Damandiri Pelopor Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

SENIN, 27 MARET 2017

JAKARTA — Yayasan Damandiri yang berdiri pada 1996 merupakan yayasan yang memiliki tujuan utama ikut serta membantu masyarakat di dalam proses pemberdayaan keluarga miskin. Ketua Yayasan Damandiri, Soebiakto Tjakrawerdaya, menjelaskan, keluarga miskin merupakan tantangan besar atau pekerjaan rumah bangsa Indonesia karena jumlah keluarga miskin di Indonesia masih dalam jumlah yang cukup besar. Dalam perhitungan UNDP masih sekitar 140 juta dengan ukuran dalam sehari per kepala keluarga pendapatannya Rp20 ribu.

Ketua Yayasan Damandiri, Soebiakto Tjakrawerdaja dan salah seorang dari perwakilan Posdaya yang mendapat penghargaan.

Demikian paparan Ketua Yayasan Damandiri, Soebiakto Tjakrawerdaja, dalam syukuran ulang tahun Yayasan Damandiri ke-21 di Universitas Trilogi Jakarta, Senin (27/3/2017). Tantangan Damandiri mencoba menjawab persoalan kemiskinan tersebut dengan 3 tahun yang lalu telah merealisasikan sistem kredit untuk usaha mikro yang dinamakan kredit Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera). Kredit ini diberikan maksimum Rp2 juta karena memang skala mikro dan tanpa agunan. Karena masalah agunan merupakan masalah yang paling utama yang dihadapi oleh pengusaha mikro. Sejauh ini, Damandiri sudah menempatkan dana Rp32,6 miliar dan sudah berputar menjadi Rp114 miliar kepada 339 kelompok termasuk kelompok Posdaya.

Kelompok ini tidak hanya menerima kredit tetapi diwajibkan untuk menyimpan simpanannya yang sekarang sudah berjumlah Rp5,3 miliar. Yang menarik dari kelompok ini hanya memiliki tunggakan sebesar 3% dan itu merupakan prestasi yang luar biasa. Selain itu, melalui kredit Tabur Puja juga melaksanakan kerja sama dengan 12 koperasi dan juga dengan BPR Nusamba yang juga telah mengeluarkan dana sekitar Rp3 miliar lebih. Nasabah yang dilayani lebih dari 1000 orang dan sebanyak 158 kelompok komunitas. Disamping itu Damandiri telah membentuk 55 ribu kelompok Posdaya di Indonesia. Setiap tahunnya kelompok-kelompok Posdaya ini diberikan penilaian yang nantinya akan diberikan penghargaan kepada kelompok Posdaya  terbaik.

Posdaya-posdaya ini oleh Damandiri dilatih dan dididik untuk mampu melayani atau mampu menyalurkan kredit mikro tanpa agunan kepada usaha mikro, kepada keluarga miskin terutama yang baru mau berusaha dengan memberikan modal kepada keluarga miskin tersebut. Selama ini, para keluarga miskin mendapatkan modal atau mendapatkan bantuan modal dari rentenir- rentenir yang bunganya mencekik peminjam modal.
Dengan adanya Posdaya ini, memberikan solusi untuk masyarakat miskin yang ingin mendirikan usaha tanpa perlu lagi mendatangi rentenir. Dengan memberikan modal awal sebesar Rp2 juta tanpa agunan.

Agunan yang digunakan dalam Posdaya adalah agunan tanggung renteng atau kelompok yang terdiri dari 100 orang dibagi menjadi sub-sub kelompok, dan setiap sub kelompok terdiri dari 10 orang. Di situlah mereka bertanggung renteng supaya mereka mempunyai akses permodalan yang disediakan kepada kelompok ini yang merupakan cabang dari koperasi. Sebanyak 12 koperasi memiliki anggota sekitar 40 ribu orang telah menikmati kredit yang diberikan koperasi tersebut. Data yang ada dari perbankan BI maupun OJK, mereka adalah pihak yang tidak tersentuh perbankan.

Ini adalah bentuk nyata dan terobosan dari Damandiri untuk memenuhi anjuran dari PBB dan pemerintah yang dinamakan financial inclucion. Dana yang dikeluarkan untuk program ini sekitar Rp30 miliar untuk kredit Tabur Puja bagi  hampir 40 ribu masyarakat miskin yang sudah tersentuh oleh koperasi. Yang menarik lagi adalah kelompok tersebut dapat meningkatkan kapasitasnya. Damandiri  memberikan kepercayaan pada mereka untuk mengelola sendiri dana yang telah diberikan. Sistem tanggung renteng itulah yang menjadikan kelompok-kelompok Posdaya diberi akses mengelola dana tersebut.

Peranan dari Damandiri kepada kelompok Posdaya dapat dikatakan sangat besar demi mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Dapat dilihat dari dialog salah satu peserta Posdaya yakni Posdaya Jingga dari Jakarta yang anggotanya sudah mencapai sekitar 330 orang. Menyatakan bahwa salah satu jalan mengentaskan kemiskinan dengan adanya pendidikan yang merata. Gerakan pendidikan di Posdaya Jingga ini sudah berjalan dengan adanya PAUD.

Dalam bidang kesehatan adanya posyandu-posyandu sangat membantu masyarakat terutama sudah berkurangnya angka kematian ibu hamil dan sebagainya. Untuk bidang ekonomi, kredit Tabur Puja yang sudah dilayani dari kelompok Posdaya Jingga sekitar 165 orang. Posdaya Jingga merupakan salah satu Posdaya yang tidak ada kredit macetnya selama 2 tahun belakangan ini. Manfaat kredit Tabur Puja yang diberikan oleh tiap-tiap Posdaya merupakan tempat yang strategis untuk keluarga pra sejahtera yang bernilai sangat membantu mereka.

Beberapa bulan yang lalu Damandiri telah memperkenalkan kepada kelompok untuk mengelola secara mandiri yang sebelumnya dilayani oleh koperasi sekarang diberikan kepercayaan penuh kepada kelompok untuk melaksanakan sendiri kreditnya juga proses administrasinya. Setiap kelompok diberikan 2 juta untuk diputar atau dikelola. Bekerja dengan sepenuh hati, dengan kasih sayang, menjalankan amanah dengan penuh istiqomah dan konsisten, itulah yang menjadikan kelompok Posdaya Jingga menjadi salah satu Posdaya yang dipercaya oleh masyarakat di wilayahnya.

Ke depan Damandiri akan membangun lebih luas lagi adanya desa yang dinamakan Desa Lestari. Dalam desa ini tidak hanya bidang ekonomi saja yang menjadi perhatian, tetapi akan mencakup bidang lainnya seperti pendidikan dan kesehatan. Desa Lestari saat ini baru saja berjalan dan akan membangun 16 Desa Lestari. Yang baru saja dimulai di Desa Pesanggunan Brebes, Trirenggo Bantul, Argomulyo Bantul, Samiran Boyolali, dan Desa Madura di Cilacap yang saat ini sedang diproses.

Titiek Soeharto bersama Soebiakto Tjakrawerdaja dan kelompok paduan suara Universitas Trilogi.

Di dalam desa itu nantinya diharapkan semua anak harus sekolah, mulai dari PAUD sampai SMA selama 12 tahun. Apabila ada yang tidak sekolah akan dibiayai oleh Damandiri untuk bersekolah melalui kejar paket A maupun B. Kemudian untuk aspek kesehatan semua orang harus mendapatkan gizi yang bagus, puskesmas, dan posyandunya juga harus berjalan. Untuk aspek lingkungan akan diadakan program kebun bergizi di pekarangan rumah para anggota.

Jurnalis: M. Fahrizal / Editor:  Satmoko / Foto: M. Fahrizal

Lihat juga...