KAMIS, 9 MARET 2017
YOGYAKARTA — Kawasan RW 06 Kampung Ponggalan dan Karangmiri, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta, sepintas tak ubahnya kampung lainnya. Masyarakatnya hidup di tengah arus modernitas dengan berbagai pengaruh dan perkembangannya.
![]() |
| Masiran Sasmito. |
Namun di balik semua itu, ternyata kampung yang berada tak jauh dari Terminal Bus Giwangan Yogyakarta ini masih menjaga dan melestarikan kesenian tradisional peninggalan para leluhur. Salah satunya adalah kesenian musik tradisional gejog lesung dan tek-tek kentongan.
Kampung RW 06 Ponggalan dan Karangmiri ini bahkan menjadi satu-satunya kampung di sekitar kawasan Giwangan yang masih melestarikan kesenian musik tradisional dengan alat sederhana ini. Mereka selalu tampil di semua even kegiatan kesenian dan budaya baik di tingkat kelurahan, kecamatan maupun Kota Yogyakarta dan DIY.
“Sebenarnya sejak dulu kesenian musik tradisional gejog lesung dan tek-tek kentongan sudah ada di kampung ini. Kesenian ini merupakan bagian dari tradisi budaya masyarakat sekitar Giwangan. Jadi, kita hanya melestarikan dan meneruskan simbah-simbah kita dulu,” ujar Ketua RW 06 Giwangan, Masiran Sasmito, Kamis (09/03/2017).
Gejog lesung sendiri merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang memanfaatkan lesung atau alat penumbuk padi dari kayu. Biasa dimainkan oleh kaum perempuan, gejog lesung pada zaman dahulu biasa digunakan sebagai musik pengiring kesenian tradisional ketoprak dan sebagainya. Sebagian masyarakat bahkan memakai gejog lesung ini dalam upacara adat hingga penolak bala.
Sementara tek-tek kentongan, merupakan kesenian musik tradisional yang memanfaatkan sejumlah alat musik dari bambu atau kentongan. Pada zaman dahulu tek-tek kentongan ini biasa digunakan warga dalam kegiatan pos kamling atau ronda untuk menjaga keamanan desa.
“Gejok lesung biasa dimainkan oleh 6 orang ibu-ibu penabuh serta 3 orang sinden. Sementara tek-tek kentongan biasa dimainkan sekitar 15 orang pemuda laki-laki. 7 orang memainkan kentongan, sementara sisanya sebagai penyanyi,” ujar warga Ponggalan penggiat kesenian ini, Nur Wahyudi.
Meski telah ada sejak lama, Masiran mengakui, kesenian musik tradisional gejog lesung dan tek-tek kentongan di kampungnya sempat vakum dan mati. Hal itu terjadi karena tak ada lagi warga yang tertarik memainkan kesenian tradisional itu. Hingga akhirnya sejumlah sesepuh kampung berupaya menghidupkan kembali kesenian itu.
“Memang dulu kesenian ini sempat berhenti. Selain karena alat musik yang kita miliki sudah rusak, banyak warga khususnya kaum muda yang tak lagi sempat memainkan kesenian ini karena kesibukan. Hingga akhirnya kita berupaya untuk menghidupkannya lagi,” katanya.
Dengan dana swadaya masyarakat kampung, warga pun bersama-sama membuat alat musik tek-tek kentongan sendiri. Mereka juga mencari alat penumbuk padi sebagai alat musik utama gejog lesung. Sejumlah pemuda kampung digalakkan untuk berlatih kembali. Pengurus masing-masing kesenian tradisional itu juga dibentuk sebagai upaya melestarikan dan mencari regenerasi pemain.
![]() |
| Nur Wahyudi menunjukkan alat musik tek-tek kentongan. |
“Kita tidak punya keinginan apa-apa. Hanya sekadar melestarikan tradisi budaya simbah-simbah kita saja. Supaya tidak hilang. Sehingga anak cucu kita kelak tetap bisa melihat dan mendengar langsung seni tradisi ini,” katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
