Tradisi Pa’Sande dan Pa’Waimata, Perekat Persaudaraan Warisan Leluhur Tator

JUMAT, 15 JULI 2016

JAKARTA — Bagi masyarakat Tana Toraja (Tator), keluarga adalah kelompok sosial yang utama dalam segala hal. BUkan sebatas keluarga sedarah saja, akan tetapi sebuah desa beserta seluruh elemen didalamnya bisa menjadi satu keluarga besar. Perekat dari semuanya adalah para tetua atau pemangku adat yang menempati setiap Tongkonan (rumah adat Toraja) di desa tersebut.

Tomakula, tempat menaruh jenazah dalam adat Toraja dimana saat inilah terjadi tradisi Pa’Waimata dan Pa’Sande
Dalam susah dan senang maka jika sudah menjadi keluarga besar haruslah dihadapi bersama. Wujud nyata yang nampak jelas dari bagaimana masyarakat Tator menjaga jalinan hubungan kekeluargaan diantara mereka dapat dicermati dalam pernikahan dengan kerabat jauh dan kedukaan.
Pernikahan dengan kerabat jauh maksudnya adalah sebuah keluarga suku Toraja menikahkan anggota keluarga mereka dengan sepupu jauh yang dalam silsilah hanya berlaku bagi sepupu keempat dan seterusnya. Hal ini bertujuan agar hubungan kekerabatan bisa terjalin terus tanpa terputus oleh sesuatu hal apapun serta dapat terjaga azas kekerabatan timbal balik dalam hal saling berbagi dan tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam pekerjaan, ritual, bahkan sampai dalam hal hutang piutang.
Dalam konteks kedukaan, masyarakat Tator memiliki khasanah budaya tersendiri yang cukup menarik untuk diketahui. Secara umum, kedukaan atas seseorang yang meninggal biasanya dimaknai sebagai sebuah kepulangan manusia kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi umum yang dilakukan diawali dengan menyemayamkan jenazah di rumah duka terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan keluarga, teman, serta handai taulan untuk menyaksikan almarhum/almarhumah untuk yang terakhir kali. Setelah itu, tanpa menunggu waktu lama maka pemakaman segera dilakukan. Setelah melewati dua hal tersebut, pihak keluarga yang berduka akan melakukan prosesi keagamaan (sesuai agama yang dianut) untuk memperingati orang yang meninggal melalui pengadaan acara tiga harian, tujuh harian, sampai empat puluh harian.
Di Tana Toraja Tator), sebuah peristiwa kedukaan selain memiliki makna umum proses berpulangnya manusia kepada Sang Pencipta, juga dimaknai secara lebih mendalam sebagai waktu yang tepat untuk merekatkan seluruh keluarga besar dari seluruh pelosok Toraja, nusantara, bahkan kalau perlu dari luar negeri sekalipun.
Dalam adat Toraja, jenazah bisa disemayamkan sampai bertahun-tahun untuk menunggu kedatangan keluarga yang belum bisa datang untuk melayat. Ada 2 (dua) hal yang menjadi alasan penundaan pemakaman, pertama adalah masih ada pihak keluarga di luar kota atau luar negeri yang belum bisa hadir karena alasan tertentu. Kedua adalah pihak keluarga yang berduka belum memiliki biaya untuk prosesi upacara adat pemakaman. 
Mengacu pada hal biaya untuk prosesi upacara adat pemakaman, biaya pemakaman secara adat di Tator terbilang cukup tinggi. Oleh karena itu butuh peran serta dari seluruh keluarga besar (dimanapun berada) untuk saling membantu dalam bentuk materi maupun kebutuhan pemakaman lainnya. Sehingga, jika seorang anggota keluarga datang melayat ke rumah duka, maka ia harus membawa sesuatu dengan tujuan untuk meringankan beban keluarga yang sedang berduka baik itu untuk keperluan pemakaman maupun keperluan lainnya.
Megawati Tasiksilomba Arruanlinggi,SS, pemandu wisata rumah adat Tongkonan Toraja di Anjungan Sulawesi selatan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta menjelaskan bahwa ada dua kategori wujud peran serta keluarga maupun teman-teman dekat dalam prosesi pemakaman adat Toraja, yaitu Pa’Waimata dan Pa’Sande.
” Pa’Waimata adalah wujud peran serta keluarga yang didasari oleh rasa duka mendalam sehingga tidak mengharapkan balasan apa-apa dari keluarga yang berduka sampai kapanpun walau suatu saat ia mengalami hal kedukaan yang sama. Sedangkan Pa’Sande adalah wujud partisipasi seseorang atau keluarga kepada yang berduka namun mengharapkan balasan yang sama suatu saat nanti,” jelas Megawati.
Dalam tradisi Pa’Sande, balasan yang dimaksudkan adalah jika suatu saat terjadi kedukaan dari pihak keluarga yang pernah melakukan Pa’Sande maka diharapkan partisipasi yang sama dari keluarga yang pernah menerima Pa’Sande dari mereka. Akan tetapi, semua terpulang kepada masing-masing pribadi manusia, karena seringkali keluarga yang pernah menerima Pa’Waimata akan melakukan hal yang sama kepada pihak keluarga yang pernah memberikan Pa’Waimata kepada mereka, walaupun sebenarnya itu tidak perlu dilakukan karena dalam tradisi Pa’Waimata tidak membutuhkan balas apapun kedepannya. Akan tetapi dalam praktek secara nyata hal tersebut terjadi.
” hal ini semakin menambah khasanah nuansa kekeluargaan diantara keluarga besar dalam tatanan kekerabatan masyarakat Tator,” tambah Megawati.
Selain untuk membantu sesama keluarga dalam peristiwa kedukaan, tradisi Pa’Waimata dan Pa’Sande juga turut menjalin tali pengikat baru antara keluarga yang tidak saling mengenal. Maksudnya adalah, kerap pihak yang mengalami kedukaan tidak menyadari bahwa mereka memiliki keluarga besar yang tersebar di tempat lain. Sehingga pada saat acara kedukaan berlangsung khususnya saat terjadinya tradisi Pa’Sande dan Pa’Waimata itulah semua keluarga berkumpul, saling mengenal dan mempelajari silsilah keluarga untuk kemudian bersama-sama menemukan garis hubungan darah yang ada diantara mereka.
Megawati Tasiksilomba Arruanlinggi,SS, Pemandu wisata budaya Rumah adat Tongkonan Toraja, Anjungan Sulawesi selatan TMII (batik merah)
” Oleh karena itu, saat terjadi tradisi Pa’Waimata dan Pa’Sande maka pihak keluarga yang berduka akan menunjuk seorang anggota keluarga mereka untuk melakukan sebuah tugas khusus berupa mencatat siapa saja anggota keluarga yang melakukan Pa’Sande dan Pa’Waimata,” terang Megawati lagi.
” Jika yang diterima adalah Pa’Sande, maka orang yang mencatat akan mengingatkan kepada pihak keluarga bahwa mereka memiliki kewajiban Pa’Sande juga kedepannya kepada keluarga yang melakukan Pa’Sande,” pungkas Megawati.
Dari dua tradisi tersebut diatas bukan sisi hutang-piutang yang diketengahkan, akan tetapi mengingatkan kepada manusia bahwa saling mendukung di saat susah dan senang adalah sangat penting untuk dilakukan. Apalagi sampai melibatkan seluruh keluarga sekaligus menyatukan keluarga yang tidak saling mengenal kedalam satu lingkaran besar. Inilah makna sebenarnya dari tradisi Pa’Waimata dan Pa’Sande, yaitu mempererat, menyatukan, sekaligus mengetahui seluruh elemen keluarga dimanapun mereka berada.
” tergantung cara orang menilai, tapi inilah tradisi dan cara kami di Tana Toraja dalam mempererat tali persatuan kami. Namun perkembangannya ternyata bukan sebatas antara kami saja, akan tetapi turut meluas kepada orang lain. Contohnya jika ada teman dekat (bukan orang Toraja) yang pernah melakukan Pa’Sande atau Pa’Waimata kepada seorang Toraja maka jika orang tersebut mengalami kedukaan atau kesulitan lain, maka Toraja tersebut akan mengingat budi baiknya sehingga turut berkontribusi memberikan bantuan baik secara resmi maupun tanpa diketahui oleh orang tersebut,” tutur Megawati lagi.
” Bagi seorang Toraja keluarga itu penting dan diatas segalanya, baik itu sesama keluarga maupun teman yang menjadi keluarga. Oleh sebab itu, tidak salah jika dikatakan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Pa’Waimata dan Pa’Sande, adalah sebagai perekat persaudaraan,” Megawati menutup pembicaraan dengan Cendana News.(Miechell Koagouw)
Lihat juga...