Cuaca Ekstrem, Nelayan Perairan Lampung Enggan Melaut

SABTU, 03 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Cuaca ekstrim dengan kondisi angin kencang disertai hujan yang melanda wilayah perairan Lampung dan daratan sejak Jumat malam (2/12) masih terus berlangsung hingga siang ini Sabtu (3/12). Akibatnya ratusan nelayan di beberapa tempat pendaratan ikan dipastikan tidak melaut akibat kondisi angin yang menyebabkan gelombang cukup kencang dan belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. 
Ombak menerjang bibir pantai
Ratusan nelayan yang berada di wilayah dermaga Way Muli Kecamatan Rajabasa bahkan sejak pagi telah menyandarkan perahu yang mereka miliki ke daratan karena kuatir perahu yang mereka miliki terbawa ombak dan arus laut. Salah satu nelayan yang menyandarkan perahunya, Obed (35) bahkan mengungkapkan angin kencang mengakibatkan ombak naik ke daratan dan berakibat perahu perahu nelayan yang disandarkan membentur penahan gelombang. Obed sengaja memindah perahu miliknya ke lokasi yang aman untuk menghindari kerusakan.
Perahu nelayan sandar di dermaga akibat cuaca buruk
Cuaca ekstrim berupa angin kencang disertai hujan deras bahkan membuat nelayan yang sehari hari melaut di perairan Pulau Sebuku, Pulau Sebesi memilih untuk istirahat dan mempergunakan waktu dengan memperbaiki jaring, memperbaiki perahu. Obed mengaku terlalu beresiko melaut dalam kondisi cuaca seperti dua hari terakhir karena selain berombak, perairan yang dilanda angin kencang dan hujan sangat membahayakan bagi nelayan nelayan tradisional seperti dirinya. Beeberapa jadwal pelayaran kapal kapal kecil yang biasa berangkat dari dermaga Canti dan dermaga Bom pun masih menunggu hingga kondisi cuaca membaik.
“Kondisi cuaca sejak kemarin hingga hari ini bahkan mungkin dalam beberapa hari ke depan memang ekstrim, biasa memang menjelang pergantian tahun namun kami memilih istirahat daripada menantang bahaya,”ungkap Obed, salah satu nelayan di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (3/12/2016).
Beberapa nelayan lain yang masih nekat melaut ungkap Obed merupakan para pemilik perahu dengan ukuran besar di atas 45 PK sehingga masih mampu berlayar dalam kondisi angin kencang dan ombak besar. Namun sebagian besar nelayan dengan perahu ketinting, perahu ukuran kecil enggan melaut akibat kondisi cuaca yang ekstrim dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi cuaca yang ekstrim dengan dominasi angin kencang dibenarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Panjang Bandarlampung. BMKG maritim Panjang bahkan meminta para nelayan yang masih tetap melakukan aktifitas maupun tidak mewaspadai kondisi angin kencang yang melanda wilayah setempat dengan potensi arus laut yang bisa berubah sewaktu waktu.
Sugiono, kepala BMKG Maritim Panjang menjelaskan gelombang dan arus laut berpotensi ada peningkatan dan sangat ekstrim sehingga nelayan dan pengguna transportasi laut wajib waspada. Beberapa nelayan yang melalukan aktifitas di laut juga dihimbau untuk lebih berhati hati atau bahkan melakukan istirahat sementara selama angin kencang masih terjadi.
Sejak semalam berdasarkan informasi BMKG sejumlah wilayah di Lampung dilanda angin kencang diantaranya kawasan Kemiling, Bandarlampung, Natar Lampung Selatan, Kalianda Lampung Selatan. Kondisi tersebut berdasarkan keterangan BMKG akibat peningkatan kecepatan angin di kawasan Pesisir Barat.
Ombak menerjang bibir pantai
Sementara itu menurut Hidayatullah, salah satu petugas dari KSOP Bakauheni yang mengawasi penyeberangan kapal jenis landing craft tank (LCT) di Bakauheni mengaku kondisi cuaca ekstrim ini masih cukup aman dilayari oleh kapal kapal besar.  Koordinasi dengan pihak kesyahbandaran dan nahkoda sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian tak diinginkan di perairan.
“Kita selalu waspada dan bahkan di pelabuhan BBK telah disiagakan satu unit kapal KN 212 Drupada milik Basarnas untuk melakukan tindakan segera dan penyelamatan jika ada kecelakaan laut,”ungkap Hidayatullah.
Kapal milik Basarnas tersebut diharapkan bisa melakukan langkah penyelamatan bagi kejadian kecalakaan laut di perairan Selat Sunda dan saat ini disiagakan di Bakauheni.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...