MAUMERE — Peringatan hari ulang tahun yang ke- 43 yang dirayakan 17 Maret 2017, meninggalkan pekerjaan rumah tersendiri bagi kalangan perawat. Masih banyak perawat yang menganggur di rumah dan bekerja sebagai pelayan di toko-toko di Kota Maumere.
![]() |
| Benediktus Kaki (kanan) bersama Ketua Panitia HUT PPNI ke-43 Martinus Hartadi. |
Bahkan yang lebih miris lagi, banyak perawat yang rela bekerja, seperti di rumah sakit pemerintah RSUD TC Hillers Maumere, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di 21 kecamatan, dan pondok bersalin desa (Polindes) yang tersebar di seantero wilayah Kabupaten Sikka sebagai tenaga kerja suka rela tanpa dibayar.
Tantangan ini yang coba dijawab dan diperjuangkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sikka agar para perawat bisa diakomodir untuk bekerja di berbagai sarana pelayanan kesehatan dengan diberikan honor yang layak.
Banyak perawat yang rela bekerja tanpa digaji agar ilmu yang sudah didapat bisa diterapkan dan tidak mati. Mereka pun terpaksa menerima uang seadanya yang hanya habis untuk biaya transportasi atau makan minum selama bekerja.
Gaji Minim
Kendala ini yang disampaikan Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sikka, Benediktus Kaki, S.Kep., saat ditemui Cendana News usai kegiatan apel bendera di lapangan Kota Baru Maumere, Jumat (17/3/2017).
Dikatakan Benediktus, jumlah perawat di Kabupaten Sikka yang terdaftar sekitar 800 orang dan saat ini PPNI Sikka sedang melakukan pendataan anggota riil sebab ada yang PNS, bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan swasta, tenaga kerja sukarela, bahkan ada tenaga perawat yang masih menganggur dan bekerja di toko.
“Kami merasa sangat prihatin sebab masih banyak perawat yang bekerja sebagai pelayan toko dan pekerjaan lainnya. Bahkan ada yang hanya menganggur di rumah dan kami sudah sampaikan ke PPNI provinsi untuk diperjuangkan,” ungkapnya.
Situasi ini, sebut Benediktus, menjadi tantangan yang dihadapi pihaknya sehingga saat ada demo di Jakarta Kamis (16/3/2017) permasalahan ini juga disampaikan ke DPR dan pemerintah agar para tenaga suka rela bisa diangkat menjadi pegawai negeri guna mengangkat derajat perawat.
Ditambahkan Benediktus, memang saat ini organisasinya merasakan kendala tersebut sebab upah kerja bagi perawat yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan masih belum layak. Menjadi beban bagi pengurus PPNI untuk diperjuangkan ke depan.
“Agar tenaga perawat bisa maksimal dalam tugasnya, maka dia harus diberikan pendapatan yang layak agar bisa konsentrasi dengan tugas dan pelayanannya. Sebab dengan gaji 500 ribu rupiah, bagaimana seorang perawat bisa membiayai hidupnya. Gaji yang sangat minim itu,” ungkapnya.
Tingkatkan Pelayanan
Hendrika Nona, salah seorang warga yang ditemui Cendana News di lapangan Kota Baru saat mengikuti kegiatan apel mengakui, tetangganya yang memiliki anak seorang perawat lulusan Makassar Sulawesi Selatan tahun 2015, saat ini hanya membantu orang tuanya di rumah setelah setahun bekerja sebagai tenaga suka rela di Puskesmas.
“Orang tuanya merasa beban sebab harus mengeluarkan uang untuk ongkos transportasi dan makan minum selama bekerja sementara anaknya tidak mendapat gaji,” ujarnya.
Dirinya berharap, pemerintah daerah segera melakukan pendataan kebutuhan tenaga perawat di Kabupaten Sikka dan bila ada kelebihan tenaga maka bisa membangun komunikasi dengan kabupaten lain di NTT agar tenaga perawat di Sikka bisa bekerja di daerah tersebut.
“Para perawat juga harus bisa lebih ramah dan murah senyum dalam melayani pasien sehingga pasien yang sedang stres menghadapi penyakitnya bisa cepat sembuh,” ungkapnya.
Banyak perawat di RSUD TC Hillers, sebut Hendrika, yang cerewet dan suka cemberut bila pasien rewel dan banyak bertanya kepadanya. Padahal, mereka merupakan pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar.
Benediktus, selaku Ketua PPNI Sikka pun mengakui, berharap dengan HUT PPNI kali ini, para perawat dapat bekerja lebih profesional agar dapat disenangi dan disayangi masyarakat di Kabupaten Sikka, khususnya yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah.
Pada dasarnya, perawat, lanjutnya, merupakan garda terdepan yang siap mem-back up semua jenis pelayanan yang ada di sarana pelayanan baik di rumah sakit, Puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu) maupun Polindes yang ada di desa.
“Masyarakat sering bertanya tentang standar pelayanan kesehatan di Sikka dan masyarakat menanyakan kenapa perbedaan pelayanan di rumah sakit swasta lebih baik dibandingkan di sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah,” tuturnya.
PPNI Sikka, sebut Benediktus, menyadari itu sehingga pihaknya terus melakukan pembinaan dan pengawasan di unit-unit pelayanan agar perawat bisa bekerja secara profesional, harus dengan senyum, dan hati yang gembira agar masyaraat juga merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.
![]() |
| Para perawat di Kabupaten Sikka saat kegiatan di lapangan umum Kota Baru Maumere. |
“Dalam semangat HUT PPNI ini, kita harus meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tidak pilih kasih. Sebab ini juga menjadi keluhan dari masyarakat di Kabupaten Sikka,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
