JUMAT, 23 DESEMBER 2016
PELEIHARI — Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, menyatakan, serius memperjuangkan sosok Ibu Bhayangkara, Mathilda Batlayeri, menjadi pahlawan nasional. Ia menganggap, almarhum Mathilda sebagai sosok yang militan ketika mempertahankan asrama Kepolisian Kurau dan membela keutuhan NKRI dari serangan pemberontak pada 28 September 1953.
![]() |
| Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan sambutan saat peresmian renovasi monumen Mathilda Batlayeri. |
Dia berharap, pemerintah merespon positif atas usulan tersebut. “Kami perjuangkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional,” ujar Jenderal Tito usai meresmikan renovasi monumen Mathilda Betlayeri di Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, Jumat (23/12/2016).
Tito menuturkan, monumen ini menggambarkan contoh dedikasi dan pengorbanan sosok Mathilda, istri dari seorang anggota polisi Adrianus Batlayeri.
“Ini contoh luar biasa bagaimana militansi dan gigihnya pengorbanan seorang istri polisi yang rela mengorbankan nyawa bersama suami dan anak-anaknya dari serangan gerakan pengacau keamanan,” kata Kapolri Jenderal Tito.
Tito pun meminta para Ibu Bhayangkari masa kini bisa mengambil hikmah dari semangat militansi seorang Mathilda yang gugur saat peristiwa pemberontakan. Meskipun lokasi monumen jauh dari Kota Banjarmasin dan Ibu Kota Negara, Jakarta, Tito menganggap monumen Mathilda Batlayeri sangat strategis karena menginspirasi semangat juang ibu-ibu.
“Bertepatan dengan Hari Ibu, saya harap bisa menginspirasi ibu-ibu lain untuk berjuang sampai titik darah penghabisan dalam rangka membantu keluarga, suami, bangsa, dan negara, bahkan untuk masyarakat lokal dan internasional,” ujar Tito.
Tanpa semangat tinggi dan militansi membela negara, ia mengingatkan, bangsa Indonesia mudah dipengaruhi bangsa-bangsa lain. “Kalau loyo-loyo mudah dipengaruhi orang lain. Dengan militansi bisa mengalahkan penjajah, misalnya semangat arek-arek Suroboyo hanya berbekal bambu runcing bisa mengalahkan penjajah,” kata bekas Kapolda Metro Jaya itu.
Ketua Umum Bhayangkari, Tri Suswati, sepakat, ibu-ibu Bhayangkari mencontoh militansi seorang Mathilda Batlayeri. Ia pun mendukung atas usulan gelar pahlawan nasional terhadap Mathilda Batlayeri.
Sosok Mathilda Batlayeri merupakan wanita asal Tanimbar, Maluku, yang gugur dalam pertempuran melawan para pemberontak pimpinan Ibnu Hajar yang menyerang asrama Kepolisisan Kurau, Kalimantan Selatan. Suaminya adalah seorang polisi bernama Adrianus Batlayeri dan ketiga anaknya meninggal ketika terjadi penyerangan itu. Ketiga anaknya bernama Alek (9), Lodewik (6), dan Max (2,5). Selain keluarga Adrianus Batlayeri, puluhan keluarga anggota polisi gugur di Kurau.
“Kejadiannya Senin subuh sekitar jam empat. Saat itu memang ada perang di sini,” ujar seorang saksi hidup atas penyerangan itu, nenek Amsi (76). Kapolri Tito Karnavian pun memberikan penghargaan kepada wanita sepuh itu.
Untuk menghormati jasa-jasanya, polisi membangun Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau, Kabupaten Tanah Lau,t Provinsi Kalimatan Selatan, pada 13 Agustus 1983. Di bagian muka monumen, tertulis pesan moral: Kepada penerusku, aku Bhayangkari dan anak-anakku terkapar di sini, di bumi Kurau yang sunyi, semoga pahatan pengabdianku memberi arti pada ibu pertiwi.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi / Editor: Satmoko / Foto: Diananta P. Sumedi