Warga Desa Sukabaru Masih Kesulitan Peroleh Air Bersih Meski Musim Hujan

KAMIS, 27 OKTOBER 2016

LAMPUNG — Musim hujan dengan jumlah curah hujan cukup tinggi menjadi berkah bagi sebagian masyarakat di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Pasalnya musim hujan dengan curah hujan cukup tinggi menjadi kesempatan untuk menampung air hujan dalam jumlah banyak di bak bak penampungan milik warga setempat yang selama puluhan tahun kesulitan akan air bersih untuk keperluan mencuci, mandi dan keperluan memasak. Beberapa dusun di wilayah tersebut diantaranya Dusun Laban Sunda, Dusun Laban Proyek dan Dusun PKS merupakan wilayah perbukitan yang sangat sulit untuk mengakses air bersih dan sebagian besar memanfaatkan sungai Way Pisang dan meminta di sumur milik warga lain yang letaknya berjauhan. Warga terpaksa menggunakan jerigen air untuk mengambil air dari sungai dan sumur warga lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih akibat kesulitan dalam membuat sumur.
Salah seorang warga Dusun Laban Proyek, Harmoni (34) mengaku setiap hari harus mengambil air dari sumur milik warga lain dengan cara menimba atau mengambil air dari sungai Way Pisang. Keterbatasan ekonomi dan juga ketiadaan sarana air bersih membuatnya terpaksa setiap sore mengambil air untuk kebutuhan keluarganya diantaranya memasak dan kebutuhan lain. Ia mengaku tak memiliki cukup biaya untuk membuat sumur yang memerlukan biaya sekitar Rp2-3juta sampai selesai ditambah dengan kedalaman sumur di wilayah tersebut bisa berkisar 15-30 meter dengan kontur perbukitan dan tanah batu cadas.
“Kami tak punya biaya untuk membuat sumur dan kedalaman sumur di sini sangat dalam sebagian terpaksa membuat sumur bor dengan biaya yang sangat mahal, tapi bagi kami yang ekonomi lemah ya terpaksa mengambil air di kali,”ungkap Harmoni saat ditemui Cendana News di rumahnya sedang mengambil air dari Sungai Way Pisang, Kamis sore (27/10/2016).
Kebutuhan akan air bersih untuk mandi diakuinya masih diperoleh dari air sungai Way Pisang namun kebutuhan air bersih untuk minum dan kebutuhan mandi diambilnya dari sumur milik warga yang sudah memiliki sumur dengan cara menimba. Dalam sekali ambil Harmoni mengaku bisa mengangkut sekitar 25 liter air bersih dengan menggunakan tiga buah jerigen yang diangkut menggunakan kendaraan roda dua. Kontur pebukitan dengan jalanan desa yang dipenuhi bebatuan membuatnya terpaksa berhati hati mengangkut tiga buah jerigen tersebut sementara sang isteri mencuci baji dengan air yang diambil olehnya. Proses ngangsu (mengambil air) dari sumur milik warga lain diakui oleh Harmoni dan Listi sang isteri dilakukan sejak empat tahun terakhir dan menjadi rutinitas harian warga di wilayah tersebut.
Selain mengumpulkan air dengan cara mengangsu, sebagian warga lain, Sarminah (34) terpaksa mengumpulkan air hujan yang mulai turun dengan curah hujan cukup tinggi beberapa pekan terakhir. Air hujan yang setiap hari turun sebagian besar ditampung menggunakan bak bak plastik dan sebagian lagi ditampung menggunakan bak bak terbuat dari semen. Sarminah mengaku air bersih yang sudah ditampung di bak bak tersebut selanjutnya diendapkan untuk mengurangi kadar asam dan sebagian menggunakan garam dan tawas yang ditaburkan dalam bak air tersebut untuk mengurangi keasaman air.
Sejak sekitar puluhan tahun lalu, Sarminah dan ratusan warga di wilayah tersebut mengaku kesulitan air bersih di musim hujan bahkan di musim kemarau. Jarak sungai sekitar 100 meter dari perkampungan menjadi tujuan utama warga untuk memperoleh air akibat mahalnya operasional pembuatan sumur bor dan sumur galian. Ia mengaku menyiapkan belasan bak plastik dan ember untuk menampung dengan ukuran kecil dan besar yang digunakan untuk mencuci dan mandi.
“Kalau setiap musim hujan lebih enak untuk kebutuhan mandi kami masih bisa menampung air hujan tapi untuk minum dari air sumur meminta kepada warga lain atau membeli air galon,”ungkap Sarminah.
Sarminah, Harmoni berharap pemerintah memiliki perhatian kepada masyarakat di tempat tersebut dengan membuatkan sumur bor yang bisa dipergunakan secara komunal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab masyarakat mengaku pernah ada bantuan sumur bor namun sudah cukup lama dan digunakan oleh banyak kepala keluarga. Keberadaan sumur bor yang diperuntukkan untuk fasilitas air bersih merupakan kebutuhan yang sangat diharapkan warga terutama setelah jaringan listrik PLN mulai menjangkau wilayah tersebut.
Sebelumnya masyarakat menggunakan jaringan listrik dengan daya yang masih cukup lemah sehingga untuk mesin pompa listrik tidak bisa difungsikan di wilayah tersebut. Keberadaan saluran listrik dengan tegangan sekitar 2.200 volt diharapkan bisa digunakan warga yang memiliki sumur yang cukup dalam untuk mesin pompa listrik sebab selama ini masyarakat masih memanfaatkan air sungai, air hujan untuk kebutuhan sehari hari.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...