Ditjen Holtikultural Kementan Cek Ketersediaan Cabai di Magelang dan Temanggung

RABU, 26 OKTOBER 2016

MAGELANG — Kenaikan harga cabai di kota-kota besar di Indonesia memberikan dampak inflasi yang cukup besar secara nasional. Guna menekan inflasi, Direktur Jendral Holtikultural Kementerian Pertanian melakukan peninjauan ke daerah penghasil cabai di sejumlah daerah yang ada di Jawa Tengah.
Pemantauan Ditjen Holtikultural selama dua hari (25-26/10/16) ini dengan mengunjungi petani cabai di Desa Ketudan, Kecamatan Pakis, Magelang dan Desa Campursari Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. 
“Setelah kita melihat langsung di tingkat petani, ternyata tidak ada masalah. Ketersediaan cabai cukup, karena per hektare mampu menghasilkan 7 hingga 10 ton cabai,” ucap Sekretaris Ditjen Holtikulutural Kementan, Yazid Taufik disela-sela kegiatan.
Dengan pola tanam petani yang menggunakan sistem silang membuat hasil panen terus berkesinambungan. Disamping petani mulai panen,  petani lain sudah melakukan musim tanam. 
“Ini yang baik, karena cabai bisa terus di panen. Setidaknya ada 200 hektare di Desa Ketudan, Magelang yang menjadi lahan cabai, jika dilakukan sistem silang ini mampu menopang kebutuhan cabai,” kata Yazid.
Kondisi cuaca yang tidak menentu karena intensitas hujan masih tinggi juga mempengaruhi hasil tanam. Sebab, dengan tingginya curah hujan mengakibatkan penyakit tanaman cabai semakin meningkat. 
“Petani akhirnya harus kerja ekstra dengan melakukan penyemprotan pestisida, sehingga biaya petani semakin tinggi,” lanjutnya.
Tak hanya berdampak pada serangan hama, musim penghujan juga menyebabkan kematangan fisiologi menjadi panjang dan menyebabkan buah lama menjadi memerah. Pada kondisi normal cabai mulai memerah membutuhkan waktu 3-4 hari, namun pada musim penghujan membutuhkan waktu lebih dari sepekan karena membutuhkan sinar matahari yang intensif.
“Faktor lain yang mempengaruhi harga cabai tinggi di musim penghujan karena biaya tenaga kerja juga semakin mahal. Ketersediaan tenaga kerja saat panen ini sangat penting, karena dapat mengganggu jadwal panen yang nantinya juga berdampak pada kualitas panen,” ungkapnya.
Disebutkan, perkiraan produksi cabai besar nasional bulan Oktober adalah 81.042 ton, sedangkan kebutuhan cabai besar nasional adalah 75.761 ton. Untuk cabai rawit perkiraan produksi bulan Oktober 65.930 ton dan kebutuhan cabai rawit nasional bulan Oktober adalah 53.810 ton. Di Provinsi Jawa Tengah menempati urutan ke 3 produksi cabai nasional, yakni berkisar 14,6 persen.
“Mengenai harga di tingkat petani cabai masih standar. Untuk harga OP (operasi pasar) cabai kriting berkisar Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan untuk cabai rawit merah di tingkat petani berkisar Rp 15 ribu per kilogram. Yang menjadi masalah hargai cabai di pasar Jakarta sampai Rp 90 ribu per kilogram,” tandasnya.
Yazid mengaku tidak bisa berbuat banyak jika harga di pasar menjadi tinggi. Upaya yang dilakukan Ditjen Holtikultural adalah memastikan ketersediaan cabai aman dan harga OP di tingkat petani masih standar guna menekan laju inflasi. 

Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid

Lihat juga...