Harga Buah Lokal Tidak Stabil, Tukang Rujak Gabung Damandiri

KAMIS, 16 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Zainul Abidin, sudah tinggal di Jakarta selama 12 tahun. Sejak kedatangannya pertama kali di Jakarta pada 2005, ia bersama istri langsung menempati rumah kontrakan di RW 11, Rawa Simprug. Dengan rombongan kecilnya, laki-laki asal Lamongan, Jawa Timur, ini sehari-hari berjualan rujak dan buah keliling untuk menghidupi anak-istrinya.

Buah lokal dagangan Zainul, yang harganya tidak stabil

Usaha berdagang buah, bukan sekedar pilihan bagi Zainul. Melainkan, ada pertimbangan di baliknya, Menurut laki-laki yang sudah berdagang rujak dan buah sejak 2010 ini, pada awalnya keuntungan yang didapatnya cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun, seiring berjalannya waktu, harga buah lokal menjadi tidak stabil. “Pepaya dan semangka kerap mengalami naik turun harga, padahal dua buah lokal ini andalan kami para pedagang buah untuk meraup keuntungan. Semangka bisa tembus sembilan ribu rupiah per kilogram, dan pepaya bisa naik sampai enam ribu rupiah per kilogramnya,” terang Zainul, kepada Cendana News.

Logikanya, jika modal naik otomatis harga jual harus dinaikkan, tapi Zainul tidak ingin kehilangan pelanggan. Harga rujak untuk 1 porsi tetap dijual seharga Rp. 10.000, dan untuk menyiasati kenaikan harga buah lokal, ia menjual buah segar potongan seharga Rp. 4.000 per potong, tanpa terpengaruh naik-turun harga buah lokal.

Keputusan harga jual Zainul berimbas pada menurunnya keuntungan, jika harga buah lokal sedang naik. Tetapi, hal ini terus dijalaninya dengan menyiasati tambahan modal seadanya. Keuntungan usaha yang sepenuhnya menjadi milik keluarga di rumah harus dipangkas sedikit untuk menambah modal usaha. Akibatnya, anak-istri beserta Zainul sendiri harus mengencangkan ikat pinggang untuk kehidupan mereka sehari-hari. “Dua minggu yang lalu, saya mendapat informasi tentang Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja dari seorang rekan saya yang kebetulan berdagang bakso keliling di Rawa Simprug. Saya berpikir, inilah jalan keluar untuk menambah modal usaha,” lanjut Zainul, mengisahkan.

Zainul Abidin, Tukang Rujak dan Buah Keliling

Zainul pun lalu datang ke Sekretariat Tabur Puja Posdaya Kenanga Simprug pada Senin (13/02/2017), dan bertemu Ketua Posdaya Kenanga Simprug, Emmy Aznulleily, untuk mengutarakan maksud dan tujuannya. Ternyata, Tabur Puja menyambut baik dan siap membantu modal usaha rujak dan buah keliling milik Zainul. “Saya kenal Zainul sebatas pendatang yang mengontrak rumah di RW tempat saya tinggal. Tapi, saya tahu pasti Zainul adalah pedagang yang ulet dan bisa dipercaya untuk pinjaman awal sejumlah dua juta rupiah. Namun, ia harus masuk daftar antri pencairan dana terlebih dahulu, ada beberapa orang yang sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri untuk pinjaman modal usaha bunga ringan Tabur Puja,” terang Emmy, Ketua Posdaya Kenanga Simprug, tentang Zainul dan status pengajuan pinjamannya.

Zainul menerima masuk antrian, bahkan dengan senang hati mendaftarkan diri menjadi anggota Tabur Puja sebagai nasabah simpan (menabung). Zainul langsung mengisi formulir keanggotaan dan menyerahkan tabungan awal. “Saya komitmen menabung seminggu sekali tiap Hari Kas. Bahkan, kalau perlu jika ada uang lebih dan bertemu ibu Emmy di luar Hari Kas, akan saya tambahkan terus tabungannya. Petugas Tabur Puja tinggal mengisi buku tabungan saya saja,” imbuh Zainul.

Saat pinjamannya cair, Zainul sudah punya perhitungan pribadi mengenai perkembangan apa yang akan dialaminya. Biasanya, ia harus mengeluarkan modal sejumlah Rp. 200.000 untuk berdagang. Dan, mencapai Rp. 300.000 jika harga buah lokal seperti pepaya, semangka atau mangga bahkan buah kedondong mengalami kenaikan. Dari modal sejumlah itu, omset Zainul mencapai Rp. 400-600.000. Keuntungan berdagang buah, menurut Zainul, memang mencapai 100 persen. Namun, karena keuntungan seringkali dipangkas untuk menambah modal usaha ketika harga naik, berapa pun keuntungan yang diterima tetap saja tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Dengan suntikan modal usaha dari Damandiri sebesar Rp. 2 Juta, Zainul berencana menambah modal usahanya, terutama untuk pepaya, semangka, kedondong, mangga dan nanas. Lalu, ia akan mengganti lemari kaca di atas rombong dengan ukuran yang lebih besar, agar bisa membawa dagangan lebih banyak. Untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, juga dengan modal usaha dari Damandiri, istri Zainul akan berdagang kue basah di depan rumah setiap pagi.

“Dengan peningkatan volume dagangan, ditambah istri juga berdagang kue basah di rumah, otomatis menambah pemasukan kami sehari-hari. Jadi, tidak akan ada penderitaan lagi setiap harinya. Maksud saya adalah bukan berarti kami menjadi kaya-raya, tapi lebih kepada cukup untuk kehidupan sehari-hari. Dengan keadaan itu saja, saya sudah bahagia,” tambah Zainul.

Zainul ini jenis laki-laki ulet yang punya pandangan dan perhitungan bisnis jauh ke depan. Walau hanya sebagai seorang pedagang rujak dan buah keliling, akurasi perhitungan Zainul cukup mengesankan. Dapat dibayangkan, jika usahanya semakin besar, pasti Zainul akan menjadi rekanan favorit Tabur Puja dalam simpan pinjam. “Saya punya impian, yaitu buka usaha pecel lele dan ayam goreng. Tapi, itu masih sebatas impian dan rencana, merintis saja dulu lewat berdagang rujak dan buah keliling,” pungkasnya.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...