MINGGU, 3 JULI 2016
MAUMERE — Bicara koperasi di Indonesia tentu tak lengkap bila melupakan sosok penggerak koperasi Pintu Air ini. Bersama 49 teman lainnya, 01 April 1995 Yakobus Jano berhasil mendirikan Kopdit Pintu Air.
Berawal di dusun Rotat desa Ladogahar kecamatan Nita kini Pintu Air menempati peringkat 4 nasional. Yakobus kepada Cendana News Sabtu (26/6/2016) mengatakan, orang miskin ini ibarat tanaman, kalau tidak disiram dengan air mana mungkin tanaman itu bisa tumbuh.
“Orang kalau bisa maju selain harta lainnya, uang menjadi hal yang utama. Karena itu mereka harus diberdayakan dengan menabung dahulu baru bisa diberikan pinjaman yang besarnya tiga kali dari jumlah tabungan,”ujarnya.
NTT diartikan lelaki kelahiran Rotat 15 September 1955 sebagai Negeri Tanah Terjanji, di dalamnya ada harta kalau digali. Masyarakat NTT sebut Yakobus hanya berpikir harta itu seperti batu kerikil yang ada di permukaan tanah dan kita hanya menyapunya saja.
Ia menyebutkan, mental masyarakat perlu mendapat pendampingan dan pendidikan khusus. SDM yang baik jangan dilihat sekedar mempunyai ijazah.
“Keterampilan itu ijazah kehidupan, itu hanya ada di universitas kehidupan bukan di lembaga universitas. Ijazah yang didapat di lembaga universitas mendidik orang untuk memimpin tetapi memimpin bukan dengan hati tetapi dengan harta,” tegasnya.
Masyarakat manengah ke bawah sambungnya, selain pinjaman juga perlu mendapatkan pendampingan seperti dia harus belajar bayar dengan baik, simpan dengan baik. Hal ini yang membuat Jano berpikir lebih baik mendirikan koperasi.
Mengenai keunggulan koperasi dibandingkan dengan bank anak dari Petrus Moa dan Yuliana Sareng ini menyebutkan, kepemilikan koperasi ada pada anggota sedang bank itu pelayanan jasa. Jadi anggota lanjutnya, sehabis menggunakan jasa bank dia tidak terdaftar sebagai pemilik.
“Kalau koperasi sampai anggota meninggal dia tetap terdaftar sebagai pemilik sedangkan pengurus diberikan amanat oleh anggota,”ungkapnya.
Total anggota Kopdit Pintu Air (Pintar) sebanyak 108.964 orang pada 2015. Kopdit Pintar yang semula hanya bergulat di dusun Rotat dan Maumere, kini berkembang hingga 27 cabang di seantero NTT bahkan mulai merambah ke NTB, Kalimantan, Jawa dan Batam.
Koperasi yang didirkan dengan modal nekad 21 tahun lalu sebesar 500 ribu rupiah, kini, siapa nyana asetnya 442,8 miliar rupiah dengan akumulasi pembiayaan sebesar 667,2 miliar rupiah.Kopdit Pintar pun mendirikan KSU Pintar dan mendirikan salayan 3 lantai yang dresmikan Juni 2016, berencana membangun dermaga dan membeli kapal laut serta membangun SPBU.
Menurut Jano kemajuan Pintu Air merupakan usaha dan kerja keras semua tim dan anggota Pintu Air. Saat ini segala pencapaian Pintu Air memang luar biasa tetapi masih ada dan akan terus ada tugas dan tanggung jawab untuk meramu keberadaan Pintu Air menjadi koperasi yang benar-benar hadir untuk melayani anggotanya.
[Ebed De Rosary]