Hotel Pelangi Tetap Eksis di Tengah Menjamurnya Penginapan Baru

MINGGU, 8 JANUARI 2017


MALANG — Sebagai salah satu kota di Jawa Timur yang menjadi pusat tujuan para wisatawan lokal maupun asing, pantas rasanya jika industri peyedia jasa akomodasi juga turut menjamur di kota Malang. Meskipun telah banyak bermunculan penginapan baru dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, namun nyatanya hal tersebut tidak serta merta mengurangi eksistensi para pelaku jasa penginapan yang sudah jauh lebih dulu hadir, dan Hotel Pelangi adalah salah satu contoh hotel legendaris yang masih bertahan hingga sekarang.

Hotel Pelangi

Keberhasilan hotel tertua di kota Malang tersebut dalam bersaing dengan hotel-hotel baru, tidak bisa dilepaskan dari konsep pengelola hotel yang tetap mempertahankan keaslian bentuk dari bangunan yang sudah ada sejak tahun 1915 saat Malang diduduki Belanda.

“Hampir semua hotel yang ada sekarang menawarkan kemewahan baik itu dari fasilitas, kamar maupun menu makanan. Namun di hotel Pelangi selain menyediakan berbagai fasilitas, kami juga menawarkan nilai historis berupa bangunan bersejarah yang belum tentu semua hotel memilikinya. Dan modal ini yang kita manfaatkan serta pertahankan potensinya sehingga kedepannya hotel Pelangi tetap bisa bersaing dengan hotel-hotel baru,” jelas HRD General Affair, Imam Santoso kepada Cendana News, Minggu (8/1/2016).

Selain bisa dilihat dari bentuk fisik bangunan luarnya yang masih mempertahankan arsitektur khas kolonial, bagian dalam bangunan utama tepatnya di ruang makan juga sama sekali tidak terdapat perubahan bentuk. Bahkan mulai dari lantai, atap hingga ornamen di ruang makan tidak ada yang berubah seperti pertama kali bangunan hotel ini di bangun.

Disebutkan, total terdapat 75 kamar dengan berbagai tipe mulai dari standart higga tipe suit . Hampir semua bangunan yang terdapat pada hotel yang berlokasi di jalan Merdeka Selatan No.3 tersebut bergaya klasik sehingga ukuran kamar-kamarnya berbeda dengan kamar di hotel jaman sekarang. Kamar di hotel ini lebih luas dan semua terdapat teras di depan kamarnya. Selain kamar, juga menyediakan ruang pertemuan, restoran dan kolam renang.

“Khusus kolam renang ini masih baru karena memang banyak masukan dari para tamu kita yang menghendaki ada kolam renang,” ungkapnya.

Imam Santoso

Lebih lanjut Imam juga menyebutkan kisaran harga kamar untuk wisatawan yang ingin bermalam di hotel Pelangi. Harga kamar termurah berada di angka Rp. 400 ribu per malam. Sedangkan harga yang tertinggi masih di kisaran Rp. 3 juta per malam. Biaya menginap tersebut sudah termasuk sarapan untukdua orang dan masuk kolam renang gratis.

“Harga tersebut masih merupakan harga kamar di tahun 2016, sedangkan untuk harga tahun 2017 masih di bicarakan secara internal,” ujarnya.

Sementara itu Imam juga menyebutkan, untuk jumlah wisatawan yang bermalam di hotel Pelangi jika di hari biasa hanya berkisar antara 20 hingga 30 persen. Namun jika terdapat libur panjang terutama tahun baru seperti kemarin jumlah yang menginap mencapai 100 persen.

“Untuk liburan natal kemarin sekitar 90 persen kamar terisi dan jumlah tersebut terus meningkat hingga tahun baru mencapai 100 persen kamar terisi semuanya. Bahkan kamar yang seharga Rp. 3 juta yang biasanya jarang terisi, khusus tahun baru kemarin juga terisi. Jadi tidak ada kamar yang kosong,” ungkapnya.

“Namun begitu, Imam mengaku untuk kunjungan dari wisatawan asing masih terbilang rendah hanya sekitar 10-15 persen dalam setahun. Jadi yang menginap disini masih di dominan wisatawan lokal,”sambungnya.

Setelah tahun baru, biasanya trend pengunjung yang menginap akan mengalami penurunan hingga bulan Ramadhan. Bahkan turunnya sangat drastis, bisa juga tidak ada yang menginap. Tapi nanti menjelang hari raya, trennya mulai naik terus hingga libur natal dan tahun baru berikutnya.

“Trend naik turunnya jumlah pengunjung yang menginap memang sudah lumrah dirasakan oleh setiap pengelola hotel. Jadi tidak hanya di hotel Pelangi saja tetapi di hotel yang lain biasanya juga mengalami tren yang sama,” ucapnya.

Oleh karena itu, untuk menyiasati tren tersebut kami terus manfaatkan dan kembangkan restoran yang masih memilik nuansa kolonial yang saangat kental tersebut untuk menarik masyarakat agar mau makan di restoran kami.

“Restoran kami terbuka untuk umum, siapa saja boleh datang dan makan di restoran hotel Pelangi, meskipun tidak menginap disini,” ujarnya.

Suasana ruang makan yang masih asli

Bahkan ada beberpa agen travel khusunya yang sering membawa wisatawan dari Belanda, mereka memasukkan hotel Pelangi sebagai tujuan perjalanan mereka.

“Jadi turis-turis itu biasanya sekedar melihat peninggalan bangunan yang ada disini kemudian makan di restoran, dan baru setelahnya mereka melanjutkan perjalannya,” pungkasnya.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...