KAMIS, 27 OKTOBER 2016
SURABAYA — Berangkat dari tema ‘Peran Pemuda Menghadapi ASEAN Dalam Bingkai Nasionalisme’ Universitas Narotama mengadakan seminar. Tiga pembicara yang diundang untuk menyampaikan materi yakni Direktur Jendral Kerjasama ASEAN Kementrian Luar Negeri, Jose Antonio Morato Tavares. Kemudian, Ir. H. Eddy Surohadi, SE selaku Konsul Kehormatan Republik Filipina di Indonesia). Terakhir Rinda Amalia SH. MH, Ketua Pusat Studi ASEAN Universitas Narotama.

Dalam penyampaian materi, Jose Antonio menerangkan soal Masyarakat ASEAN. Sekelumit menyinggung soal visi dan misi ASEAN. Selanjutnya diterangkan pula olehnya pilar-pilar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ia menjelaskan lima pilar MEA yakni perekonomian yang terintegritas penuh dan terpadu. Berdaya saing, inovatif dan dinamis. Konektivitas dan kerjasama sektoral. Tangguh inklusif serta people oriented dan people centered. Dan terakhir ASEAN yang mengglobal.
Disebutkan, ada banyak tantangan yang dihadapi Indonesia di MEA. Tantangan yang dihadapi antaranya, akses terhadap permodalan yang masih minim; Semangat kewirausahaan yang rendah; Kualitas produk UMKM rendah; Partisipasi UMKM di rantai global yang juga masih rendah; Penguatan kapasitas inovasi dan SDM minim; Profesionalisme dan kualitas pendidikan yang masih rendah.
Untuk pemateri selanjutnya yakni dari Eddy Surohadi yang menyampaikan tentang kelebihan Filipina yang bisa diadopsi oleh Negara Indonesia agar bisa bersaing di kancah Internasional. Ia menerangkan setidaknya ada lima kelebihan yang Filipina miliki saat ini, yakni kemampuan warganya dalam berbahasa inggeris yang tinggi; Eksport man power; Pusat call center perusahaan multi nasional dunia; Business procesing office; Terakhir Filipina sangat giat dalam memerangi narkoba.
Sementara itu, pemateri terakhir, Rinda menyampaikan materi tentang generasi muda Indonesia bisa merajai ASEAN. Dalam materinya diterangkan bahwa pemuda dan pemudi Indonesia sebenarnya mampu untuk bersaing di kancah ASEAN. Ini berdasar pada kekuatan kepemudaan yang harus dibangun. Kemudian pola pikir harus dirubah tentang bagaimana agar bisa bersatu untuk dapat mengungguli bangsa-bangsa lain di ASEAN dan jangan pernah takut untuk memilili mimpi dan cita-cita yang tinggi.
“Sebenarnya mengenai rasa nasionalisme, itu harus benar-benar tertanam dalam diri para pemuda dan pemudi Indonesia. Karena itu wujud rasa cinta kita pada Negara Indonesia,” ujar Jose Antonio saat sesi diskusi dilaksanakan. Kalau disuruh memilih antara berjaya di dalam negeri atau luar negeri, Eddy menambahkan saat diskusi bahwa kalau bisa memilih dua-duanya. Yang terpenting jangan sampai hilang rasa nasionalisme yang dimiliki.
“Jangan khawatir kalau sudah lama di luar negeri akan hilang rasa nasionalismenya. Pak habibie saja masih cinta dengan Indonesia. Ia adalah salah satu bukti contohnya,” katanya.

Eddy menambahkan, sebenarnya kemampuan yang harus dimiliki untuk dapat bersaing di era MEA ini tidak harus dengan pendidikan formal saja. Pendidikan non formal juga penting. Seperti wirausaha atau bisa seni lukis.
“Sudah banyak contoh-contoh orang sukses yang berwirausaha di luar negeri. Dan itu patut jadi contoh juga, ” pungkasnya.
Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid