Perjuangan Mbah Sipon, Perajin Gerabah di Ponorogo

SELASA, 20 DESEMBER 2016

PONOROGO – Memperingati Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, ternyata tidak semua ibu-ibu berusia senja sejahtera. Di Ponorogo, misalnya, ada Mbah Giyah (63) dan Mbah Sipon (80), yang tetap harus bergulat dengan tanah liat untuk membuat gerabah demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mbah Sipon, setia membuat cobek dari tanah liat.
Di salah-satu sudut rumah di Dusun Krajan, Desa Gombang, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Mbah Giyah terlihat tengah sibuk membuat gerabah. Tangannya dengan cekatan membuat gerabah berbentuk kendi, baik berukuran besar, sedang dan kecil. “Ini harus pas, kalau tidak nanti bentuknya jelek,” ujarnya kepada Cendana News di lokasi, Selasa (20/12/2016).
Menurutnya, pekerjaan membuat gerabah jika tidak telaten dan terampil tidak akan menghasilkan gerabah yang berkualitas baik. Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak tahun 1960-an, di saat usianya masih anak-anak. Pengetahuan membuat gerabah ia dapatkan dari neneknya, sehingga usaha ini merupakan usaha keluarga. Gerabah zaman dahulu berukuran besar-besar dan memiliki bobot yang berat, namun seiring berkembangnya waktu, sekarang gerabah berukuran kecil-sedang saja yang laku dijual.
“Kalau di desa ini dulu banyak yang membuat gerabah, tapi sayang sekarang sudah jarang, karena penerusnya tidak mau belajar membuat gerabah,” jelasnya.
Ibu tiga orang anak ini mengaku tidak pernah berusaha mencari pekerjaan lain, karena ia sudah merasa cocok dengan pekerjaannya membuat gerabah. Pasalnya, membuat gerabah bisa dilakukan di dalam rumah, bisa sembari mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekaligus menjaga cucunya.
Mbah Giyah, perajin gerabah kendi.
Bahan membuat gerabah ia dapatkan dengan membeli tanah liat dari wilayah Ngringin Anom. Setiap 1 bak truk dibeli dengan harga Rp. 250 Ribu. Dari satu bak truk tersebut, Mbah Giyah mampu membuat gerabah hingga tiga kali musim kemarau.
“Keuntungannya tidak bisa dipastikan, tergantung pas rajin membuat ya pasti banyak hasilnya, kadang pas saya malas ya hasilnya sedikit,” cakapnya sambil terkekeh-kekeh.
Untuk gerabah ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 5.000, ukuran sedang dihargai Rp. 6.000 dan paling besar dihargai Rp. 7.000. Kegunaan masing-masing gerabah sendiri berbeda. Untuk yang kecil sebagai tempat ari-ari, ukuran sedang untuk tempat berjualan dawet, dan ukuran besar untuk merebus jamu. Mbah Giyah biasanya menjual dagangannya di Pasar Nailan.
Pembuat gerabah lainnya, Mbah Sipon, warga Desa Ngloning, Kecamatan Slahung, juga sibuk membuat gerabah. Namun, bukan kendi yang ia buat, melainkan cobek atau piring tanah liat yang digunakan untuk makan.
Ia pun tidak sungkan membagi ilmunya saat membuat gerabah ini. Pertama, tanah liat yang kering ditumbuk hingga halus. Kedua, setelah ditumbuk kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Saat ditumbuk itu harus dipisahkan pula sampah dan kerikil yang biasanya tercampur dengan tanah liat. Ketiga, bubuk yang halus kemudian dicampur dengan air sedikit demi sedikit hingga kalis dan siap menjadi adonan. Keempat, adonan dibentuk dengan menggunakan potongan kayu yang diputar secara manual. Kelima, setelah terbentuk kemudian dijemur lagi hingga kering. Keenam, setelah kering, gerabah dibakar selama 5 jam dan terakhir setelah dingin siap dijual.
Meski sudah berusia senja, Mbah Sipon mampu membuat 20-50 buah cobek, tergantung panas matahari. Jika terik, ia mampu membuat 50 buah dan jika saat mendung ia hanya bisa membuat 20 buah saja. Untuk cobek berukuran kecil dihargai Rp. 500 dan yang berukuran besar dihargai Rp. 1.000.
“Daripada menganggur, lebih baik saya bekerja. Lumayan untuk mengisi waktu luang dan membantu membeli kebutuhan rumah tangga,” pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : Koko Triarko / Foto : Charolin Pebrianti

Lihat juga...