Cubitan Guru Menginspirasi ‘Permainan Naluri’

JUM’AT, 28 OKTOBER 2016

BANDUNG — Masih ingat kasus Guru asal Sidoarjo, Jawa Timur, Muhammad Samhudi (46) yang dibawa ke meja hijau gara-gara mencubit muridnya? Perkara itu menginspirasi Muhammad Ainul Chamdi (20) dan Lilis Nurfajriya untuk membuat karya yang patut diacungi jempol.
Kakak beradik yang juga asal Sidoarjo ini menjadikan kasus tersebut sebagai tema dalam film pendeknya yang diberi judul ‘Permainan Naluri’. Karya mereka mampu keluar menjadi yang terbaik pada Moviestival 2016.
Film garapan Chamdi dan Lilis ini memang menyentuh dan menyentil perilaku orang dewasa. Di mata mereka orang dewasa kerap menyikapi segala sesuatu dengan amarah dan cenderung menyimpan dendam.
Dikisahkan dua bocah yang bersahabat. Salah satu bocah memiliki kakak yang menjadi korban pencubitan. Sementara satu bocah lainnya adalah anak dari guru yang mencubit. Lantas kedua sahabat ini beradu pendapat berdasarkan versi dari keluarganya masing-masing. 
Karena tak ada titik temu, mereka berinisiatif untuk mengajarkan keluarganya yang berseteru tersebut untuk bersikap ala bocah. Yaitu segera memaafkan seusai berkelahi tanpa dendam dan bermain bersama kembali.
“Misinya sih sebenarnya masalah itu bisa diselesaikan dengan kata maaf, apalagi dengan masalah yang kecil dan sepele seperti itu,” ujar Chamdi, di Jalan Banda, Kota Bandung, Kamis (27/10/2016) Malam.
Chamdi tak menyangka film pendek yang digagas besama adiknya itu terpilih sebagai film pendek terbaik. Padahal karya milik peserta lainnya pun memiliki cerita yang kuat, sesuai dengan tema Moviestival 2016, yakni ‘Nurani Bangsaku’.
Pada film ‘Permainan Naluri’ Chamdi bertugas sebagai produser sekaligus juru kamera. Sementara sang adik yang memang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) berlaku sebagai sutradara.
“Orang tua sempat bingung waktu kita bikin film ini, katanya ini film buat main-main atau buat apa?,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Lilis meyampaikan, penggarapan film ‘Permainan Naluri’ tersebut memakan waktu satu bulan. Banyak kendala saat pengambilan gambar, terutama saat mengarahkan empat orang aktor yang notabene anak kelas enam di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Mengarahkan adik-adik (aktor) harus sabar butuh waktu lama, harus dikasih makanan dulu baru ambil gambarnya bisa bagus,” kata Lilis. 
Karena karyanya meraih predikat film terbaik di Moviestival 2016, Kakak beradik ini mendapatkan hadiah Rp 20 juta. Soal hadiah, Lilis sampaikan akan dibagikan juga kepada aktor yang terlibat.
“Untuk dikasih ke adik-adik (aktor) juga karena dua anak itu kan kelas enam (SD) jadi butuh biaya banyak untuk masuk ke SMP,” imbuh Siswi SMP Muhamadiyah 3 Waru, Sidoarjo ini.

Jurnalis : Rianto Nudiansyah / Editor : Irvan Sjafari / Foto : Rianto Nudiansyah

Lihat juga...