Belanja Online, Perlu Hati-hati dan Kritis

RABU, 15 MARET 2017

PADANG — Di era majunya information technology (IT), berbagai hal bisa dilakukan, termasuk dalam berbelanja yang bisa dilakukan secara online, tinggal pilih sesuai keinginan, bayar, dan tunggu barang yang dipesan langsung diantarkan ke rumah. Namun, transaksi online tak semuanya mulus sesuai prosedur dan tak sedikit juga konsumen yang dirugikan ataupun tertipu dari belanja online tersebut.

Milna yang tengah mencoba mengakses akun yang menipu dirinya saat bertransaksi.

Seperti halnya yang dialami Milna, seorang karyawan di salah satu perusahaan di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) yang pernah melakukan belanja online melalui instagram. Baju yang dibelinya dengan harga Rp175 ribu tidak sesuai harapan dan bahkan jauh lebih murah dari harga di pasar ketimbang dengan belanja online tersebut.

“Jika dilihat dari fotonya, bajunya bagus-bagus dan perkiraan saya sesuailah dengan harga Rp175 ribu itu. Ternyata, setelah saya pesan dan barangnya saya terima, sungguh membuat saya kecewa. Karena jenis kainnya tidak bagus, mudah rusak, tipis pula, dan bahkan satu kali pakai saja sudah rusak dan robek,” ujarnya, Rabu (15/3/2017).

Ia mengakui, telah menghubungi pihak yang menjual baju tersebut, namun tidak ada respons meski ia menuliskan komentar terkait barang yang diterimanya itu, tidak sesuai dengan harga. Semenjak kejadian tersebut, Milna tidak lagi melakukan belanja online, dan memilih untuk membeli keperluan secara langsung ke pasar atau ke toko.

“Tidak apalah, jalan-jalan jauh ke luar rumah untuk belanja, setidaknya bisa rekreasi juga,” kata Milna.

Tidak hanya Milna, belanja online ini juga pernah dialami seorang mahasiswa di Padang yang mulai tertarik untuk belajar fotografi, yakni Mohammad Fiky. Dengan modal uang yang tidak terlalu banyak, ia berupaya mencari informasi harga kamera DSLR bekas di bawah harga Rp2 juta. Setelah puas mencari di google, tidak ada website yang menjual kamera DSLR bekas di bawah harga Rp2 juta.

“Cari di google sudah, tapi tidak ada harga yang sesuai modal. Jadi dikarenakan saya masih menggunakan BBM, ada teman yang menyarankan beli kamera DSLR di satu belanja online, yakni BBM. Saya pun dikasih PIN BBM dan langsung diinvite. Setelah permintaan saya diterima, saya pun banyak tanya soal  barang kamera DSLR yang dijual dan ia pun merilis harga-harga melalui pesan BBM,” ceritanya.

Setelah Fiky menerima rilis harga, ia mulai tergiur dengan harga yang ditawarkan di bawah Rp2 juta serta jenis kameranya pun tergolong kamera profesional. Ia mengaku, awalnya khawatir dan ragu dengan harga kamera sekelas profesional tapi harganya di bawah Rp2 juta. Untuk memastikan kekhawatirannya itu, Fiky pun mencari harga kamera DSLR yang dirilis oleh orang di BBM tersebut, hasilnya ternyata harganya juga lebih mahal dari harga yang dirilis itu.

“Melihat harga-harga itu, saya mulai bertanya ke pemilik akun BBM yang ketika itu memiliki nama, sebut saja Nago. Ia beralasan, penyebab murahnya harga kamera yang ditawarkannya itu, karena merupakan barang bebas dari pajak atau ilegal yang masuk melalui jalur Batam. Saya pun kembali berpikir, dan menyatakan kirim barangnya dulu, nanti saya bayar setelah barangnya diterima, tapi ia tidak mau,” ungkapnya.

Fiky menjelaskan, akun BBM itu pun berupaya meyakinkan dirinya, dengan cara mengirimkan nama lengkapnya, dan alamat tempat tinggalnya. Hal tersebut sebagai bukti, bahwa transaksi tersebut benar dan bukan sebuah belanja penipuan. Meski telah mendapatkan alamat dan nama penjual, Fiky tidak langsung deal untuk belanja, namun memastikan benar atau tidak alamat tersebut.  “Setelah dicari di google, ya benar alamat itu ada di Batam, tapi sekarang saya lupa apa nama jalannya,” katanya.

Dengan adanya upaya untuk meyakinkan pembeli, Fiky pun melakukan transkasi dengan harga kamera DSLR Canon 7D Body Only seharga Rp1.250.000 per unit kamera DLSR. Ia memesan satu unit kamera tersebut, dan tanpa ada rasa khawatir uang dengan jumlah itu langsung ditransfer melalui salah satu bank. Namun, sekian lama menunggu, barang yang dipesannya tak kunjung sampai, dan bahkan ketika dihubungi, nomor handphone pelaku tidak aktif lagi.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Customer Forum Padang Barat, Tusrisep, mengatakan, hal tersebut memang marak terjadi, terutama bagi konsumen yang baru mencoba melakukan belanja online.

“Yang mengadukan persoalan kerugian belanja online ke LSM Customer Forum memang tidak ada, namun dari sejumlah informasi yang saya dapatkan, hal semacam itu memang terjadi,” imbuhnya.

Menyikapi kondisi tersebut, ia menyarankan kepada masyarakat yang suka belanja online agar tidak langsung percaya terhadap akun atau website yang menjual barang yang transaksinya secara online. Namun, lebih dulu menelusuri, benar atau tidak akun atau website tersebut.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko /  Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...