Solo Surganya Kuliner, Varian Sate Yang Menggoda Selera

JUMAT  16 DESEMBER 2016

JAKARTA—Tidak dipungkiri, perkembangan masakan sate di Kota Solo, Jawa Tengah, sangat pesat. Ini berbanding lurus dengan perkembangan Kota Solo kian maju. Solo yang menjadi salah satu kota tujuan kunjungan, baik wisata, budaya, ekonomi kreatif maupun pergerakan, membuat pedagang sate di Kota Bengawan ini tumbuh subur.
Bu Bejo Mengawasi karyawan yang tengah membakar sate.
Ini ditunjukkan sejumlah pedagang sate di Solo tak pernah sapi dengan pelanggan. Misalnya saja, sate Bu Hj Bejo, sate Pak Manto, sate Mbok Galak, sate Tambak Segaran, Widuran, dan berbagai warung sate lainnya. Meski terhitung banyak, di Solo tidak ada paguyuban pedagang sate. “Kita tidak bentuk paguyuban pedagang sate.   Para  pedagang sate ini tersebar di berbagai sudut kota, ini yang menarik untuk wisatwan,” Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata  (Disbubpar) Solo Eny Susanti.

Dikatakan, selain kota Budaya, Solo juga terkenal dengan kulinernya. Namun, selama ini kuliner Solo menyebar diberbagai sudut kota. “Ini yang mengkin banyak dicari karena lokasinya yang menyebar dan menyuguhkan berbagai potensi yang dimiliki. Baik lokasi, cara penyajiannya maupun rasanya,” ungkapnya.

Meski demikian, untuk memudahkan wisawatan, Pemerintah Kota Solo pada 2010 membentuk telah memberikan salah satu alternatif untuk menikmati kuliner khas Solo. Ini seperti adanya Gladak Langen Boga (Galabo) yang mewadahi berbagai jenis makanan Solo dalam satu tempat.

”Ini kita buka di Gladak, Slamet Riyadi setiap malam. Setelah itu kita juga buat di Pucang Sawit dengan pusat kuliner juga. Jadi ini untuk memudahkan pendatang jika ingin menikmati kuliner Solo tanpa harus mutar kota. Tageline kita seperti mall one stop shopping, kalau kita one stop eat,” tekannya.

Selama ini Pemkot Solo belum ada rencana untuk  mematenkan sate sebagai salah satu makanan khas daerah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Meski demikian, usulan akan pentingnya hak paten agar tidak diklaim pihak lain, bahkan negara lain menjadi sebuah keharusan yang harus segera dilakukan.

“Ini justru jadi usulan yang sangat baik. Bagaimana kita melindungi makanan heritage, jangan sampai diklaim negara lain. Kita akan coba diskusikan lebih lanjut, tentunya dengan dinas terkait seperti Dinas Perdagangan,” tambah Eny.

Sejauh ini upaya Pemkot solo untuk mendukung perkembangan wisatawan dengan mengoptimalkan berbagai makanan khas Solo telah dilakukan sejak 2007 lalu. Hampir setiap tahun, Pemkot membuat peta kuliner di Solo yang dibagikan maupun di publikasikan ke pusat-pusat keramaian. Baik di Terminal, Stasiun, Bandara maupun hotel-hotel.

Berbeda di 2016, era digitalisasi ini membuat Pemkot Solo juga semakin berkembang dalam memberikan layanan kepada siapa saja yang akan berkunjung ke Solo. Untuk bisa menikmati berbagai kemudahan di Solo, baik wisata Budaya, maupun kuliner, termasuk sate dapat mengakses melalui jaringan berbasis android.

“Karena perkembangan teknologi kian pesat, kita juga luncurkan sebuah aplikasi. Yakni Solo Destinasi dan ini bisa diakses siapa saja,” tandasnya. 
Kepala Disbudapar Solo Eny Susanti.
Jurnalis: Harun Alrosid/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid 
Lihat juga...