Aksi Demo Mahasiswa di Sukoharjo Peduli Petani Kendeng Berakhir Ricuh

KAMIS, 23 MARET 2017

SOLO — Aksi ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Solo dan Sukoharjo, untuk menolak pendirian pabrik semen di Kendeng, Rembang, berakhir bentrok. Mahasiswa yang memblokir jalan Solo-Semarang, tepatnya di tugu Kartasura, Sukoharjo, mendapat perlawanan dari aparat kepolisian hingga nyaris adu jatos. 

Memanas, polisi berusaha menghadang mahasiswa saat aksi peduli petani Kendeng

Aksi ratusan mahasiswa gabungan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Istitut Agama Islam Negeri  (IAIN) Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet) diawali dengan aksi sholat jenazah, lengkap dengan keranda mayat di tengah  jalan Solo-Semarang.

Mahasiswa sempat mengecam keras Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo karena dinilai tidak berpihak kepada petani. Tak hanya itu, berbagai aksi kepedulian terhadap petani Kendeng, dari berbagai daerah dan petani lokal yang menyemen kaki, juga tak membuat politisi PDIP bergeming dari keputusannya.

 “Kami lihat Ganjar tidak lagi berpihak dengan rakyatnya. Bagaiman Ganjar hanya diam, sementara nasib petani terancam,” sebut salah satu perwakilan aksi, Okta Nama Putra dalam orasinya.

Aksi kian memanas saat ratusan mahasiswa semakin keras melakukan orasi. Mahasiswa bahkan sempat melakukan aksi teaterikal yang memperagakan keresahan petani Kendeng di tengah ancaman pabrik semen. Aksi teaterikal juga membawa orang-orang sawah yang merupakan simbol petani di Kendeng, yang terancam hilang. Mahasiswa juga membakar orang-orangan sawah sebagai kecaman keras kepada pemerintah yang nekad akan meresmikan pabrik semen tersebut.

Ada beberapa tuntutan yang disampaikan oleh mahasiswa  dalam aksi tersbeut. Di antaranya meminta Presiden Jokowi mencabut Surat Keterangan (SK) yang diberikan kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo perihal pabrik semen. Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah memberikan rehabilitasi terhadap petani Kendeng, yang selama ini merasa tidak pernah dianggap sebagai rakyatnya.

“Aksi ini sekaligus wujud keprihatinan mahasiswa, karena penolakan terhadap Pabrik Semen ini hingga menelan korban jiwa. Yakni, nyonya Patmi, yang selama ini aktif memperjuangkan nasib petani Kendeng. Kami juga menuntut Pemerintah tidak membangun apapun di Kendeng karena merupakan hutan lindung,” tambah Okta.

Aksi semakin memanas saat mahasiswa  membakar boneka sawah dan memperluas jalan yang diblokir. Ratusan personil keamanan yang diterjunkan berusaha memadamkan api. Aksi saling dorong antara mahasiswa dengan aparat tak terhindarkan. Bahkan, keduanya nyaris adu jotos karena suasana kian memanas. Suasana dapat diredakan setelah terjadi negosiasi antara aparat dengan mahasiswa.

Aksi sholat ghoib dan teaterikal mahasiswa tolak pabrik semen Kendeng

Kapolsek Kartasura, AKP Demianus Palulangan mengatakan, pihaknya menerjunkan 125 personil untuk pengamanan aksi peduli petani Kendeng tersebut. Pihaknya juga menempatkan personel yang cukup banyak karena massa yang datang jumlahnya mencapat 400 orang lebih.

“ Personel merupakan gabungan dari Polres Sukoharjo dan Polsek sendiri. Kita antisipasi agar kemacetan tidak terlalu panjang, sehingga aksi blokir jalan jangan terlalu lama,”  tenang AKP Demianus.

Aksi ratusan mahasiswa yang memakan waktu hampir dua jama sempat membuat kemacetan cukup parah di jalur Solo-Semarang.

Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid

Lihat juga...