LAMPUNG—Sepanjang jalan lama Desa Kekiling Kecamatan Penengahan berjajar rumah rumah dengan arsitektur tradisional Suku Lampung yang khas dengan rumah panggung atau dikenal dengan Nuwou Sesat dan masih menggunakan bahan kayu. Sebagian telah dimodifikasi menjadi bangunan permanen dengan semen yang terlihat pada tangga depan, kayu kayu penopang yang telah diganti dengan batu bata dan besi.
![]() |
| Nuwou Sesat atau rumah adat Lampung berusia lebih dari 100 tahun di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan Lampung Selatan masih dipertahankan. |
Ornamen ornamen kayu yang terbuat dari kayu merbau masih kokoh berdiri di antaranya tiang tiang setinggi 6 meter sebagai penopang rumah panggung tersebut lengkap dengan dinding kayu pada bagian bawah dan geribik bambu pada bagian atas. Maimunah yang mengaku sebagai generasi kedua bersama sang suami Abdulkarim (80) yang sudah meninggal dunia tetap tinggal di rumah berukuran 9×15 meter tersebut.
“Ayah dan suami saya dan anak anak semuanya mewarisi bakat sebagai tukang bangunan sehingga mengenal kualitas kayu yang baik dan awet selama berpuluh puluh tahun yang diambil dari lereng Gunung Rajabasa waktu itu,”ungkap Maimunah yang mengaku berasal dari Desa Babulang Kecamatan Kalianda sebelum menikah dan tinggal di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Kamis siang (29/12/2016).
Rumah panggung yang saat ini berjajar dengan kerabat lainnya total berjumlah tiga buah memiliki bentuk yang seragam dengan kondisi masih asli berupa rumah panggung. Sementara perbaikan pada rumah lain dilakukan dengan mengubah panggung menjadi lantai semen dengan sistem cor serta sebagian pagar yang menggunakan kayu diubah menjadi pagar besi meski bentuk asli rumah panggung di Desa Kekiling tersebut masih menyerupai aslinya.
![]() |
| Modifikasi bangunan asli dengan menambah semen dan keramik tanpa mengubah bentuk asli rumah adat Lampung. |
Maimunah yang didampingi sang anak menantu Aini Wati (50) menerangkan sang suami bernama Lukman Hakim (58) sebagai generasi ketiga dalam rumah panggung tersebut juga berprofesi sebagai tukang. Aini Wati mengaku perehaban dilakukan oleh sang suami dan dirinya sebagai sang cucu dalam keluarga tersebut untuk mempertahankan keaslian rumah tersebut meskipun ia mengaku sudah memiliki rumah sendiri dengan bangunan zaman sekarang yang semuanya terbuat dari batu bata. Menjaga rumah tersebut tetap asli dengan memperbaiki menurutnya merupakan bentuk bakti kepada orangtua meski dirinya sebagai cucu generasi ketiga sudah memiliki rumah.
“Total tiang penyangga yang ada di rumah ini sebanyak 16 buah di mana di deretan depan masih kokoh berdiri hingga ke kolong sebagai penopang lantai dua namun di bagian belakang tidak bertingkat,”ungkap Aini Wati.
![]() |
| Aini Wati (50) generasi ketiga yang menjaga rumah adat dengan peninggalan bokor untuk upacara adat dan keperluan lain. |
Bokor tersebut merupakan alat untuk upacara adat serta kegiatan harian kaum perempuan asli Lampung yang masih melakukan tradisi “nginang” atau mengunyah sirih dan pinang. Bokor bokor yang sudah tak digunakan tersebut kini disimpan dengan rapi meski dalam upacara upacara adat kebesaran masih dikeluarkan. Lantai dua bangunan lama yang masih dipertahankan menurut Aini Wati masih mempertahankan fungsi beberapa ruangan, di antaranya beranda yang menghadap jalan raya dan jalan raya tersebut dikenal dengan nama Jalan Raden Inten II yang merupakan akses utama sebelum Jalan Lintas Sumatera dibangun, bagian lain terdiri dari tangga turun yang masih kokoh berdiri dengan jumlah anak tangga sebanyak delapan buah untuk akses menuju beranda yang ditutup dengan sebuah pintu kayu.
![]() |
| Nuwou Sesat di Desa Kesugihan Kecamatan Kalianda dengan konstruksi dan bahan bangunan dari bambu dan kayu. |
![]() |
| Suasana bagian atas rumah panggung yang sudah mengalami renovasi meski mempertahankan bentuk aslinya. |
Ia menerangkan kini hanya sebagian masyarakat yang mempertahakan rumah panggung atau Nuwou Sesat di Wilayah Penengahan diantaranya masih terdapat di wilayah yang kini disebut Keratuan. Wilayah Keratuan Darah Putih yang merupakan keratuan di mana Pahlawan Nasional Raden Intan II masih memiliki lamban balak di Desa Kuripan sebagian masyarakat bahkan masih mempertahankan nuwou sesat tersebut hingga ke wilayah pesisir Kalianda.
Namun Aini sebagai generasi ketiga yang masih memiliki rumah panggung atau nuwou sesat mengaku sebagian sudah merombak rumah rumah lama menjadi rumah baru dengan arsitektur modern atau jika membangun baru ada yang masih merenovasi rumah lama hanya digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga setahun sekali jika ada acara keluarga atau hari raya Idul Fitri. Sebagian bahkan dibiarkan terbengkelai dan ditinggalkan kosong karena pemilik rumah telah tiada dan generasi penerus sudah merantau ke wilayah lain.
Rumah adat Lampung menurut salah satu tokoh adat Sai Batin,Panglima Alif Jaya pada Kepaksian Skala Berak menerangkan rumah adat tersebut dikenal dengan Nuwou berasal dari Bahasa Lampung yang berarti tempat ibadah seperti masjid, mushola,surau, rang ngaji atau pok ngajei. Selain itu dikenal dengan Lamnahana yang berarti tempat tinggal. Sementara Sesat atau Bantaian adalah bangunan tempat bermusyawarah dan penyimpanan bahan makanan.
![]() |
| Ornamen kain tapis sebagai hiasan pelengkap rumah adat. |
“Banyak yang masih mempertahankan rumah adat sebagai bagian warisan keluarga namun banyak juga yang membangun rumah baru dengan bentuk yang sama meski dengan bahan tak lagi dari kayu karena susah diperoleh,”terang Alif jaya.
Konstruksi Rumah Adat Nuwou Sesat
Secara umum konstruksi rumah adat Lampung atau dikenal Nuwou Sesat memiliki ciri khas berupa rumah panggung seperti pada umumnya rumah pada zaman dahulu. Menurut Panglima Alif Jaya yang juga sebagai pemimpin marga Dantaran, kondisi pada masa silam dimana rumah masih berada di bawah kaki Gunung Rajabasa, jalan setapak serta di kawasan hutan binatang buas seperti harimau, gajah dan binatang liar masih berkeliaran sehingga rumah tradisional masih menggunakan panggung.
Tiang dan Pondasi Penopang
Kayu kayu keras jenis merbau digunakan sebagai bahan utamanya dan tiang tiang keras pilihan akan digunakan sebagai penopang atau pilar pilar. Sementara pada sebagian rumah di Lampung Selatan yang didirikan di pinggir sungai dengan ketersediaan batu kali yang utuh sebagian diguanakan sebagai penopang tiang tiang tersebut agar tak langsung bersentuhan dengan tanah yang biasa disebut umpak. Jumlahnya beragam menyesuaikan besarnya rumah dengan rata rata sebanyak 35 tiang penyangga dan tiang induk sebanyak 20 buah tiang.
Atap
Ujung bubungan atap rumah adat Lampung memusat ke titik tengahbagian paling atas yang terbuat dari kayu bulat. Di atas kayu bulat tersebut diletakkan satu kayu bulat lagi yang berlapis tembaga kemudian di atasnya ada 2 tingkat dari tembaga atau kuningan. Pada bagian paling atas diletakkan perhiasan dari batu sesuai selera pemilik rumah.
Lantai
Nuwou Sesat dominan menggunakan lantai dari bambu yang dibelah belah atau menjadi galar atau khesi. Sementara itu sebagian besar yang memiliki kayu berkelas menggunakan papan sebagai lantai yang berasal dari kayu berbagai jenis diantaranya jati, medang, klutum, bekatteh dan belasa.
Dinding
Dinding rumah yang umumnya digunakan diantaranya dari papan pada bagian bawah dan pada bagian atas dimodifikasi dengan anyaman bambu atau geribik. Dinding kayu yang dibuat dipasang berjajar di setiap rangka rumah dalam posisi berdiri atau menyamping.
Pintu Dan Jendela
Pintu berbentuk setangkup ganda umumnya berbentuk persegi panjang. Sementara jendela berbentuk sama namun dengan ukuran lebih pendek. Setiap jendela dilengkapi dengan teralis dari kayu. Umumnya rumah panggung terdiri dari sebanyak 4 jendela pada bagian depan ruah sedangkan bagian lainnya jumlah jendela menyesuaiakan panjang rumah.
Pembagian Tiap Ruangan
Seperti yang ada pada rumah yang didiami Maimunah hingga kini, rumah adat Lampung memiliki beberapa bagian di antaranya:
1. Panggakh : yaitu loteng rumah yang digunakan sebagai tempat penyimapanan barang barang adat, senjata atau benda pusaka. Bagian tangga rumah dikenal dengan nama Jan.
5. Tebelayakh: kamar tidur kedua
6. Sekhudu: terletak di bagian belakang rumah terdiri dari beberapa ruangan, misalnya gakhang atau tempat pencuci peralatan dapur atau tempat menyimpan hasil panen.
Selain memiliki ruangan ruangan tersebut setiap sisi Nuwou Sesat dihiasi ornamen ornamen, ukiran dan aksara kuno, beberapa di antaranya:
1. Pil Pusanggiri yang artinya setiap manusia harus mempunyai rasa malu jika hendak melakukan perbuatan yang hina menurut agama dan dapat melukai harga diri.
2. Juluk-Adek yang artinya setiap orang yang telah mendapatkan gelar adat sebaiknya bersikap dan berkepribadian yang sesuai.
3. Nemui-Nyimah yang artinya menjaga tali silaturahmi dengan saling mengunjungi sanak keluarga serta bersikap ramah tamah terhadap tamu.
4. Nengah-Nyampur memiliki makna menjaga hubungan dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Sakai-Sambaian merupakan sikap saling tolong menolong dan bergotong royong.
6. Sang Bumi Ruwa Jurai merupakan sebuah rumah tangga yang berasal dari dua garis keturunan masyarakat beradat pepadun dan beradat sai batin meski terdapat dua garis keturunan tetapi tetap bersatu.
Setiap motif khas tersebut memiliki makna sekaligus pesan bagi masyarakat Lampung untuk menjaga kehidupan bermasyarakat dan saling bergotong royong.
![]() |
| Panglima Alif Jaya (kanan) sebagai salah satu tokoh adat marga Sai Batin. |





