Uniknya Kartu Tarot Wayang Khas Jawa di Yogyakarta

SABTU, 22 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA — Sebagai sebuah seni yang juga berkembang di Indonesia, para praktisi pembaca kartu tarot juga mengembangkan kartu tarot dengan muatan lokal Nusantara. Salah satunya dengan membuat Kartu Tarot Wayang. Gambar-gambar yang dalam kartu tarot versi barat menggunakan tokoh-tokoh dongeng di Eropa, Tarot Wayang mengggunakan tokoh-tokoh pewayangan dalam kisah Ramayana dan Mahabarata.
Kartu Tarot Wayang mulai dicetak sejak tahun 2001. Sebagai kartu pembacaan peruntungan atau prediksi, Tarot Wayang juga telah memiliki legitimasi dari asosiasi tarot internasional yang berpusat di Amerika Serikat. 
“Kartu Tarot Wayang ini diciptakan oleh salah satu tokoh tarot Indonesia Ani Sekarningsih (alm). Tarot Wayang ini menjadi kartu tarot khas Jawa, karena penggambaran karakter manusianya mengambil dari sosok pewayangan dari kisah ramayana, mahabarata dan purwa carita”, jelas praktisi tarot wayang di Yogyakarta, Almanye Taruno Menggolo Yudho, saat ditemui Sabtu (22/10/2016).
Sama halnya dengan kartu tarot dari negeri Eropa yang biasa disebut Kartu RWS (Rider White Smith), tarot wayang juga dibuat dengan 78 lembar kartu. Hanya saja, kartu arcana mayor dalam tarot wayang diwakili oleh kartu dengan warna latar hitam, terbagi dalam empat kelompok tokoh pewayangan. Simbol keberuntungan atau keajaiban digambarkan dengan tokoh Semar. Namun, kata Almanye, dalam tarot wayang ini ada satu kartu yang sama, namun berbeda pemaknaan, yaitu kartu bergambar Dewi Supraba. 
Almanye menjelaskan, dua kartu Dewi Supraba berbeda busana dan warna latarnya. Supraba dengan warna latar biru, menggambarkan Dewi Supraba ketika menjadi pimpinan 7 bidadari di Kahyangan, sedangkan Supraba dengan latar ungu menggambarkan Supraba ketika hidup di dunia.
“Supraba dengan warna latar biru melambangkan keduniawian, sedangkan Supraba dengan warna latar ungu menggambarkan intelektualitas”, jelasnya.
Pada dasarnya, kata Almanye, kartu tarot menggunakan ilmu numerologi, simbolisasi warna dan karakter tokoh dalam membaca peruntungan seseorang. Namun, demikian, Almanye menegaskan, jika pembacaan kartu tarot itu bukan meramal. Melainkan membaca pemaknaan kartu yang diambil secara acak, yang sebenarnya pada saat mengambil atau memilih kartu tersebut alam bawah sadarnya bermain.
Almanye mengatakan, menggunakan kartu tarot wayang dirasa lebih relevan digunakan di Indonesia, karena gambaran lakon dan sosoknya diwakili oleh kisah-kisah pewayangan yang juga merupakan gambaran lakon kehidupan manusia Jawa yang diakui senantiasa relevan pula sepanjang masa.
Pembacaan kartu tarot, kata Almanye, sama sekali bukan ramalan. Apalagi meneropong sesuatu yang bakal terjadi. Membaca kartu tarot, katanya, adalah membaca alam bawah sadar seseorang menggunakan alat bantu atau media kartu tarot.
“Sama seperti prakiraan cuaca yang bisa benar dan bisa salah, pembacaan kartu tarot juga dilakukan berdasarkan pakem ilmu yang diakui internasional. Soal kebenarannya, tetap menjadi misteri Illahi”, pungkasnya. 


Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Lihat juga...