KAMIS, 2 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Presiden Joko Widodo mengatakan, masih banyak hal harus dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Misalnya, dalam pendidikan vokasi yang memainkan peranan penting dalam membentuk sumber daya manusia yang terampil. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Sekolah kejuruan sebagai wadah pendidikan dan keterampilan itu masih belum sesuai dengan tujuan pendidikan kejuruan yang dicitakan.
![]() |
| Presiden Joko Widodo saat membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia 2017 di Jakarta. (Dok: Menko PMK) |
“Yang saya lihat di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan –red), pertama peralatan untuk melatih mereka mungkin sudah ketinggalan 20-30 tahun. Yang kedua, mengenai kondisi guru. Di SMK itu semestinya bukan seperti SMA, hampir 70-80 persen itu banyaknya guru normatif. Padahal, semestinya di situ 70-80 persen adalah guru-guru pelatih yang bisa melatih hal-hal yang berkaitan dengan garmen, assembling, otomotif, atau yang bisa menjalankan mesin-mesin,” ungkap Presiden, dalam sambutan Konferensi Forum Rektor Indonesia Tahun 2017, di Jakarta Convention Center, Kamis (2/2/2017).
Karenanya, Presiden berharap, dunia pendidikan dapat beradaptasi dengan perubahan dunia yang sedemikian cepatnya. Termasuk salah-satu di antara adaptasi itu ialah kemauan dan keberanian untuk mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan maupun materi pengajaran. “Kalau di SMK saya lihat jurusannya sejak saya kecil sampai sekarang itu-itu saja. Padahal, dunia sudah berubah cepat sekali. Universitas, misalnya, juga harus mulai berani mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan. Ini menjadi pemikiran kita bersama. Kenapa tidak ada jurusan logistik yang itu sangat dibutuhkan sekarang ini? Juga jurusan retail atau jurusan khusus mengenai toko online, misalnya,” ungkap Presiden.
Presiden juga mengatakan, di tengah era persaingan global ini dibutuhkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing, agar dapat memenangkan persaingan. Munculnya inovasi dan pemikiran mengenai konsep pendidikan Indonesia yang akan mengubah mentalitas bangsa, agar menjadi lebih kompetitif dan inovatif, sangat diharapkan.
Presiden mengakui, jika menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang handal tersebut tidak mudah. Untuk itu, ia mendorong keberanian seluruh pihak, utamanya para pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, untuk lebih berani melakukan lompatan dalam dunia pendidikan. Dalam dunia seperti ini, kata Presiden, kunci untuk bertahan hidup dan memenangkan persaingan serta mencapai kemajuan terletak pada kekuatan sumber daya manusia. Karena itu, kita harus berani melakukan lompatan-lompatan dalam dunia pendidikan, sehingga lahir sumber daya manusia yang memiliki etos kerja, kreativitas, dan inovasi yang tinggi.
“Saya berharap dari Konferensi Forum Rektor Indonesia 2017 ini lahir konsep-konsep pendidikan yang mengubah mentalitas bangsa kita menjadi bangsa yang lebih kompetitif dan inovatif dalam memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” ujar Presiden.
Pemerataan
Sementara itu dalam kesempatan tersebut, Presiden juga memaparkan kondisi perekonomian terkini dan upaya-upaya Pemerintah yang sedang dijalankan. Menurutnya, seluruh rakyat Indonesia harus tetap optimis terhadap perekonomian bangsa, meski dibayangi oleh kondisi perekonomian global yang tidak menentu. Optimisme tersebut perlu ditumbuhkan, karena sejumlah lembaga, baik lokal maupun asing, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat terus tumbuh ke depannya.
“INDEF mengatakan, pertumbuhan sebesar 5 persen, Bank Indonesia 5-5,4 persen, Bank Dunia 5,3 persen, ADB 5,5 persen. Itu artinya kemungkinan besar akan ada kenaikan pada 2017. Jangan ada yang pesimis. Saya selalu menyampaikan kepada menteri-menteri bekerja itu harus optimis, membangun optimisme, sehingga masyarakat juga ikut terbangun optimismenya,” ujar Presiden.
Presiden menerangkan, bahwa persoalan besar bangsa Indonesia yang harus menjadi fokus perhatian ialah ketimpangan. Terhadap persoalan itu, Pemerintah telah berupaya keras untuk melakukan yang terbaik untuk untuk mengurangi kesenjangan. Beberapa di antaranya yang kini masih terus berjalan ialah redistribusi asset dan reformasi agraria, serta pembangunan infrastruktur di wilayah pinggiran dan terpencil di Indonesia.
“Tetapi, apa pun ini adalah sebuah persoalan besar yang memerlukan penanganan. Karena itu, pada tahun ini sebentar lagi akan kita keluarkan kebijakan baru dalam bidang ekonomi, yaitu kebijakan pemerataan ekonomi,” tegasnya.
Hal inilah, menurut Presiden, yang disebut sebagai pekerjaan bersama yang harus segera diselesaikan, bila Indonesia tidak ingin tertinggal lebih jauh lagi. Indonesia disebutnya butuh visi untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam 50-100 tahun ke depan. “Saya kira perguruan tinggi itu tugasnya melihat ke depan akan ada apa dan membisikkan kepada Pemerintah terkait dengan tantangan yang ada. Inilah yang saya sampaikan tadi, menyiapkan sumber daya manusia ke depan, visi 50-100 tahun ke depan,” pungkasnya.
Jurnalis: Shomad Aksara/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Istimewa