Kojadoi NTT, Pesona Jembatan Batu dan Kampung Tanpa Kendaraan Bermotor

MINGGU, 3 JULI 2016

MAUMERE — Melancong ke pulau Kojadoi yang berada persis di sebelah utara daratan kabupaten Sikka kini menjadi sebuah alternatif wisata yang digemari wisatawan lokal dan mancanegara.
Pulau Kojadoi yang dapat ditempuh selama 2 jam perjalanan dari dermaga Laurens Say Maumere atau 1 jam dari Nangahale mengunakan perahu motor tradisonal terkenal akan keunikan jembatan batunya.
Jembatan yang menghubungkan pulau Kojadoi dengan pulau Kojagete ini disusun dari batu-batu karang dan bebatuan lainnya atas inisiatif masyarakat. Adanya jembatan ini membuat masyarakat bisa mengakses fasilitas kesehatan,pendidikan dan pasar di pulau Kojagete.
Kojadoi merupakan salah satu dari 17 pulau yang ada di kabupaten Sikka. Dari 17 pulau tersebut, hanya 8 pulau yang berpenghuni yakni pulau Besar (Kojadete), Dambilah, Sukun Pemana, Palue, Babi, Sukun dan Pangabatang. Pulau Kojadoi memiliki panjang sekitar 300 meter dan lebar seratus meter saja.
Pulau Kojadoi tahun 1990-an terkenal akan petani rumput lautnya. Saat itu warga yang mendiami pulau ini sempat berjaya berkat panenan rumput lautnya yang menghasilkan uang ratusan juta rupiah setahun. Penyakit yang menyerang rumput laut menyebabkan warganya kembali ke titik nol dan hanya satu dua orang saja yang kembali mengembangkan usaha ini.
Dibangun Tentara
Selain terkenal akan hasil rumput lautnya, pulau Kojadoi sangat terkenal berkat jembatan batu sepanjang 680 meter yang menghubungkan dusun Kojagete di daratan sebelah utara dan dusun Kojadoi di pulau Kojadoi di sebelah selatan.
Jembatan dari timbunan batu karang dan batu vulkanik ini sebut Hamusehen, sekertaris desa Kojadoi saat ditanyai Cendana News, Selasa (28/6/2016) dibangun oleh TNI AD di tahun 1979 dengan panjang sekitar 680 meter.
“Dulu awal dibangun lebarnya sekitar satu meter dan tingginya dua meter sehingga saat air pasang jembatan ini terendam air laut dan susah untuk dilewati,”ujar Hamusehen.
Memang awalnya kata Hamusehen tentara yang merintis jembatan ini, namun dalam perjalanan warga masyarakat juga bergotong royong secara swadaya menimbun jembatan ini dengan bebatuan. Bahkan pemerintah kabupaten Sikka tambah Sekdes Kojadoi ini mengucurkan dana dari APBD II senilai 100 juta rupiah di tahun 2014.
Kedalaman jembatan batu tersebut pun terus ditambah hingga mencapai 3 meter dan lebar hingga sekitar 2 meter. Dengan kondisi jembatan seperti ini kata Hamusehen, warga masih bisa melintasi jembatan ini saban hari meski saat air laut sedang pasang.
“Seluruh fasilitas umum seperti Puskesmas, sekolah, pasar dan kantor desa berada di dusun Kojagete di pulau Besar sehingga masyarakat mau tak mau harus melintasi jembatan ini;”ungapnya.
Dari kejauhan saat air laut pasang, jembatan ini terlihat seperti sebuah garis sedikit melengkung yang menghubungkan pulau Kojagete dan Kojadoi. Dua buah bukit batu di utara dan selatan pulau ini terlihat mengapit sepenggal daratan rata di tengahnya.
Nama Pemberian Raja
Dahulunya seluruh pulau Besar (Kojagete) beber Hanawi, kepala desa Kojadoi kepada Cendana News saat menikmati suguhan kue di pondoknya yang beratap ilalang,hanya terdiri atas satu desa bernama desa Kojadoi.
Pusat desa pun lanjutnya, berada di pulau mungil Kojadoi namun setelah pemekaran maka ada dua desa yaitu Kojagete dan desa Kojadoi sehingga pusat desa pun berpindah ke dusun Kojagete.
Desa Kojadoi saat ini beber Hanawi dihuni 448 kepala keluarga dengan 1500 jiwa. Sementara pulau Kojadoi dihuni sekitar 50 rumah yang sebagian besar merupakan rumah panggung berdidinding bambu atau kayu dan beratap seng.
Disaksikan Cendana News, beberapa rumah pangung di sisi timur dan barat pulau ini dibangun di atas laut dan di bawahnya terdapat sampan untuk mobilitas penghuninya.
“Kalau siang hari pulau ini sepi karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Tapi hampir semua kami selain nelayan juga memiliki kebun di pulau Besar dengan komdoiti unggulan Mente,”ungkap Hanawi.
Konon,nama pulau ini merupakan pemberian dari Raja Maumere. Kojadoi berasal dari dua kata dalam Bahasa Maumere, yaitu “Koja” yang berarti Kenari dan “Doi” yang berarti Kecil. Kojadoi berarti pulau Kenari Kecil karena di utaranya terdapat pulau Kojagete, pulau Kenari Besar.
Penghuni Pulau Kojadoi bukan merupakan suku asli Sikka atau flores. Semua penghuni pulau ini merupakan Suku Buton yang beragama Islam dan berasal dari Pulau Buton provinsi Sulawesi Tenggara. Semua laki-laki Kojadoi berprofesi sebagai nelayan sementara para perempuan biasa mencari ikan atau kerang di sekitar pulau dan berladang di Pulau Besar.
Untuk menambah penghasilan sehari-hari,para perempuan melakukan aktifitas menenun. Tak heran kalau siang hari suasana pulau cukup lengang dan hanya terdengar dentingan alat tenun. Disaksikan Mongabay, di hampir semua rumah terlihat para wanita melakukan aktifitas menenun di kolong rumah panggung maupun di dalam rumah.
“Kain-kain tenun ini biasanya kami jual di Maumere dan uangnya digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Paling cepat seminggu kami bisa menghasilkan sebuah kain tenun,”tutur Halimah seorang wanita seraya asyik menenun.
Sering Disambangi Wisatawan
Saat dikatakan tempatnya sangat menarik Hanawi kepala desa Kojadoi mengatakan baru saja rombongan kru televisi swasta dari Jakarta melakukan pengambilan gambar di pulau ini. Hampir setiap hari, ucap Hanawi ada saja wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara yang menyambangi pulau ini.
Selain melintasi jembatan batu vulkanik yang dibangun dari batu karang, pengunjung pun menikmati pemandangan sunrise dari atas bukit batu di sisi utara pulau serta berkeliling bukit di selatan yang ditanami jagung dan ditumbuhi pepohonan.Air laut pun terlihat jernih dengan warna hijau yang menggoda pengunjung menceburkan diri.
Sisa-sisa rerntuhan rumah dan bangunan bekas gempa dan tsunami dahsyar yang menghantam Flores 12 Desember 1992 masih terlihat. Beberapa puing masih dibiarkan tergeletak di pesisir pantai. Lebar tanah rata di pulau ini hanya sekitar 100 meter dan panjang sekitar 250 meter. Hal ini menyebabkan bangunan rumah pun dibuat bertingkat dua dengan konstruksi panggung.
Meski padat, namun terdapat dua jalan semen di pulau mungil ini di sisi timur dan barat masing-masing dengan lebar sekitar 1,5 meter. Juga ada dua gang di perkampungan ini. Yang membuat menarik, pagar rumah penduduknya dibuat dari bambu belah dan di cat warna merah putih.
Terdapat sebuah gedung aula dan sebuah mushola berdidinding tembok yang belum rampung dikerjakan. Mushola ini menjadi satu-satunya rumah ibadah pemghuni pulau yang semuanya beragama Islam.
Perahu nelayan dan bagan terlihat berjejer di sekeliling pulau. Ada satu dua bagan terlihat sedang dikerjakan. Pelabuhan laut La Malino di pulau ini pun sudah dibangun permanen dan masih terlihat baru.
Dengan kedalaman air laut sekitar 3 meter, pelabuhan ini bisa disinggahi kapal penumpang berukuran sedang. Penerangan praktis mengandalkan listrik tenaga surya dan juga generator yang hanya dinyalakan pukul 18.00 wita hingga 22.00 wita.
“Pulau ini tenang dan damai karena tidak ada kendaraan bermotor disini. Sinyal telepon selular pun hanya bisa ditangkap jika berada di bukit atau di dermaga membuat kita masyarakat modern seperti merasa terasing berada disini,”tutur Danlanal Maumere, Kolonel Laut (P) Carmadi.
Dari puncak bukit batu cadas di sisi utara pulau setinggi sekitar 3 meter terhampar panorama menakjubkan. Jembatan Kojadoi terlihat meliuk indah di tengah laut,rumah-rumah penduduk terlihat padat bersusun, bukit batu di ujung timur pulau hingga laut hijau dan biru di sekeliling Pulau Kojadoi membuat mata seakan tak berkedip memandang.
Semuanya menarik untuk dijadikan objek foto. Kojadoi memang indah untuk diabadikan dan bila dikembangkan dan ditata lebih baik tentunya semakin banyak wisatawan yang mencumbui keindahannya.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...