JUMAT, 24 MARET 2017
BANJARMASIN — Bayi perempuan bernama Ummi Kulsum yang terlahir dari rahim Misniati (35), tiba-tiba meregang nyawa sesaat setelah operasi cesar di Rumah Sakit Umum Daerah Anshari Saleh, Kota Banjarmasin pada Kamis malam (22/3/2017). Jabang bayi itu lekas dikubur di pekuburan kawasan Jalan Malkom Temon pada Jumat dini hari tadi.
![]() |
| Dr Anna M. Afida (kanan) saat memberikan keterangan ke wartawan. |
Petugas medis mengaku bayi itu meninggal dunia karena ibu kandungnya menderita hipertensi.
“Bayinya keracunan, kami sempat merawat sebentar tapi nyawanya tidak bisa tertolong lagi,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Anshari Saleh, dr Anna Martiana Afida, SpPK, Jumat (23/3/2017).
Menurut Anna, kehamilan Misniati dalam kondisi rentan. Itu sebabnya, dokter melakukan tindakan operasi cesar untuk menyelamatkan jabang bayi.
Kematian bayi Ummi sempat membuat heboh. Keluarga miskin itu kabarnya tidak punya uang untuk biaya pemakaman jenazah. Pihak rumah sakit dianggap lalai mengurus kebutuhan jenazah karena pasien dari kaum miskin.
Anna menolak anggapan RSUD Anshari Saleh menelantarkan pasien karena tenaga medis telah melakukan tindakan operasi secara proporsional.
“Kami memberikan langsung jenazah bayi ke orang yang ikut mengantar pasien. Kami kira orang itu keluarga pasien. Kalau tahu pasien dari keluarga miskin pasti kami koordinasi dengan Dinas Sosial,” ujar Anna meluruskan kisruh isu penelantaran bayi.
Menurut dia, bayi yang di kandungan masih dalam kondisi hidup ketika pasien tiba di rumah sakit. Pasien datang dalam kondisi kehamilan besar. Pasien Misniati diketahui sudah delapan kali mengandung bayi, tapi empat kali keguguran.
Anna mengatakan kondisi ibu dalam preeklampsia atau dalam kehamilan dengan resiko tinggi.
“Kami berhasil mengoperasi bayinya namun sang bayi tidak sempat terselamatkan. Namun sang ibunya masih bisa kami selamatkan,” kata dia.
Selain itu, Anna menduga kematian bayi karena pengaruh kondisi ibu yang mengalami hipertensi.
“Kebanyakan begitu, bayi bisa gagal hidup karena hipertensi,” Anna menambahkan.
Kepala Bidang Perawatan RSUD Anshari Saleh, Ida S. Hayati, menuturkan petugas medis telah bekerja sesuai prosedur ketika merawat pasien Misniati. Ia pun menegaskan rumah sakit bukan mengabaikan jenazah si jabang bayi.
“Karena ada yang bertanggung jawab atas pasien, jadi pihak rumah sakit melimpahkan ke pihak keluarga. Dan kami sudah sesuai Standar Operasional di Rumah Sakit,” kata Ida S. Hayati.
Dia sangat menyayangkan informasi yang beredar di luaran bahwa rumah sakit tidak mengurusinya dan tidak sesuai SOP. Pasien juga menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) sehingga biaya penangananya di Rumah Sakit di tangung pemerintah.
“Pasien datang atas rujukan puskesmas,” kata Ida.
Misniwati masih tergolek lemah di ruang nifas RSUD Anshari Saleh untuk proses penyembuhan. Namun pihak rumah sakit tidak mengizinkan awak media untuk wawancara langsung dengan si pasien.
“Sebab masih dalam tahap pemulihan. Keadaanya sadar namun masih dalam tahap pemulihan dan obeservasi (pengawasan). Si jabang bayi berbobot 4,1 kilogram,” tutupnya.
Jurnalis: Diananta P Sumedi/Redaktur: Irvan sjafari/Foto: Diananta P Sumedi