Material Ganggu Pengendara, Kendaraan Proyek Tol Akibatkan Jalinsum Rusak

SENIN, 31 OKTOBER 2016

LAMPUNG — Sejumlah pengendara Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ruas Bakauheni hingga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni mengeluhkan hilir mudiknya kendaraan pengangkut material tol di sepanjang jalan tersebut. Selain mengakibatkan kerusakan sejumlah titik, sejumlah jalan juga mengalami perubahan kontur akibat amblas. Belum lagi material tanah yang diangkut tanpa penutup mengakibatkan debu beterbangan saat kemarau dan material tanah yang jatuh mengakibatkan jalan menjadi licin saat musim hujan.
Kondisi jalan yang licin dampak dari material tanah dan batu yang tercecer di jalan serta terbawa ban kendaraan pengangkut material pembersihan lahan membuat kendaraan mengalim slip ban dan membahayakan. 
Dominggo (34) salah satu pengguna kendaraan roda dua yang bekerja di Pelabuhan Bakauheni mengaku harus ekstra hati-hati saat melintas di Desa Hatta akibat sebagian besar jalan tertutup material tanah yang lengket ke aspal dan membuat jalan menjadi licin. Meski beberapa pekerja ditugaskan khusus untuk membersihkan jalan dari tanah yang menempel namun sebagian justru membuat licin saat disiram menggunakan air.
“Sebagian besar material yang dibawa oleh kendaraan pengangkut proyek tol merupakan tanah merah dan tanah merah mengakibatkan jalan menjadi licin setelah terkena air dan justru disiram tapi tidak terlalu bersih, kalau panas jadi debu dan mengganggu pengguna jalan,”ungkap Dominggo kepada Cendana News di Jalinsum ruas Desa Hatta Kecamatan Bakauheni, Senin (31/10/2016).
Ia bahkan harus terpaksa memacu laju kendaraannya dengan pelan di titik titik yang dipenuhi material tanah tol yang membahayakan kendaraan lain di Jalinsum. Kondisi tersebut dipastikan masih akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan karena proses pengerjaan tol Sumatera sudah mencapai waktu beberapa bulan dan belum menujukkan titik terang proses penyelesaian.
Pekerja pembersihan material yang ada di Jalinsum, Andi, mengaku beberapa petugas disiapkan untuk membersihkan material tanah yang berada di sepanjang Jalinsum. Sebagian pekerja menggunakan sekop, cangkul dan bahkan disiram menggunakan air yang disemprot menggunakan air. Ketebalan tanah yang tak bisa dibersihkan dengan cara manual di atas aspal bahkan dibersihkan menggunakan alat berat untuk menyingkirkan material tanah yang mengganggu pengguna Jalinsum. Meski demikian tetap saja sepanjang Jalinsum berubah menjadi jalanan tanah merah yang licin saat hujan datang dan memaksa pengendara berhati hati.
Mega proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar di Lampung terus dikebut. Berbagai pembangunan terus dikerjakan oleh pihak pelaksana proyek JTTS diantaranya pembuatan jalan layar (fly over), pintu keluar, terowongan, serta jalan utama untuk jalan bebas hambatan di Pulau Sumatera tersebut yang dikerjakan oleh pelaksana di paket 1 Bakauheni-Sidomulyo, PT Pembangunan Perumahan (PP). Pintu masuk pelabuhan Bakauheni yang akan terhubung dengan dermaga VII di pelabuhan Bakauheni pun terus dikebut dengan pembuatan tiang pancang. Sebagian besar tanah milik warga yang sudah dibebaskan untuk pembangunan tol sepanjang 140.938 kilometer bahkan telah mendapat proses penggantian rugi.
Pantauan Cendana News, proses pembersihan lahan telah sampai di Kecamatan Penengahan sementara sebagian lahan milik warga yang akan dilintasi jalan tol Sumatera sudah digusur. Sebagian tanah yang belum digusur diantaranya lahan pertanian sawah masih dikerjakan oleh petani dengan melakukan penanaman padi akibat belum adanya kepastian akan adanya proses pencairan uang ganti rugi lahan terdampak Jalan Tol Sumatera.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...