Bagi Pedagang Kecil, Arang Kayu Masih Lebih Hemat dari Gas Bersubsidi

KAMIS, 16 MARET 2017

LAMPUNG — Pedagang bakso Malang di wilayah Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, masih menggunakan bahan bakar arang sebagai alternatif untuk proses pemasakan bakso selama berjualan. Arang kayu dinilai lebih hemat dibandingkan gas bersubsidi kemasan 3 kilogram.

Sejumlah pedagang bakso masih memilih arang kayu sebagai bahan bakar.

Salah-satu pedagang bakso Malang, Agus (25), mengatakan, arang kayu sebagai bahan bakar untuk memasak kuah bakso dipilih, karena harga gas elpiji ukuran 3 kilogram saat ini mencapai Rp21.000, dan hanya bisa digunakan selama sepekan, sedangkan untuk satu karung arang kayu dengan harga Rp30.000, bisa digunakan selama 1 bulan.

Menurut Agus, penggunaan bahan bakar arang kayu, selain irit juga hasilnya lebih bagus untuk makanan, karena proses pemanasan bisa terus berlangsung selama berjualan dan menghemat biaya operasional. Agus yang berjualan menggunakan gerobak dorong mengaku pernah menggunakan gas elpiji ukuran 3 kilogram, namun biaya operasional yang dibutuhkan lebih besar, sehingga para penjual bakso Malang keliling lebih memilih menggunakan arang kayu. “Kalau untuk kebutuhan memasak di rumah, kami masih menggunakan elpiji. Namun untuk berjualan bakso Malang, penggunaan arang kayu masih jadi alternatif, agar lebih hemat,” terang Agus, Kamis (16/3/2017).

Selain menghemay biaya, api arang juga bisa tetap menyala sepanjang waktu, tanpa khawatir kehabisan, karena di bagian gerobak disediakan stok arang khusus untuk mengganti arang yang sudah habis. Penggunaan arang kayu untuk para pedagang bakso Malang seperti Agus juga dilakukan oleh beberapa pedagang kecil lain, seperti pedagang bakso, siomay dan pedagang warung rumahan. Selain panasnya lebih awet dan harganya lebih murah, arang kayu diakui Agus masih mudah diperoleh dari beberapa pedagang.

Agus mengungkapkan, jika ia selalu menyiapkan stok arang kayu yang dibeli dalam jumlah banyak, sekitar 5 karung untuk kebutuhan selama 1 bulan bagi tiga gerobak bakso Malang yang berkeliling di desa-desa di wilayah Kecamatan Penengahan. Agus bersama tiga orang pedagang bakso Malang lainnya setiap hari berjualan dengan membawa bakso Malang dengan omzet rata-rata per hari Rp300-400.000, dengan harga bakso Malang per porsi Rp5.000, berupa bakso, kerupuk pangsit dan kerupuk tekwan serta tahu.

Agus yang merupakan karyawan bakso Malang itu juga mengungkapkan, dalam sepekan ia bisa memperoleh omzet sekitar Rp1,5 juta per minggu, atau Rp6 juta per bulan. Hasil tersebut disetorkan ke juragan dan ia sendiri memperoleh penghasilan dengan sistem bagi hasil.

Sementara itu, salah-satu penjual arang kayu di Kecamatan Penengahan, Andri (30), mengaku selain dibeli dalam jumlah banyak hingga berkarung-karung, sebagian arang dijual dengan ukuran plastik kresek besar dengan harga Rp5.000. Sebagian warga yang hendak memasak dalam jumlah banyak lebih memilih menggunakan arang kayu dibanding gas elpiji bersubsidi yang harganya bisa mencapai Rp21.000 per tabung.

Andri menyebut, permintaan arang kayu mulai naik terutama pada saat akhir pekan atau menjelang kegiatan liburan dengan adanya kegiatan bakar ikan bersama dengan menggunakan arang kayu. Pasokan arang kayu dari jenis kayu kopi dan beberapa jenis kayu keras lain rata-rata didatangkan dari wilayah kaki Gunung Rajabasa. “Kendala cuaca terkadang membuat pasokan arang kayu minim. Namun, beruntung pelanggan tetap memilih menggunakan arang kayu, terutama para pedagang keliling dan warung,” ungkap Andri.

Menurut Agus, harga sekarung kecil arang kayu saat ini mencapai Rp30.000. Sementara untuk harga per karung besar ukuran goni bisa mencapai Rp100.000. Kenaikan harga arang kayu diakuinya akan terjadi menjelang perayaan hari-hari keagamaan dan pergantian tahun, dengan banyaknya masyarakat yang menggunakan arang kayu. Selain itu, kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram pada musim tertentu juga bisa berimbas meningkatnya permintaan arang kayu.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...