Kisah Mama Nando Tukang Tambal Ban dari Jalinsum Lampung

JUM’AT 4 NOVEMBER 2016

LAMPUNG—Masih banyak anggapan di masyarakat profesi tukang tambal ban kerap dibayangkan didominasi kaum pria. Namun bagi mereka yang pernah mengalami ban kempes ketika melewati Jalan Lintas Sumatera, sekitar satu kilometer dari Pelabuhan Bakauheni bisa jadi memerlukan jasa Mama Nando. Perempuan berusia 34 tahun itu mempunyai usaha bengkel yang juga menjadi tempat kediamannya. Bengkel itu dilengkapi alat tambal ban dan juga mesin tambah angin.

 

Mama Nando

Purba dengan ramah akan menyapa setiap pelanggan yang akan menggunakan jasa berbagai keperluan di bengkel miliknya yang berukuran sekitar 3×4 meter tersebut. Sebagian besar pelanggan rata rata menggunakan jasa tambah angin dengan nitrogen atau tanpa nitrogen sesuai dengan nama plang nama bengkel miliknya Tambal ban dan bengkel.
Pekerjaan menambal ban, menambah angin ditekuninya bukan karena proses belajar khusus melainkan melihat sang suami, Purba, yang juga sehari hari menekuni usaha bengkel dan tambal ban.
“Awalnya saya hanya melihat setiap suami menambal ban, mengisi angin dan beberapa pekerjaan bengkel yang kami tekuni ini, lalu saat suami ada order mendapat pekerjaan di tempat lain dan sedang ada konsumen mau tak mau saya yang turun tangan dan kadang anak saya yang masih SD bisa kalau cuma menambah angin,”ungkap Mama Nando atau Nyonya Purba saat ditemui Cendana News di bengkel miliknya di Jalinsum Bakauheni, Jumat (4/11/2016).
Proses bisa menjadi tukang tambal ban pun menurutnya awalnya terpaksa dilakukan saat ada pelanggan datang dan saat itu sang suami sedang pergi ke kabupaten lain.
Berbekal nekat dan berbekal rasa kasian kepada pengendara kendaraan roda dua yang akan pulang dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera dengan membawa barang bawaaan cukup banyak dan dua orang anak. Kala itu ia mengaku menambal ban dengan sangat pelan karena takut salah dan tak berhasil. Selanjutnya meski sang suami ada namun ada pengerjaan mereparasi kendaraan di bengkelnya, pekerjaan menambal ban rutinitas yang bisa dikerjakannya dengan lebih cepat dan rapi.
Penulis melihat dengan berbekal beberapa kunci pas, Mama Nando dengan cekatan mulai melepas baut, beberapa onderdil di bagian ban dan melepas ban dalam untuk ditambal atau diganti dengan ban baru. Memerlukan waktu sekitar 20 menit dalam kondisi kerusakan ban yang tak terlalu parah bisa dikerjakannya mulai dari melepas ban dalam, menyiapkan api pembakaran untuk mamanaskan besi yang akan digunakan untuk menipiskan bagian ban yang bocor. Pekerjaan yang rapi dan cukup membantu bagi para pemilik kendaraan yang mengalami bocor ban pun diganjar dengan upah sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Ia bahkan mengaku tak pernah mematok harga khusus dengan standar tambal ban. Namun terkadang konsumen memberinya uang lebih dan tak mau menerima uang kembalian.
Berdasarkan penuturannya, di sepanjang Jalan Lintas Sumatera terdapat beberapa pemilik kompressor untuk menambah angin tanpa melayani jasa tambal ban bocor. Selain itu ungkap Mama Nando, sebagian besar pemilik bengkel, tambal ban tersebut rata rata ditekuni oleh para kaum pria, laki laki yang mengerjakan pekerjaan tersebut dan nyaris belum ada wanita yang berprofesi sebagai tukang tambal ban di sepanjang jalur tersebut.
Sebagian konsumen memilih menambah angin di bengkel yang dimilikinya dengan alasan banyak spare part atau onderdil motor dan mobil yang disediakan. Sebab ia mengaku dalam kondisi tertentu ada sebagian pemilik kendaraan yang lebih memilih ban baru dibandingkan melakukan proses penambalan ban yang bocor.
“Kalau ban terkena paku dengan lubang yang cukup besar dan akan melakukan perjalanan jauh biasanya pengendara motor memilih ban dalam dan ban luar baru karena tak mau ambil resiko bocor lagi,”ungkapnya.
Selain menyediakan sparepart ban, ia juga menyediakan berbagai perlengapan kendaraan yang dijualnya diantaranya spion, ban luar, baut, mur, stang , kanalpot, rantai serta berbagai perlengkapan kendaran roda dua dan roda empat. Pekerjaanmenambah angin dan menambal ban diakuinya hampir setiap hari selalu ada yang menggunakan jasanya sebab lokasi bengkel yang ada di tepi Jalinsum yang merupakan pertemuan antara Jalan Lintas Timur dan Jalan Lintas Sumatera hampir setiap hari dilalui ribuan kendaraan yang melintas dari dan menuju ke Pelabuhan Bakauheni.
Pemakai jasa bahkan akan semakin meningkat saat musim liburan dan mudik hari raya keagamaan dengan jumlah kendararaan yang melintas bisa mencapai jutaan baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Mama Nando sempat mengalami melayani jasa menambah angin pada ban kendaraan sekitar 50 orang saat arus mudik lebaran, jumlah yang sangat fantastis dibanding hari biasa yang maksimal hanya 2-5 orang per hari. Jasa penambahan angin dari Rp2 ribu-Rp5 ribu pun menjadi sumber penghasilan yang ditekuninya dan jasa memasang ban baru dengan harga Rp35-45 ribu menjadi mata pencaharian yang ditekuni hampir selama lima tahun terakhir.
Mama Nando mengaku tak malu menekuni usaha tambal ban tersebut karena baginya konsumen yang datang merupakan berkah yang menjadi sumber nafkah bagi anak anaknya. Ia juga mengaku rela melakukan pekerjaan yang dominan dikerjakan oleh kaum laki laki tersebut dengan prinsip apapun pekerjaan yang dilakukan asal halal bisa mendatangkan berkat bagi keluarganya. Ia mengaku mengerjakan tugas menambal ban bukan hanya mengejar cepat tapi memberi kenyamanan kepada konsumen yang akan melakukan perjalanan jauh terutama jika membawa keluarga.
“Saya pernah diminta menambal ban saat subuh sementara masih ngantuk namun karena tidak ada tukang tambal lain yang buka maka mau tak mau saya kerjakan dan cukup membantu pemilik motor malah dia kasih uang lebih,”ungkap Mama Nando.
Selain menjadi pekerjaan yang ditekuni keluarga, sang suami sibuk menjadi tukang mereparasi kendaraan atau bengkel.  Terkadang saat sang ayah dan sang ibu sibuk, sang anak yang duduk di bangku SMP pun sudah terbiasa melakukan tugas mengisi angin kendaraan yang kekurangan angin.
Purba atau Mama Nando berharap dari usaha bengkel miliknya bisa ditabung dan digunakan sebagai biaya untuk membeli tanah atau membeli rumah sebagai perantau dari Sumatera Utara ke Lampung. Selain menempati lokasi yang merupakan sepadan jalan di tanah Bina Marga (BM) ia mengaku lokasi yang ditempati saat ini masih berupa rumah sederhana dari papan yang sekaligus menjadi tempat usaha.
Rencana pendataan aset dengan akan melakukan penertiban dan penggusuran di sepadan jalan diakuinya sudah disosialisasikan.  Mama Nado berharap mendapat tempat baru yang strategis di pinggir jalan agar masih bisa menjalankan usaha sebagai tukang tambal ban.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...