KAMIS, 30 MARET 2017
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Saat tim Cendana News mengunjungi rumah penanggung jawab Posdaya Koto Hilalang, Kubung, Kabupaten Solok, tepatnya di belakang kantor wali nagari, terlihat ramai ibu-ibu duduk dan bercengkrama. Seorang wanita juga terlihat sedang duduk di belakang etalase yang menjual voucher, pulsa elektrik, dan juga handphone.
![]() |
| Penanggung jawab Posdaya Koto Hilalang, Siti Sanida Putri. |
Dengan senyum yang ramah, pemilik konter pulsa yang juga pemilik rumah mempersilakan Cendana News masuk. Dari perbincangan singkat diketahui, bahwa setiap Rabu merupakan hari kas untuk Posdaya Koto Hilalang yang berada di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Hingga saat ini, tercatat anggotanya berjumlah 50 orang lebih. Hari itu, satu kelompok lagi ikut bergabung dengan jumlah anggota tujuh orang yang akan mencairkan dana pinjaman awal.
“Lagi ramai, ada kelompok baru yang akan mencairkan pinjaman,” sebut pemilik senyum yang juga penanggung jawab Posdaya Koto Hilalang, Siti Sanida Putri (40) kepada Cendana News.
Dari perbincangan, baik dengan tuan rumah maupun tamu, mereka berasal dari berbagai profesi, ada peternak, pedagang, hingga petani kakao yang akan meminjam uang untuk penambahan modal usaha.
“Ingin menambah modal untuk berjualan mainan di depan SD Koto Hilalang. Prospeknya bagus tapi ada keterbatasan modal,” kata salah satu nasabah baru Tabur Puja, Junisi Putri (27).
Diceritakan Siti Sanida Putri, di daerah tersebut sebelumnya sangat banyak pedagang kecil yang meminjam uang pada rentenir. Meski banyak yang sudah tahu bahwa hal itu akan memberatkan mereka, namun karena kebutuhan akan tambahan modal membuat mereka memilih mencari jalan yang mudah untuk mendapatkan.
Untuk melakukan pinjaman ke perbankan, masyarakat juga sering menemui kendala, karena banyaknya persyaratan yang harus dilengkapi, proses dan survei juga membutuhkan waktu yang lama. Hal tersebut juga menjadi keprihatinan tersendiri bagi Siti.
“Ibo wak caliak masyarakaik yang terlilit utang ka rentenir tu Pak, abih galehnyo untuak mambayiah utang seh, malah ado nan sampai bangkrut,” kata Siti Sanida Putri dalam dialek Minang yang artinya, kasihan melihat masyarakat yang terlilit utang sama rentenir, habis dagangan hanya untuk membayar, bahkan sampai gulung tikar.
Dari keprihatinan tersebut, saat ia ditunjuk menjadi penanggung jawab Posdaya baru (pecahan Posdaya Selayo), ia mulai merangkul masyarakat sekitar, terutama pelaku usaha kecil seperti pedagang rumahan, pedagang kaki lima hingga petani kebun.
Tidak hanya itu, ia juga langsung memberikan contoh dengan membuka usaha berjualan pulsa elektrik seluler. Dari awalnya hanya ada penjualan pulsa, saat sekarang sudah meningkat dengan dapat berjualan handphone.
“Alhamdulillah, sekarang saya bisa menjadi agen pengisian pulsa untuk konter di 100 tempat,” katanya.
Perkembangan usahanya juga terus terlihat, dari awalnya hanya berjual pulsa meningkat dengan juga menjual token listrik, tempat pembayaran listrik dan air. Keberhasilan tersebut dijadikannya sebuah contoh untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa dengan tidak meminjam kepada rentenir bisa sukses.
“Melalui Tabur Puja usaha kita juga bisa maju,” katanya.
![]() |
| Anggota baru Posdaya Koto Hilalang. |
Keberhasilan yang ditunjukkan Siti Sanida Putri menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat untuk tidak tergantung lagi kepada rentenir yang memberikan pinjaman dengan waktu yang cepat namun berbunga tinggi. Mereka melihat Tabur Puja memiliki keunggulan dalam kecepatan, kemudahan hingga bunga, bahkan tanpa agunan.
Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo
