JUMAT, 24 MARET 2017
SEMARANG — Ratusan Pedagang Pasar Johar yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Jasa (PPJ) merasa resah dengan kabar simpang siur mengenai waktu relokasi. Akibat hal tersebut distributor besar sudah mulai menghentikan stock barang kepada mereka, padahal saat ini mereka tengah bersiap untuk menyambut bulan Puasa dan Idul Fitri.
![]() |
| Kios Pedagang Pasar Johar yang akan direlokasi. |
Menurut Wakil Ketua PPJ, Slamet Santoso pedagang hanya mengandalkan stok barang lama karena pasokan dari distributor sudah mulai tersendat. Jika hal ini dibiarkan terus dikhawatirkan banyak pedagang yang akan merugi, karena biasanya menjelang bulan puasa banyak masyarakat yang berbondong-bondong ke pasar untuk membeli sembako.
Selain itu mereka juga mengeluh karena tempat relokasi yang baru lahan Pasar Johar Lama akses transportasinya tertutup sehingga pembeli tidak akan mau untuk berbelanja. Karena itu Slamet menyarankan agar tempat relokasi baru juga dilengkapi dengan sub terminal bus kota.
“Kalau cuma sub terminal angkutan kota biasanya jarang masuk terminal jika penumpangnya sudah sedikit, rata-rata langsung putar balik,” ujar Slamet saat ditemui CDN (24/03/2017).
Kepastian tempat relokasi juga menjadi kecemasan tersendiri, PPJ menginginkan jika akhirnya mereka pindah bukan dilakukan secara tergesa-gesa tetapi terlebih dahulu harus ada jaminan dari pemerintah bahwa tempat yang baru sudah rampung dikerjakan.
![]() |
| Wakil Ketua PPJ Slamet Santoso. |
Mereka beralibi saat melihat Detail Engineering Design (DED) anggaran yang direncanakan pemerintah untuk membangun lokasi yang baru hingga rampung mencapai Rp800 Milliar Padahal tiap tahun Pemkot hanya mengalokasikan Rp50 milliar sehingga dibutuhkan waktu 16 tahun untuk menyelesaikan pasar baru.
“Apalagi wali kota kemarin sudah mengatakan tidak akan menggandeng pihak ketiga untuk membangun Pasar Johar baru, jadi dipastikan selesainya lama,” terangnya.
Kecemasan pedagang dianggap wajar karena berkaca pada kejadian di Pasar Mranggen di mana sebagian besar pedagang sudah direlokasi. Padahal pasar yang baru belum selesai dibangun walaupun sudah dilakukan selama lima tahun. Akhirnya banyak pedagang yang bangkrut.
Karena itu Slamet tidak mau mempertaruhkan nasib 850 pedagang Pasar Johar untuk pindah ke tempat yang baru walaupun keputusan sepenuhnya tetap diserahkan kepada pemerintah.
Sementara itu wakil Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi menilai belum ada urgensinya jika para pedagang dipindahkan sekarang dikarenakan Pasar Johar lama masih dalam proses pelelangan. Jika dipaksakan kalangan legistatif khawatir malah akan terjadi pemborosan biaya relokasi, selain itu dipastikan pelanggan akan lari karena lokasinya yang belum selesai.
Lebih lanjut dirinya juga akan mengundang Dinas Perdagangan dan Pedagang Pasar Johar untuk menangguhkan pemindahan karena alasan yang dikemukakan oleh PPJ dirasa cukup realistis. Apalagi kedudukan pedagang di pasar tertua di Kota Semarang adalah penyangga perekonomian rakyat.
Mengenai anggaran yang sudah dialokasikan oleh Pemkot kemungkinan masih bisa ditangguhkan ketika di lapangan pihaknya menemukan fakta baru yang bisa membuat pedagang terlantar.
“Walaupun sudah dianggarkan 50 milliar rupiah tetapi masih bisa ditangguhkan sampai legistatif tahu permasalahan yang sesungguhnya,” tukas Supriyadi mengakhiri pembicaraan.
![]() |
| Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi. |
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin

