Menanti Mentari Terbenam, Wisata Kuliner Bom Pilihan Warga Kalianda

MINGGU, 8 JANUARI 2017

LAMPUNG — Kegiatan wisata warga di seputaran Kalianda Lampung Selatan tak hanya dilakukan sejak pagi hingga siang. Sebagian masyarakat bahkan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga menikmati kebersamaan dengan keluarga dan kerabat menjelang sore. Salah satu lokasi wisata menghabiskan senja di Kalianda Lampung Selatan adalah wisata kuliner dermaga bom Kalianda. 
Siluet payung raksasa di lokasi wisata kuliner dermaga Bom Kalianda setelah matahari terbenam
Jelmaan objek wisata yang semula merupakan kawasan perkantoran syahbandar, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan ikan, pasar higienis. Lokasi tersebut menjelma menjadi sebuah kawasan wisata yang terintegrasi. Selain bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat suasana senja lebih disukai untuk menikmati detik detik matahari tenggelam di perairan Selat Sunda.
Kawasan wisata kuliner Kalianda bahkan terus dibenahi dengan pembangunan jalan aspal hotmix, trotoar dengan batu sikat sekaligus fasilitas yang telah ada sebelumnya berupa amphiteater untuk pertunjukan, panggung hiburan, sebuah tulisan besar (giant letter) Kuliner Kalianda serta sebuah tugu tupping yang menambah semarak lokasi tersebut di malam hari dengan beberapa lampu hias yang dinyalakan saat saat khusus. 
Dermaga Bom sesaat setelah matahari terbenam
Menurut salah satu warga sekitar Kalianda, sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga sebagian pemuda menghabiskan waktu dengan memancing ikan yang ada di sebelah dermaga sambil menanti matahari terbenam dan melihat kapal-kapal nelayan berangkat mencari ikan.
“Ini kawasan wisata rakyat benar benar untuk rakyat karena untuk masuk kawasan ini nyaris tidak perlu membayar tiket masuk, parkir hanya saat kita membeli kuliner untuk menikmati suasana sore kita mengeluarkan uang atau membeli ikan segar di pasar higienis,”terang Ahmad pemuda Kalianda yang menghabiskan senja hari dengan memancing ikan sebagai penyaluran hobi, Minggu sore (8/1/2017).
Ahmad bahkan memuji langkah Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan yang terus membenahi kawasan tersebut dengan penambahan berbagai fasilitas termasuk kawasan kuliner yang tertata sehingga lebih memberi kenyamanan bagi pengunjung. Bagi pecinta fotografi bahkan ornamen ornaman tambahan yang bisa menjadi latar belakang untuk berfoto pada senja hari menambah semarak destinasi wisata buatan yang bisa ditempuh hanya sekitar 10 menit dari kota Kalianda atau bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Pelabuhan Bakauheni dan 45 menit dari Bandarlampung.
Para pemuda memancing di sekitar dermaga Bom Kalianda
Tempat tempat kuliner dengan sajian khas tradisional diantaranya otak otak ikan bungkus daun pisang, mie ayam rasa jamur, bakso ikan, ikan bakar, pindang ikan serta makanan berbahan olahan ikan tertata dengan konsep food court atau pujasera sehingga dalam satu lokasi bisa memilih beragam makanan dengan harga bersahabat mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000 per porsi. 
Salah satu pedagang di wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, Sopian, mengaku saat ini penataan tempat wisata tersebut membuat jumlah kunjungan wisatawan meningkat seiring dengan pembenahan di berbagai aspek diantaranya infrastuktur jalan aspal hotmix, penataan pedagang agar tak terkesan kumuh dan berdampak pada peningkatan omzet pedagang yang lebih baik daripada sebelum ditata.
“Animo masyarakat untuk menghabiskan waktu senja hari semakin tinggi saat hari Sabtu dan Minggu serta hari hari libur panjang sehingga memberi dampak bagi pedagang kuliner,”ungkap Sopian.
Selain pedagang kuliner beberapa stan yang disiapkan di sebelah warung kuliner tersebut juga menyiapkan kerajinan kerajinan masyarakat nelayan dengan bahan kerang atau kayu kayu bekas yang diubah menjadi benda artistik. Selain itu kaos kaos dan souvenir menarik lain juga dipasarkan di tempat yang disediakan menyatu dengan penjualan oleh oleh khas daerah Kalianda diantaranya keripik pisang, kerupuk kemplang ikan serta oleh oleh lain.
Mengajak serta anak anak di kawasan wisata kuliner Bom Kalianda sekaligus sarana edukasi untuk mengajak anak anak melihat proses transaksi penjualan ikan di tempat pelelangan ikan atau langsung melakukan transaksi membeli ikan di pasar ikan higienis. Selain itu momen detik-detik matahari terbenam bisa disaksikan dengan tanpa halangan saat Mentari seolah terbenam di dasar laut dan melihat lamou perahu perahu nelayan serta lampu lampu bagan menyala terombang ambing di lautan.
Seusai menikmati kuliner, mengambil foto saat mentari terbenam, bagi yang hendak menunaikan ibadah Sholat di masjid Agung pun tetap bisa ditunaikan dengan menempuh perjalanan sekitar 5 menit. Masjid agung Kubah Intan yang kubahnya menyerupai sebuah intan tersebut merupakan masjid yang konstruksinya terlihat modern. 
Lampu lampu hias di lokasi wisata kuliner Kalianda
Selain mudah dijangkau dengan sarana parkir yang luas, areal masjid agung Kubah Intan sekaligus kawasan rest area yang juga menjadi pemberhentian bus Trans Lampung. Bagi wisatawan yang akan kembali ke Bandarlampung pun tak perlu kuatir karena dengan adanya armada bus Trans Lampung perjalanan lebih nyaman dan aman. Selain itu bisa memilih menggunakan moda transportasi lain yang juga tersedia.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...