ini menghadirkan para tokoh lintas agama, di antaranya Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, KH Abdul Muhaimin, serta sejumlah tokoh dari berbagai agama lain baik, Nasrani, Hindu, Budha, hingga tokoh Kejawen dan Sunda Wiwitan.
Dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara mujahadah dihadiri ribuan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Dalam sambutannya, Adipati Kadipaten Paku Alaman, Sri Paduka Paku Alam X, mengatakan, umat beragama saat ini tengah mengalami berbagai persoalan yang mengakibatkan terjadinya dekadensi moral di tengah masyarakat. Guna mengatasi penurunan nilai keagamaan yang terjadi di tengah masyarakat tersebut diperlukan solusi riil. Salah-satunya dengan melakukan gerakan-gerakan moral melalui muhasabah dengan berdzikir bersama sebagai upaya pelatihan rohani sekaligus perjuangan spiritual.
“Agar selalu tetap bersih, manusia memerlukan proses laku spiritual dalam menjalani hidupnya. Yakni mukharobah atau menumbuhkan keyakinan di dalam hati untuk selalu dekat dan percaya kepada Tuhan, muhasabah atau introspeksi diri, serta muhajadah atau berjuang dengan sungguh-sungguh,” kata Sri Paduka PA X melalui Juru Bicara Puro Paku Alaman, Kanjenng Pangeran Haryo Kusumo Parasto.
Sementara itu, ketua umum panitia peringatan Hadeging Kadipaten Paku Alaman, KPH Indrokusumo, menyatakan, berdasarkan sejarahnya Kadipaten Paku Alaman didirikan sebagai upaya untuk memecah-belah Keraton Yogyakarta. Namun, hingga kini hal itu tidak berhasil, yang dibuktikan dengan sikap Kadipaten Paku Alaman yang selalu menyokong Keraton Yogyakarta. Bahkan, setelah era kemerdekaan, Raja Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman bersatu dalam memimpin DIY.
“Dalam rangka Pengetan Hadeging Kadipaten Paku Alaman ini, Kadipaten Paku Alaman menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya serbagai bentuk upaya nguri-nguri (melestarikan -red) kebudayaan agar kita tidak tergerus budaya asing. Hal ini juga sesuai dengan komitmen Sri Paduka Paku Alam, saat jumenengan (pelantikan –red) sebagai pengemban kebudayaan, ” katanya.
Selain mujahadah yang digelar pada Sabtu (4/3/2017), malam, Kadipaten Paku Alaman Yogyakarta juga menggelar sejumlah kegiatan lain, mulai dari acara adat dan religi, hingga sejumlah lomba yang bisa diikuti masyarakat umum. Seperti sayembara macapat, jemparingan mataraman tingkat nasional, lukis, mewarnai corak batik Paku Alaman, tembang jawa dolanan anak, tari klasik, hingga festival sepeda hingga pacuan kuda.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana