Bus Laut, Transportasi Laut Warga Flotim Lembata

MINGGU, 3 JULI 2016

LARANTUKA — Kapal penumpang atau biasa dinamakan Bus Laut oleh warga masyarakat di kabupaten Flores Timur (Flotim) dan Lembata merupakan angkutan laut yang mulai populer sejak tahun 1990-an.
Pembuatan bis laut ini kebanyakan dikerjakan di Kalimantan dan Sulawesi untuk lantai satunya, lantas dimodifikasi lagi di Lamahala, Adonara dan beberapa daerah lainnya di Flores Timur  hingga menjadi dua lantai.
Sementara untuk yang berukuran kecil kebanyakan saat ini sudah dikerjakan di Flores Timur. Semua kayu yang dipakai merupakan kayu ulin. Saat ini pun sudah banyak kapal tersebut yang dikerjakan di Flores Timur.
Hampir semua bis laut bisa mengangkut penumpang dan barang. Untuk bus laut berukuran besar, sekali perjalanan bisa mengangkut seratus bahkan dua ratusan penumpang untuk tujuan pelabuhan laut Larantuka – Waiwerang di pulau Adonara dan Larantuka – Lewoleba di pulau Lembata pulang pergi.
Bus laut berukuran kecil biasanya melayani pelayaran dengan waktu tempuh 30 menit hingga sejam melayani rute pelabuhan laut Larantuka  – Wailebe serta Tobilota di pulau Adonara dan Larantuka – Pamakayo dn Ritaebang serta pelabuhan laut lainnya di pulau Solor.
Selain mengangkut penumpang, bus laut juga mengangkut barang dan juga sepeda motor serta mobil. Untuk mobil biasanya hanya satu mobil dan pengangkutannya memperhitungkan pasang surutnya air laut agar mobil bisa dinaikan ke bagian depan kapal motor tersebut.
“Biasanya hanya kapal motor berukuran besar saja yang mengangkut mobil sementara sepeda motor hampir semua bus laut mengangkutnya disesuaikan dengan daya angkut kapal,” ujar Firmansyah seorang anak buah kapal saat dijumpai Cendana News,Minggu (26/7/2016).
Bus laut lazimnya terdiri dari dua lantai dengan tempat deretan bangku kayu sebagai tempat duduk di dua lantainya. Selain itu banyak bus laut yang juga dilengkapi dengan fasilitas televisi untuk memutar video dan juga pemutar musik.
Bus – bus laut ini menawarkan ongkos terjangkau sesuai jarak berkisar antara 20 ribu hingga 100 ribu rupiah. Untuk sepeda motor biasanya dikenakan tarif sama dengan satu orang penumpang.
“Biasanya kapal jurusan Larantuka – Lewoleba biasanya sehari hanya pergi dan pulang saja sementara untuk Larantuka-Waiwerang maupun ke Solor ada yang dua kali pulang pergi dalam sehari,” ungkapnya.
Transportasi Utama
Bagi Masyarakat Flores Timur dan Lembata, bis laut merupakan transportasi utama antar pulau yang paling digemari masyarakat.Selain sebagai angkutan penumpang yang menghubungi pulau Flores (Flores Timur daratan), Adonara, Solor dan Lembata, bis laut juga jadi andalan masyarakat dan pengusaha lokal mendroping aneka barang kebutuhan.
Ketergantungan masyarakat terlihat dari membludaknya penumpang dan barang yang diangkut kapal motor ini. Ketika disambangi Cendana News, terlihat puluhan bis laut dari ukuran kecil yang melayani rute Larantuka-Solor, Larantuka –Waiwadan, Larantuka–Tobilota (di pualu Adonara) sedang bersandara di dermaga Larantuka.
Juga tampak bus laut ukuran sedang dan besar dengan rute Larantuka menuju Waiwerang (di pulau Adonara) dan Lewoleba (ibukota kabupaten Lembata) bersandar di dermaga larantuka.
Aktifitas bongkar muat barang rami terjadi. Puluhan buruh terlihat mengangkut barang dari truck–truck dan di pindahkan ke atas bis laut. Puluhan bus laut ini berlayar melintasi derasnya arus melayani rute tersebut pergi pulang.
Samsudin Atapukan, seorang nahkoda kapal motor Arkona, bis laut terbesar tujuan Waiwerang–Larantuka pulang pergi menyebutkan,ampir semua bis laut ukuran besar bisa mengangkut penumpang dalam jumlah ratusan serta barang dalam jumlah besar.
Bis laut Arkona yang memiliki panjang 33 meter, lebar 6,5 meter dan tinggi 7 meter menurut Samsudin, ditopang mesin 12 silinder berkekuatan 500 PK. Bis laut ini memiliki 300 seat dan bisa mengangkut 40 sepeda motor bahkan bisa mengangkut sebuah mobil pick up dan dump truck.
“ Sering juga bawa mobil. Dalam sebulan bisa empat sampai lima kali. Kalau muat mobil kami harus sesuaikan tinggi kapal dengan dermaga sejajar sehingga kami harus butuh waktu menunggu air laut pasang dan surut untuk menaikan dan menurunkan mobil,“ sebutnya.
Tarif busa laut pun terjangkau. Larantuka-Waiwerang selama 1,5 jam hanya merogoh kocek 20 ribu rupiah. Sementara Larantuka-Lewoleba dengan waktu tempuh 3 jam, 30 ribu rupiah. Tarif sepeda motor pun sama dengan tarif penumpang.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...